Ketika berbicara pocket watch, Audemars Piguet mencipatkannya pertama kali pada tahun 1857 atau 15o tahun yang lalu. Dan untuk itu, di Watches And Wonders 2026, Audemars Piguet (AP), merilis pocket watch ( jam saku ) untuk merayakannya. Dimana ketika kebanyakan rumah jam tangan berlomba menciptakan komplikasi baru untuk pergelangan tangan modern, Audemars Piguet justru melangkah mundur—atau mungkin lebih tepatnya, melangkah lebih dalam ke akar sejarah horologi. Untuk perayaan 150 tahun eksistensinya, manufaktur asal Le Brassus ini memperkenalkan “150 Heritage”, sebuah jam saku ultra-komplikasi yang terasa seperti kapsul waktu: monumental, emosional, dan nyaris filosofis.
150 Heritage adalah meditasi mekanikal tentang bagaimana manusia memahami waktu. Ia berbicara tentang astronomi, ritual budaya, matematika, hingga seni kriya tingkat tinggi. Dan di era ketika segalanya serba digital, kehadirannya terasa hampir radikal.
Di jantung arloji ini berdetak Calibre 1150, movement baru dengan 1.099 komponen yang dikembangkan dari arsitektur RD#4 Calibre 1000. Namun menyebutnya sekadar movement terasa terlalu sederhana. Ini adalah mesin mekanikal yang dirancang untuk mengorkestrasi 47 fungsi dan 30 komplikasi sekaligus—termasuk grande sonnerie, minute repeater, flying tourbillon, split-seconds flyback chronograph, hingga perpetual calendar semi-Gregorian.
Yang membuat pengalaman ini begitu menarik bukan hanya kompleksitasnya, melainkan bagaimana Audemars Piguet berusaha membuat semuanya terasa intuitif. Tombol-tombol korektor dan crown-pusher disusun ulang secara ergonomis agar tetap nyaman dioperasikan meski seluruh komplikasi dijejalkan ke dalam format jam saku berdiameter 50mm. Sebuah pendekatan yang menunjukkan bahwa kemewahan modern tak lagi hanya soal kerumitan teknis, tetapi juga pengalaman pengguna.
Namun pesona sesungguhnya justru tersembunyi di bagian belakang jam. Saat caseback dibuka hingga 180 derajat, muncul salah satu inovasi paling puitis yang pernah dibuat Audemars Piguet: Universal Calendar.
Alih-alih mengikuti satu sistem kalender seperti perpetual calendar tradisional, Universal Calendar merangkum siklus solar, lunar, dan lunisolar dari berbagai peradaban dunia dalam satu tampilan mekanikal. Kalender Gregorian menjadi basis referensi, tetapi di atasnya hadir penanda Ramadan, Diwali, Rosh Hashanah, Easter, Vesak, Chinese New Year, hingga Christmas dan Saint John’s Day.
Ada sesuatu yang sangat humanistik dalam komplikasi ini. Audemars Piguet tidak hanya mengukur waktu—mereka mencoba merangkum bagaimana manusia dari berbagai budaya memahami langit dan musim selama ribuan tahun. Sebuah gesture horologis yang terasa sangat relevan di tengah dunia yang semakin global, namun haus akan makna dan akar tradisi.
Secara visual, 150 Heritage bergerak di wilayah antara museum piece dan objek seni kontemporer. Case platinum diukir tangan penuh dengan motif sejarah maison, termasuk potret para pendiri dan emblem ulang tahun ke-150. Dial utama dibuat dari blue translucent grand feu enamel yang memancarkan kedalaman warna nyaris seperti galaksi malam. Roman numerals emas putih dipahat manual, sementara jarum emas pink memberikan kontras hangat yang elegan.
Detail favorit justru ada pada rantai platinum buatan tangan sepanjang sekitar 40 cm. Di tengah dominasi smartwatch dan perangkat wearable futuristis, rantai ini terasa romantis—seperti pengingat bahwa dahulu jam bukan sekadar instrumen, melainkan simbol status, warisan keluarga, dan artefak personal.
Secara historis, 150 Heritage juga menjadi penerus spiritual dari dua pocket watch legendaris Audemars Piguet: L’Universelle (1899) dan La Grosse Pièce (1921). Jika dua karya tersebut dahulu merepresentasikan puncak kemampuan teknis zamannya, maka 150 Heritage hadir sebagai interpretasi abad ke-21—lebih ergonomis, lebih emosional, dan jauh lebih naratif.
Hanya dua edisi unik berbahan platinum yang akan diproduksi, sementara delapan variasi lain hadir dalam white gold 18 karat. Jumlah yang nyaris absurd untuk standar industri modern, namun justru di situlah letak eksklusivitasnya. Ini bukan jam untuk pasar massal ultra-luxury. Ini adalah objek koleksi untuk segelintir orang yang memahami bahwa horologi terbaik tidak sekadar menunjukkan waktu, melainkan menceritakan peradaban.


