Di sebuah sudut hangat bernama “Ruang Tamu”, DMS+ merayakan usia dengan cara yang intim sekaligus penuh ambisi.
Buka puasa bersama para mitra dan rekan industri di Deheng House, kawasan Kemang, menjadi penanda tiga tahun perjalanan DMS+—sebuah momentum refleksi, sekaligus deklarasi arah baru.
Mengusung semangat Connect & Collaborate, perayaan ini bukan sekadar seremoni ulang tahun yang jatuh pada 8 Februari 2026.
Ia menjelma ruang dialog, tempat gagasan bertemu, rencana disematkan, dan jejaring diperluas. Dalam tiga tahun terakhir, DMS+ meneguhkan identitasnya sebagai aplikasi horor dengan lebih dari satu juta unduhan dan komunitas yang terus bertumbuh—sebuah basis kuat untuk melangkah lebih jauh.
Optimisme itu disuarakan langsung oleh Demian Aditya, CEO DMS+. Baginya, kolaborasi adalah kunci agar horor Indonesia tak hanya tumbuh sebagai bisnis, tetapi juga sebagai ekosistem kreatif yang inklusif dan berdaya saing lintas negara.
“Kami ingin menghadirkan konten misteri dan horor yang berkualitas, mudah diakses, dan dekat dengan berbagai kalangan,” ujarnya, menandai tekad memasuki fase ekspansi sepanjang 2026.
Langkah konkret pun diumumkan. Bersama Folago Pictures, DMS+ memproduksi film horor vertikal berjudul Rumah 78—sebuah eksperimen format yang menyatu dengan kebiasaan menonton generasi digital. Film ini akan hadir melalui akun Sara Wijayanto di TikTok, tayang sepanjang Maret 2026 dalam potongan berdurasi sekitar dua menit per episode.
Rumah 78 berangkat dari pengalaman nyata Demian Aditya dan Sara Wijayanto pada 2014. Ceritanya mengikuti Banyu dan Mira—pasangan muda yang memulai hidup baru di rumah kontrakan klasik bernomor 78—sebuah awal yang pelan-pelan berubah menjadi teror. Dengan pendekatan vertikal, kisah ini dirancang menegangkan sejak detik pertama, menyapa penonton tepat di layar genggaman.
Tak berhenti di sana, DMS+ juga menguatkan kolaborasi lintas medium. Bersama DiaryMisteriSara dan MVP Pictures, DMS+ mendukung pengembangan film layar lebar Cerita Lila. Diadaptasi dari episode ikonik yang telah ditonton lebih dari 10 juta kali sejak tayang di YouTube pada Agustus 2020, proyek ini menjadi jembatan dari dunia digital menuju bioskop.
Dimensi teknologi pun ikut dipeluk. Kerja sama strategis dengan Motorola dihadirkan untuk memastikan pengalaman menikmati horor kian mulus—menggabungkan konten, perangkat, dan kenyamanan menonton dalam satu ekosistem.
Sebagai penutup rangkaian anniversary, DMS+ membuka kompetisi menulis dan kompetisi clipper yang terbuka hingga akhir Maret 2026.
Dua kategori—pengalaman pribadi dan fiksi—dipersiapkan untuk menjaring cerita terbaik, yang kelak diolah menjadi konten di platform DMS+.
Sebuah undangan terbuka bagi publik untuk ikut menyumbang suara dalam jagat horor.
Lewat langkah-langkah terkurasi ini, DMS+ menegaskan visinya membangun Horror Cinematic Universe yang terintegrasi lintas platform: dari aplikasi digital, serial sinematik vertikal, hingga layar lebar. Di “Ruang Tamu” itulah, masa depan horor Indonesia dirancang—akrab, kolaboratif, dan siap menyapa dunia.


