Pererenan tidak hanya menjadi kawasan yang berkembang pesat di Bali, tetapi juga ruang pertemuan antara kehidupan lokal, kreativitas, dan budaya kontemporer. Selama tiga hari, 21–23 Agustus 2026, Mereren Festival 2026 mengajak publik membaca kembali identitas kawasan pesisir ini melalui budaya, percakapan kreatif, musik, wellness, kuliner, seni, hingga kolaborasi dengan komunitas. Berlangsung di Noema Resort Pererenan, Pantai Pererenan, dan berbagai titik di lingkungan sekitarnya, festival ini mengusung tema Sasmita Samudra: The Sign of the Sea.

Wind, Wave, and Neighborhood
Tema tersebut diterjemahkan melalui tiga gagasan utama: Wind, Wave, and Neighborhood. Setiap hari memiliki arah pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya bertemu dalam satu pemahaman bahwa sebuah tempat tidak dibentuk oleh lanskap semata. Angin, ombak, manusia, tradisi, usaha lokal, dan ingatan kolektif ikut membangun karakter Pererenan yang hari ini semakin dikenal sebagai salah satu kawasan kreatif di Bali.

Ikut Arus
Hari pertama, Jumat, 21 Agustus, dibuka dengan tema WIND: Where the journey begins. Festival Kick-off & Rise Run Anniversary menjadi penanda awal melalui aktivitas yang mempertemukan komunitas lewat gerak dan energi bersama. Setelah itu, program budaya dan kreatif mulai mengisi hari, termasuk BICARA Talks #1: Following the Tide: Through the Frame, yang membahas perubahan pariwisata Bali dari masa ke masa serta peran komunitas, kreativitas, dan industri hospitality dalam membentuk destinasi-destinasi baru.

Lanskap dan Identitas Bali
Percakapan tersebut menghadirkan Gung Ama dan Dr. Bayu Pramana Ssn., Msn., dengan perhatian pada perubahan lanskap serta identitas Bali. Pererenan menjadi salah satu titik penting dalam pembahasan itu: sebuah kawasan yang sedang bertumbuh, tetapi masih memiliki cerita sosial dan budaya yang perlu terus dipahami. Program ini menempatkan festival bukan hanya sebagai ruang hiburan, melainkan juga sebagai forum untuk melihat bagaimana sebuah destinasi berkembang dan siapa saja yang ikut menentukan arahnya.

Pasar Pererenan
Suasana festival kemudian bergerak ke Pasar Pererenan bersama Diwagraya dan program musik Wax in the Lobby: Arrival Sounds bersama Archie. Menjelang senja, Mereren Festival secara resmi dibuka melalui Opening Ceremony: The Wind Awakens, yang menampilkan Bumi Bajra, Bale Ganjur, dan simbolik First Flight oleh Kadek Armika. Malam dilanjutkan dengan Dinner Under the Kite: The Sky Feast, pengalaman makan terbuka yang dikurasi Chef Dom Tropical, ditemani penampilan Orasare dan Lamented Laughter serta sesi live painting oleh Sastia Naresvari.

WAVE: Move with the rhythm
Sabtu, 22 Agustus, festival memasuki tema WAVE: Move with the rhythm. Hari dimulai dengan Sunrise Meditation bersama The Path, menawarkan jeda sebelum rangkaian kegiatan berlangsung lebih padat. Salah satu agenda pentingnya adalah BICARA Talks #2: Beyond Waste: Creating Tomorrow Together, yang mengajak publik membahas keberlanjutan sebagai praktik sehari-hari, bukan sekadar istilah yang terdengar baik dalam kampanye.

Pemikiran Sirkular
Diskusi ini menghadirkan Fabian Peri dari su-re.co, Rony “Onik” Rahardian dari Rebellionik, serta Seven Clean Seas. Fokusnya meliputi penerapan pemikiran sirkular dalam hospitality, desain, bisnis, dan inisiatif komunitas. Dengan pendekatan yang dekat pada praktik, percakapan ini mencoba mempertemukan gagasan besar tentang lingkungan dengan tindakan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Coastlines After Dark
Energi kreatif Pererenan berlanjut melalui Pasar Pererenan bersama FLOYD dan Wax in the Lobby: Vinyl Afternoon bersama ZOOT. Pada malam hari, salah satu program musik utama festival, Live at Mamaloma: Coastlines After Dark, menghadirkan grup elektronik asal Perancis, Télépopmusik, bersama FAKTTA dan ZOOT. Pertemuan musik elektronik dan suasana pesisir menjadi salah satu wajah Mereren Festival 2026 yang menunjukkan bagaimana Bali dapat menjadi ruang perjumpaan antara identitas lokal dan bunyi global.

Festival Layang-Layang
Selama tiga hari, pengunjung juga dapat mengikuti Kite Festival & Showcase yang dikurasi Kadek Armika & friends. Program ini menghadirkan workshop pembuatan layang-layang di pantai sekaligus merayakan tradisi layang-layang Bali sebagai bagian dari warisan visual dan budaya. Puncaknya adalah Kite Competition pada 23 Agustus yang digelar bersama MMS atau Mah Mah Super Pererenan, komunitas layang-layang yang berakar di kawasan tersebut. Berbagai aktivitas di bawah program Cultural Lab juga membuka pengalaman langsung, mulai dari membuat dupa, motif batik tradisional, sabun alami, upcycling, watchmaking, melukis tanah liat berglasir, cyanotype, pinhole photography, tari, hingga wellness.

Closing Ceremony: The Wind Returns Home
Minggu, 23 Agustus, menjadi penutup perjalanan Wind, Wave, and Neighborhood. Program budaya menghadirkan pertunjukan Putu Septa × Wayang Lemah, kemudian Wax in the Lobby: Last Spin bersama Marvel. Menjelang malam, Closing Ceremony: The Wind Returns Home menghadirkan pengumuman kompetisi layang-layang dan pertunjukan Kecak Api. Perjalanan festival kemudian berlanjut dalam suasana yang lebih santai lewat Smokin’ Sunday at Paparempa: One Last Sunset, sebuah pertemuan komunitas yang memadukan Yard BBQ Social, musik dari HOPE Records, FAKTTA, dan Greybox, serta tradisi sederhana berbagi meja dan menikmati sore terakhir bersama.

Mereren Passport
Pengalaman Mereren Festival juga melampaui panggung utama. Melalui Mereren Passport, pengunjung diajak menjelajahi berbagai mitra di Pererenan, termasuk Shelter, Fuego, dan 7AM/7PM. Sementara itu, Noema Resort Pererenan memperkenalkan House of Noema (HON), ruang kreatif dan curated store pertamanya yang menjadi tempat pertemuan berbagai objek, produk, dan kolaborasi. Festival juga membuka kompetisi fotografi Through the Eyes of Pererenan pada 21–25 Agustus 2026, mengajak peserta menangkap wajah kawasan melalui perspektif personal.

Neighborhood Street & Beach Clean-Up
Komitmen terhadap Pererenan tidak berhenti ketika musik terakhir selesai dimainkan. Pada 24 Agustus 2026, Mereren melanjutkan program dengan Neighborhood Street & Beach Clean-Up bersama Seven Clean Seas, Bintang Beer, dan para kolaborator lingkungan. Pesan yang dibawa sederhana, tetapi relevan: merayakan sebuah tempat juga berarti merawatnya. Dari angin yang menggerakkan layang-layang, ombak yang membentuk garis pantai, hingga manusia yang menjaga kehidupan sehari-hari di sekitarnya, Mereren Festival 2026 menempatkan Pererenan sebagai sebuah cerita yang terus bergerak—dan mengajak setiap pengunjung menjadi bagian dari cerita tersebut.



