Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah pertunjukan budaya tidak berhenti pada keinginan untuk memperlihatkan betapa kayanya Indonesia, tetapi mencoba menerjemahkannya menjadi sebuah cerita yang bisa dirasakan. Itulah yang terasa ketika Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya 2026 kembali hadir, kali ini melalui “Hikayat Srikandi Nusantara”.
Indonesia Arena malam itu tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan. Ruang besar tersebut berubah mengikuti perjalanan cerita, dari panggung yang dipenuhi ratusan penari hingga adegan yang tiba-tiba terasa intim ketika perhatian penonton diarahkan kepada satu karakter. Musik bergerak dari bunyi-bunyian tradisional Nusantara menuju orkestra, paduan suara, band, hingga lagu-lagu populer. Sementara itu, busana, tata cahaya, visual, dan teknologi panggung bekerja dalam satu ritme untuk membawa penonton dari satu babak ke babak berikutnya.

Memasuki tahun kelima, Pagelaran Sabang Merauke yang dipentaskan di Indonesia Arena, GBK Senayan, pada Jumat, 21 Agustus 2026 ini memang terasa semakin besar. Namun, yang menarik bukan semata skalanya. Di balik kemegahan tersebut, ada upaya untuk menjadikan seluruh elemen pertunjukan sebagai bagian dari sebuah perjalanan cerita tentang keberanian, keteguhan, pengorbanan, cinta, dan pencarian jati diri melalui sosok Srikandi.
Melibatkan Sekitar 1.700 Pelaku Seni dan Tim Produksi
Besarnya produksi Hikayat Srikandi Nusantara terlihat dari jumlah orang yang berada di baliknya. Sekitar 1.700 pelaku seni, pekerja kreatif, dan tim produksi terlibat untuk menghidupkan pertunjukan ini.
Sebanyak 387 penari membawakan 104 koreografi karya 11 tim koreografer, ditemani 15 penyanyi nasional dan satu grup band, 119 anggota paduan suara, serta 60 musisi orkestra. Identitas musikal Nusantara juga hadir melalui 50 alat musik tradisional, sementara lebih dari 1.500 kostum tradisional, kontemporer, dan etnik melibatkan 16 desainer.

Angka-angka tersebut memang terdengar besar, tetapi baru terasa maknanya ketika seluruh elemen itu hadir bersamaan di atas panggung. Ratusan orang bergerak dalam formasi, suara paduan suara memenuhi arena, kostum berganti mengikuti cerita, dan cahaya mengubah atmosfer dalam hitungan detik.
Bagi F. Aming Santoso, Presiden Direktur dan CEO iForte & Protelindo Group, perjalanan Pagelaran Sabang Merauke selama lima tahun menjadi bukti bahwa pertunjukan sebesar ini hanya bisa tumbuh melalui kolaborasi. “Saya telah mengikuti perjalanan Pagelaran Sabang Merauke sejak lahir pada Maret 2022. Saya dan Bu Silvi tidak pernah menyangka kita bisa terus berjalan selama lima tahun. Tiap tahun kita selalu bisa menjadi lebih baik, dan itu karena semua yang terlibat di dalam pagelaran ini,” ujarnya.

Sementara itu, bagi Rusmedie Agus, Sutradara PSM, panggung tetap memiliki sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya diprediksi selama proses latihan. “Apa yang kita latih di tempat latihan itu hanyalah modal. Di atas panggung, semuanya tumbuh, hidup, dan berkembang bersama energi seluruh penonton yang hadir di Indonesia Arena. Walaupun pertunjukannya sama, rasanya akan terus bertambah dalam setiap harinya,” katanya.
Raisa Memerankan Srikandi
Di antara sejumlah nama yang hadir tahun ini, Raisa Andriana membawa dimensi baru dalam pertunjukan. Untuk pertama kalinya bergabung dengan Pagelaran Sabang Merauke, Raisa tidak datang hanya sebagai penyanyi. Ia memerankan Srikandi, menjalani karakter melalui dialog, akting, blocking, interaksi dengan pemain lain, hingga sejumlah elemen gerak dan tari.

Peran tersebut juga membuat lagu “Cahaya Hati” mendapatkan konteks yang berbeda. Lagu yang sebelumnya diperkenalkan melalui sesi latihan musik kini menjadi bagian dari perjalanan Srikandi, sehingga kehadirannya terasa lebih personal dan menyatu dengan cerita.
Bagi Raisa, pengalaman tersebut menjadi sebuah titik baru dalam perjalanan kariernya. “Aku merasa hari ini akhirnya pecah telur juga jadi Srikandi. Aku senang karena bisa mengemban message yang begitu berat tapi juga begitu penting. Ketika dialog Srikandi aku utarakan, penonton benar-benar tepuk tangannya pakai hati karena message-nya diterima,” ujar Raisa.

Ada perbedaan besar antara menyanyikan sebuah lagu dan membawa karakter ke dalam kehidupan. Di Hikayat Srikandi Nusantara, Raisa berada di wilayah kedua. Srikandi bukan hanya sosok yang tampil di panggung, tetapi karakter yang harus memiliki emosi, hubungan, dan perjalanan.
Yura Yunita dan Aksi Naga Tiga Kepala
Kalau Raisa menghadirkan sisi teatrikal yang lebih personal, Yura Yunita kembali menjadi salah satu sumber kejutan visual dalam Pagelaran Sabang Merauke. Tahun ini merupakan keterlibatan ketiganya, dan tantangan yang diberikan kepadanya kembali meningkat.
Pada tahun pertama, Yura turun dari bagian atas Indonesia Arena menggunakan sling. Tahun berikutnya, ia tampil di atas naga yang menyemburkan asap. Kali ini, sebagai Mahadewi, Yura muncul di atas naga berukuran jauh lebih besar dengan tiga kepala yang menyemburkan asap.

Adegan tersebut menjadi salah satu momen yang paling mencuri perhatian, tetapi di balik spectacle tersebut terdapat persiapan teknis yang tidak sederhana. “Ini tahun ketiga aku terlibat dan terus diberi tantangan. Scene Mahadewi kali ini adalah part yang paling menantang. Dalam hitungan detik aku harus berpindah dari lantai atas ke bawah, bahkan naik motor di tengah show. Mikirin safety dan teknisnya luar biasa, dan persiapannya benar-benar berbulan-bulan,” kata Yura.
Kostum Mahadewi yang dirancang Ade Chan juga memiliki cerita tersendiri. Yura mengungkapkan bahwa proses pembuatannya diwarnai pengalaman yang oleh tim dimaknai secara magis, termasuk cerita para penjahit hingga ketika kostum tersebut dipamerkan di Singapura. “Di balik kostum Mahadewi itu banyak cerita magis. Buat aku, kemunculan-kemunculan itu terasa dalam hal yang indah, seperti dikasih ijin untuk memakai bajunya dan memerankan Mahadewi,” ujar Yura.
Kolaborasi Lintas Generasi
Keragaman menjadi salah satu karakter kuat Pagelaran Sabang Merauke. Tahun ini, Raisa dan Yura tampil bersama PADI Reborn, Indra Bekti, Mirabeth Sonia, Pradja Larasati, Christine Tambunan, Taufan Purbo, Risang Janur Wendo, Nino Prabowo, dan Galabby Thahira, serta sejumlah penyanyi dan pelakon lainnya.
Pertemuan lintas generasi tersebut juga terasa dalam musik. Sebanyak 28 lagu daerah dan nasional dirangkai dalam sebuah perjalanan musikal yang bergerak bebas antara tradisi dan masa kini. Musik tradisional bertemu dengan orkestra, paduan suara, band, dan musik populer tanpa terasa seperti bagian-bagian yang terpisah.

Di bawah arahan Elwin Hendrijanto, Pengarah Musik PSM, dua tema utama, “Lantunan Satu Bangsa” dan “Cahaya Hati”, menjadi benang merah yang mengikat perjalanan musik sepanjang pertunjukan.
“Menurut saya Pagelaran Sabang Merauke adalah salah satu pagelaran yang paling ber-Bhinneka Tunggal Ika. Semua elemen bukan hanya gotong royong bekerja sama antar-departemen, tapi juga saling menginspirasi. Hari ini musiknya akhirnya lengkap karena setelah lagu selesai, ada reaksi penonton yang melengkapinya,” ujar Elwin.
Sebanyak 60 musisi orkestra dan 119 anggota paduan suara berada di bawah arahan Avip Priatna, sementara Dunung Basuki mengarahkan penggunaan 50 alat musik tradisional. Instrumen-instrumen tersebut tidak diletakkan sekadar sebagai simbol identitas budaya. Dalam beberapa bagian, bunyinya menjadi aksen yang memperkaya aransemen, sementara di bagian lain justru mengambil peran utama.
387 Penari dan 104 Koreografi
Ratusan penari menjadi salah satu kekuatan visual yang paling terasa sepanjang pertunjukan. Namun, tantangannya bukan sekadar membuat panggung terlihat penuh.
Di bawah arahan Sandhidea Cahyo, Koreografer Utama PSM, bersama 11 tim koreografer, 387 penari harus bergerak dalam formasi yang kompleks, berganti layer, menciptakan dinamika kelompok, sekaligus berinteraksi dengan karakter lain tanpa kehilangan alur cerita.

Sebanyak 104 koreografi akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian tarian, tetapi menjadi bahasa visual yang membantu menerjemahkan emosi dan perjalanan cerita. Ada saat ketika ratusan penari bergerak sebagai satu tubuh besar, kemudian terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil ketika narasi membutuhkan ruang yang lebih personal.
Lebih dari 1.500 Kostum Nusantara
Salah satu hal yang membuat Hikayat Srikandi Nusantara begitu kaya secara visual adalah keberagaman kostumnya. Lebih dari 1.500 kostum digunakan sepanjang pertunjukan dengan melibatkan 16 desainer.
Di bawah arahan Priyo Oktaviano, Perancang Busana Utama PSM, kostum dirancang dengan mempertimbangkan lebih dari sekadar penampilan karakter. Warna, siluet, tekstur, pencahayaan, koreografi, hingga posisi ratusan performer harus diperhitungkan secara bersamaan.

Hasilnya adalah sebuah lanskap visual yang terus berubah. Kostum menjadi bagian dari cerita, sekaligus menghadirkan kembali berbagai kekayaan estetika Nusantara dalam bahasa yang terasa lebih kontemporer.
Teknologi Mendukung Cerita
Menghidupkan cerita di ruang sebesar Indonesia Arena tentu bukan perkara sederhana. Namun, menariknya, teknologi dalam pertunjukan ini tidak dibuat untuk mengambil alih perhatian.
Iskandar Loedin, Penata Panggung PSM, merancang ruang yang dapat berubah sesuai kebutuhan cerita. Ada adegan ketika seluruh arena terasa terbuka dan megah, tetapi ada pula saat ruang justru dipersempit secara visual agar perhatian penonton hanya tertuju kepada satu karakter.
Di balik perubahan tersebut, Ezar PD, Direktur Teknis PSM, mengintegrasikan tata cahaya, visual, perubahan panggung, musik, dan pergerakan ratusan performer melalui rangkaian cue yang berjalan tanpa terputus.
Teknologi akhirnya bekerja seperti sinematografi dalam sebuah film. Ia tidak selalu meminta untuk dilihat, tetapi membantu menentukan apa yang harus dirasakan penonton pada satu momen tertentu.
Lima Tahun Pagelaran Sabang Merauke
Setelah lima tahun, mungkin inilah yang paling menarik dari perjalanan Pagelaran Sabang Merauke. Pertunjukan ini memang semakin besar, tetapi ambisinya tidak berhenti pada membuat panggung yang lebih megah dari tahun sebelumnya.
Yang terus berkembang adalah cara untuk menceritakan Indonesia.
Tradisi bertemu dengan teknologi. Musik daerah berdampingan dengan orkestra dan pop. Penari dari berbagai latar bergerak dalam satu koreografi. Para penyanyi lintas generasi berbagi panggung. Busana Nusantara diterjemahkan kembali ke dalam sebuah pertunjukan kontemporer.

Semua itu terasa seperti gambaran kecil tentang Indonesia sendiri, sebuah tempat di mana begitu banyak perbedaan bisa hidup berdampingan ketika ada ruang untuk saling mendengarkan.
Bagi F. Aming Santoso, semangat tersebut memang menjadi salah satu tujuan utama Pagelaran Sabang Merauke. “Arah dari Pagelaran Sabang Merauke ini adalah menyalurkan energi positif kepada para penonton, betapa Indonesia ini negara yang luar biasa, penuh keberagaman, dan itu menunjukkan kekuatan bangsa Indonesia. Pagelaran ini dibuat dengan cara yang sangat Indonesia, penuh gotong royong, kekeluargaan, toleransi, saling menunggu, dan empati agar masyarakat jatuh cinta dengan kesenian dan budaya kita sendiri,” tambahnya.
Pandangan serupa datang dari Antonius Widodo Mulyono, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang melihat budaya sebagai sesuatu yang tidak cukup hanya diwariskan. “BCA sendiri sudah lama bersentuhan dengan budaya, jadi ketika Pak Aming mengajak kami mendukung Pagelaran Sabang Merauke, itu langsung klik. Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tapi harus dirawat, bahkan dikembangkan, supaya ekonominya juga bisa turut tumbuh,” ujarnya.
Pada akhirnya, Hikayat Srikandi Nusantara bukan sekadar pertunjukan tentang masa lalu. Ia adalah cara untuk melihat kembali siapa kita melalui bahasa panggung yang terasa dekat dengan hari ini.
Di tengah gemerlap cahaya, musik, ribuan kostum, dan ratusan performer, pesan yang dibawa Srikandi justru terasa sederhana: “Yang paling penting adalah terus menjadi versi terbaik dirimu.”
Mungkin itulah inti dari perjalanan ini. Menjadi modern tanpa kehilangan akar, bergerak maju tanpa melupakan dari mana kita berasal, dan terus mengenal budaya yang membentuk identitas kita. Sebab pada akhirnya, Indonesia bukan hanya sesuatu yang kita warisi. Indonesia adalah sesuatu yang terus kita hidupkan.

