Di tengah percakapan global tentang keberlanjutan yang semakin mendesak, ASHTA District 8 menghadirkan ARTCYCLE, sebuah program kurasi yang menempatkan material sebagai narasi utama. Berlangsung pada 20 April hingga 17 Mei 2026 di area Melting Pot, ARTCYCLE mengusung tema EARTHFORM, sebuah eksplorasi tentang bagaimana benda yang kerap terabaikan menemukan kembali maknanya dalam bentuk yang lebih reflektif dan estetis.

EARTHFORM lebih dari sekadar tema
EARTHFORM tidak sekadar menjadi tema, melainkan pendekatan yang merangkul pertemuan antara brand berkelanjutan dan seniman visual kontemporer. Plastik daur ulang, tekstil sisa, hingga material berbasis hayati diperlakukan bukan sebagai sisa, tetapi sebagai medium yang memiliki potensi artistik. Di tangan para kreator, material tersebut mengalami transformasi yang tidak hanya visual, tetapi juga konseptual, membuka ruang dialog baru antara seni, desain, dan tanggung jawab ekologis.


Dimensi Tak Kasat Mata
Dalam lanskap ini, ARTCYCLE membangun pengalaman yang imersif. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan bagaimana limbah dapat berevolusi menjadi bentuk yang memiliki nilai baru. Ada dimensi tak kasatmata yang ikut bekerja, di mana kesadaran perlahan tumbuh melalui interaksi langsung dengan karya. Pameran ini terasa seperti sebuah perjalanan batin yang halus, membawa audiens untuk meninjau ulang relasi personal mereka dengan konsumsi dan sisa yang ditinggalkan.

Komitmen ASHTA District 8
Leonardo Slatter, Sr. Manager Marketing Communications ASHTA District 8, menegaskan bahwa ARTCYCLE merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk menghadirkan program yang relevan secara kreatif sekaligus berdampak. Pernyataan ini terasa penting, karena di balik estetika yang ditampilkan, terdapat upaya serius untuk membangun kesadaran kolektif yang lebih luas mengenai keberlanjutan dan kolaborasi lintas disiplin.

ARTCYCLE
Kolaborasi menjadi denyut utama dalam ARTCYCLE. Nama-nama seperti Aharimu bersama Chop Value, Alphabad dengan Rebricks, Gula dengan norm:al: living, hingga Lala Bohang bersama Pable menghadirkan interpretasi yang beragam. Setiap proyek bergerak di spektrum yang berbeda, dari objek fungsional hingga karya artistik yang lebih eksperimental, namun semuanya bertemu dalam satu prinsip yang sama: circular design sebagai fondasi masa depan.

Dukungan dan Keberlanjutan
Dukungan dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation memperkuat narasi ini. Melalui lima pilar keberlanjutan yang mereka usung, fokus terhadap pengelolaan sampah organik menjadi salah satu kontribusi nyata yang sejalan dengan semangat ARTCYCLE. Kolaborasi ini tidak terasa sebagai tambahan, melainkan sebagai simpul yang memperkaya ekosistem program secara keseluruhan.


Inisiatif Liberty Society dan MOP Beauty
Salah satu bagian paling reflektif hadir melalui Journey into Sustainability, inisiatif dari Liberty Society bersama MOP Beauty. Dengan pendekatan visual yang kuat, program ini membawa pengunjung menelusuri perjalanan limbah hingga ke Bantar Gebang, sebuah ruang yang sering kali terlupakan dalam siklus konsumsi. Instalasi berbahan Tyvek yang terinspirasi dari lanskap tersebut menciptakan pengalaman yang nyaris puitis, mengubah realitas yang keras menjadi refleksi yang mengendap.
Ruang Interaktif
Ruang interaktif seperti Upcycled Museum, Repair Station, hingga Tree of Hope memperluas pengalaman ini menjadi partisipatif. Di sini, publik tidak lagi menjadi penonton pasif, melainkan bagian dari proses transformasi itu sendiri. ARTCYCLE, pada akhirnya, bukan hanya tentang objek yang dipamerkan, tetapi tentang cara pandang baru yang ditawarkan. Sebuah pengingat halus bahwa dalam setiap sisa, selalu ada kemungkinan untuk lahir kembali sebagai sesuatu yang lebih bermakna.

