Dimulai dari rumah bersejarah Tjong Yong Hian (dibangun tahun 1895) beserta taman yang menyelimutinya dengan aura masa lalu, Andreas Lim kembali menorehkan sejarah fashion bagi kota Medan. Ia tampil dengan koleksi karya couture sembari merayakan hadirnya Spring Festival dan Lunar New Year tahun 2026. Presentasi tunggalnya ini bukan sekadar peragaan busana, melainkan perjalanan visual yang bergerak di antara imajinasi, mitologi, dan sejarah, menjadikan lokasi bangunan bersejarah sebagai bagian integral dari narasi kreatif yang ia bangun dengan penuh kesadaran.

Gema Semesta Spring Festival
Setiap gaun dalam koleksi ini diciptakan sebagai gema dari semesta Spring Festival, sarat simbolisme dan warna-warna bernuansa imperial yang mendetail. Andreas Lim menghadirkan siluet arsitektural yang tegas dengan permainan volume dan proporsi yang presisi. Pada koleksi ini, Andreas mengeksplorasi konsep “Qi”, energi batin dan pancaran kehidupan yang mengalir di dalam manusia maupun alam. Terinspirasi oleh musim semi dan semangat Spring Festival, palet warna yang dihadirkan bergerak dari rona lembut yang menenangkan hingga hitam pekat yang merepresentasikan malam di musim semi, menciptakan kontras yang puitis dan penuh makna.


Dari ready-to-wear hingga seri Bridal
Detail bunga seperti peony dan mawar diterjemahkan melalui embroidery yang halus, hand beading yang teliti, permainan volume, serta kain kain flowing seperti tule, organza, dan chiffon. Sebanyak 31 rancangan ditampilkan, mulai dari ready to wear, deluxe pieces, hingga seri bridal gown yang romantis. Koleksi ini ditutup dengan sepasang rancangan bergaya Chinese attire berhiaskan full embroidery yang megah dan celestial.

Qi
Pergelaran ini menandai kematangan artistik Andreas Lim yang semakin meletup, namun terjaga dalam keseimbangan culture dan couture. Setiap rancangan terstruktur, dan fokus. Ia mengajak setiap individu untuk mengekspresikan energi personal mereka, menjadikan “Qi” sebagai perayaan harmoni antara struktur dan kelembutan, antara tradisi dan kreativitas avant garde, serta antara realitas dan fantasi yang hidup berdampingan secara elegan.

Rinaldy Yunardi dan Kiki Siantar
Runway ini semakin utuh melalui kolaborasi kreatif dengan Rinaldy A. Yunardi yang menghadirkan seluruh aksesori, serta Kiki Siantar dari 1001 Shoes yang merancang alas kaki sebagai penguat estetika koleksi. Produksi pertunjukan ditangani oleh Djafar, memastikan setiap detail visual dan ritme peragaan berjalan selaras dengan visi artistik yang ingin disampaikan.


Rumah dan Taman Tjong Yong Hian
Tjong Yong Hian adalah seorang saudagar dan tokoh penting Medan pada akhir abad ke 19, peragaan ini menjadi dialog antara imajinasi fashion Andreas Lim dan sejarah. Tjong Yong Hian dikenal atas kontribusinya dalam pembangunan kota Medan, termasuk Jembatan Kebajikan yang meraih UNESCO Award of Merit pada tahun 2003. Di ruang yang sarat warisan inilah, Andreas Lim menanamkan “Qi” sebagai energi baru, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu narasi busana yang bernapas.

Kota Medan Mulai Diperhitungkan
Keberanian Andreas Lim menampilkan koleksi rancangannya di kota Medan, adalah langkah yang harus dipujikan. Ia membuat kota Medan tidak lagi sekadar penonton fashion nasional, ia membuat Medan bisa mandiri menggelar karya couture. Tim Make up Artist, dan 90% model yang melenggang di runway, berasal dari kora Medan. Rinaldy Yunardi, desainer aksesori yang mendukung koleksi Andreas Lim ini, adalah desainer kelas dunia yang berasal dari kota Medan. Karya Rinaldy sudah dikenakan oleh Madonna, Beyoncé hingga Katy Perry. Sementara show production ditangani dengan jitu oleh Djafar, yang juga lahir di kota Medan.



















