Dalam dunia mode yang senantiasa bergerak mencari hal baru, Sapto Djojokartiko muncul dengan Saptojo Heritage Capsule Collection Spring/Summer 2026, Sapto menghadirkan dialog antara tradisi dan modernitas yang tak sekadar visual, melainkan juga emosional. Ia menafsirkan ulang gaya berpakaian maskulin dengan pendekatan yang teatrikal. Siluet menjadi pusat permainan visual: proporsi diperluas, bahu ditegaskan, pinggang dirampingkan. Salah satu elemen yang masih digandrungi adalah oversized jacket, hadir dalam berbagai interpretasi, mulai dari jaket tailored dengan volume dramatis, juga mantel panjang glam yang membingkai tubuh bagai perisai. Potongan besar ini tidak hanya menonjolkan struktur, tetapi juga sangat kaya akan tekstur dan detail.

Kenangan untuk Dewi Fashion Knights
Koleksi ini untuk Dewi Fashion Knights 2025 di Jakarta Fashion Week 2026 ini menjadikan tekstil sebagai narasi utama. Songket Bali menjadi pusat eksplorasi—tenun tangan yang sarat makna dan ritme budaya, kini direinterpretasi dengan teknik modern yang menghadirkan kilau dan gerak. Benang metalik berkilau bak jejak memori, sementara bordir dan garis-garis yang terinspirasi dari ukiran Bali menampilkan presisi tangan dan keintiman antara pembuat dan busana. Melalui karya ini, Sapto menghidupkan kembali tradisi tanpa mengurungnya pada masa lalu, ia membawanya berjalan-jalan ke masa kini.

Palet Warna yang Terinspirasi dari Kamen Bali
Warna dalam koleksi ini memantulkan filosofi tradisi yang penuh cerita kehidupan. Terinspirasi dari Kamen Bali—kain upacara tradisional—Sapto menghadirkan perpaduan rona Truffle, Chai, dan Sahara yang hangat, disandingkan dengan Oyster dan Coral yang lembut. Warna Crimson, Bonbon, dan Plum menambah sentuhan vitalitas, sementara nada dalam seperti Bijou, Herb, Armadillo, Ming, dan Açaí memberi kedalaman dan ketenangan. Setiap warna dipilih bukan hanya untuk keindahan visual, tetapi untuk menggemakan perjalanan waktu—dari ingatan menuju pembaruan.

Teknik sebagai Arsitektur Cerita
Material dan teknik menjadi fondasi utama narasi Sapto. Kain songket vintage diolah ulang melalui teknik khusus yang menonjolkan pesona klasiknya tanpa kehilangan karakter alami. Gilded embroidery, benang emas, motif kawung hasil laser-cut, sulaman ikat cemplong, hingga bunga tuberose menjadi elemen yang membangun lapisan visual dan emosional dalam setiap potongan. Permainan tekstur dan kilau menjadikan kain bukan sekadar medium, melainkan patung tekstil—simbol dari bagaimana warisan bisa hidup dan bertransformasi di tangan modern.

Dari Ingatan Menuju Esok
Melalui tema “From Memory to Tomorrow”, Sapto Djojokartiko menegaskan pandangannya bahwa keindahan sejati lahir dari kontinuitas. Warisan bukan untuk disimpan, tetapi untuk diteruskan; bukan untuk dipertahankan dalam keheningan, melainkan dihidupkan kembali melalui reinterpretasi. Di tengah dunia mode yang dipenuhi obsesi terhadap hal baru, Sapto menghadirkan pernyataan yang lebih sunyi namun berdaya: bahwa dalam setiap benang, setiap lipatan, tersimpan perjalanan waktu—dan dari sanalah esok dimulai.















