Ada yang istimewa dari koleksi Tulisan kali ini. Di proyek terbarunya yaitu 1830: Wearing Our Stories, pendiri Tulisan Melissa Sunjaya berkolaborasi dengan sejarawan Peter Carey untuk menceritakan kembali sejarah Perang Jawa dan kehidupan Pangeran Diponegoro. Proyek ini tak tanggung-tanggung menghasilkan tiga output; sebuah buku, koleksi, dan pameran.
Pameran ini sendiri berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada 5-9 Agustus 2026 dan dibuka untuk umum. Memamerkan koleksi Tulisan yang sudah tidak asing untuk para pencintanya. Pada acara pembukaannya, Melissa mengambil sebuah tas punggung berbentuk kotak. Di belakangnya tampak wajah Pangeran Diponegoro. “Hanya ada 12 orang yang memiliki tas ini, jika 12 orang ini datang ke Rijksmuseum, it’s a movement,” begitu ujarnya.

Tampak kain-kain menjuntai, ada gambar dan tulisan di bawahnya. Rupanya itu adalah tulisan Pangeran Diponegoro sendiri yang tercantum dalam autobiografi Babad Diponegoro Pupuh I. Tulisan tersebut kemudian disunting dan diterjemahkan termasuk Peter Carey dan George Quinn. Cerita-cerita tersebut coba diterjemahkan oleh Melissa dalam bentuk ilustrasi.
Di Pameran ini, Melissa juga memperkenalkan Manifesto for Creators, yang menggabungkan studi budaya material dan riset autoetnografi, menyoroti peristiwa seputar Perang Jawa (1825-1830) dan dampaknya yang dimulai dengan penangkapan Pangeran Diponegoro. Dengan metodologi visual, proyek ini diharapkan dapat membahas identitas yang terpecah melalui desain, dialog, dan imajinasi yang terdekolonisasi.

