Di perpetaan fashion Indonesia, desainer yang membuat koleksi pakaian pria dengan basis ready-to-wear pada kultur bisa dikatakan sangat banyak. Namun yang mampu menuangkannya ke dalam tampilan “biasa-biasa saja”, dengan desain kontemporer dan bisa dipakai setiap hari, tidaklah banyak. Kata “biasa-bisa saja” saya pilih karena ini adalah habit pria ketika mencari pakaian, ingin terlihat “biasa-biasa saja” tapi “tidak biasa” ketika mencari/ membeli pakaian. Pria tidak ingin terlihat flashy dan mencolok, tapi tetap ingin menonjolkan cita rasa mereka dalam ber-dandan dan berpakaian.
Dan salah satu fashion desainer Indonesia yang mampu menerjemahkan hal tersebut dengan apik, rapi dan berkarakter adalah Sapto Djojokartiko, yang mulai secara perlahan memperkuat konsentrasinya pada koleksi menswear-nya, setelah koleksi womenswear Sapto mendapat posisi yang sudah stabil. Lewat #SAPTOJOHeritage 2026 Collection, sang desainer membuka bab baru yang lebih kontemplatif—tentu saja menswear—dengan bahasa desain yang tenang, berlapis, dan sangat personal.


Dipresentasikan sebagai limited capsule, koleksi ini bukan sekadar perluasan lini pria, melainkan pernyataan sikap. Sapto menghadirkan busana sebagai ruang jeda: tempat tradisi, keahlian tangan, dan modernitas bertemu tanpa perlu saling mendominasi. Siluet-siluetnya terasa arsitektural namun membumi, menyiratkan kemewahan yang tidak memerlukan pengakuan verbal. Persis seperti defenisi saya akan “biasa-biasa saja” tadi.
Permainan layering menjadi fondasi utama. Jaket terstruktur jatuh dengan drape lembut, celana berpotongan wide-leg bergerak cair mengikuti tubuh, sementara kemeja dengan kerah tegas diperkaya bordir tonal yang subtil. Semua dirancang dengan kesengajaan—tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang tergesa.
Benang merah visual koleksi ini tetap pada bordir khas Maison SAPTO DJOJOKARTIKO. Motif Yayi Turanga dan Yayi Block muncul dengan pendekatan yang lebih dewasa, diaplikasikan di atas organza dan tulle yang ringan, menciptakan dialog antara transparansi dan kedalaman makna. Detail noni hand stitches dari katun halus terasa hampir seperti bisikan—pengingat bahwa kemewahan sejati sering kali bersembunyi pada gestur terkecil.
Salah satu momen paling kuat hadir pada outer bernuansa Cashmere dengan detail quilted Rikmadara. Dipadukan dengan lapisan dalam warna Nero, komposisi ini membangun kontras yang kaya namun tetap terkendali—sebuah studi tentang tekstur dan keseimbangan.

Palet warna koleksi bergerak dalam spektrum yang tertahan dan sophisticated. Oyster, Pampas, dan Papyrus membentuk fondasi yang ringan dan lapang, sementara Lava, Slate, Cashmere, dan Nero berfungsi sebagai jangkar visual. Tidak ada warna yang berteriak; semuanya berbicara dalam nada rendah yang konsisten.
Menariknya, Sapto juga menghadirkan reinterpretasi kain tenun tradisional dalam bentuk structured outer top berwarna Clay. Di sinilah warisan artisanal terasa paling nyata—bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai material hidup yang relevan dengan konteks hari ini.
#SAPTOJOHeritage 2026 tidak menawarkan skenario pemakaian yang kaku. Busana-busana ini tidak menuntut panggung tertentu; ia menyesuaikan diri dengan pemakainya. Sebuah visi luxury yang tidak performatif, melainkan intuitif—dirasakan, bukan dipamerkan.


