Kekayaan wastra Indonesia seolah tidak pernah selesai menebar keindahan. Kali ini dari Sulawesi Tengah, mereka kembali melambaikan pesonanya lewat “Asmara”, koleksi terbaru jenama dari Palu, FFF by Fery, rancangan desainer Febry Ferry Fabry. Ada 12 look ditampilkan untuk mempertemukan beragam karakter tenun Sulawesi Tengah dengan bahasa mode yang lebih modern, tajam, dan relevan. Hasilnya bukan sekadar pakaian berbasis kain tradisional, melainkan sebuah pernyataan bahwa heritage akan sangat seru ketika bergestur modern kontemporer.

Asmara dari Sulawesi Tengah
Secara estetis, Asmara bergerak dalam wilayah ethnic neo-traditional atau contemporary heritage fusion. Sebuah pertemuan antara wastra Nusantara dengan western tailoring yang formal. Salah satu siluet paling mencolok hadir lewat structured double-breasted blazer dengan bahu tegas dan powerful. Lapel bagian bawah dipotong diagonal secara asimetris, sementara kancing berukuran besar yang dibungkus material senada memberikan aksen yang sophisticated. Tradisi tidak dibuat regular, ia justru diberi struktur baru agar berbicara dengan bahasa fashion yang relevan.

Karakter Western dan Tenun Yang Berkilau
Pilihan material melembutkan karakter western tersebut. Tenun bernuansa olive hingga mustard-gold dengan tekstur berkilau, motif flora dan geometris repetitif, menciptakan impresi mewah dalam kemilau high-fashion. Kilau benang menjadi bagian dari desain, bukan sekadar ornamen. Ketika bertemu dengan konstruksi tailoring yang tegas, kain tradisional memperoleh energi baru: lebih sleek, lebih urban, tetapi tetap membawa ingatan panjang tentang tangan, budaya, dan tempat asalnya. Pilihan material melembutkan karakter western tersebut. Tenun bernuansa olive hingga mustard-gold dengan tekstur berkilau, motif flora dan geometris repetitif, menciptakan impresi mewah dalam kemilau high-fashion. Kilau benang menjadi bagian dari desain, bukan sekadar ornamen. Ketika bertemu dengan konstruksi tailoring yang tegas, kain tradisional memperoleh energi baru: lebih sleek, lebih urban, tetapi tetap membawa ingatan panjang tentang tangan, budaya, dan tempat asalnya.

Ready-to-Wear Modern
Yang menarik, “Asmara” tidak berangkat dari satu jenis tenun. Ia mempertemukan berbagai karakter wastra Sulawesi Tengah, termasuk Tenun Donggala dan tenun dari sejumlah daerah lainnya, lalu diangkat ke siluet ready-to-wear yang modern. Di sini, keberagaman bukan sekadar daftar material, melainkan menjadi sumber kekuatan visual. Setiap kain membawa identitasnya sendiri, sementara desain FFF by Ferry memberikan sebuah panggung baru agar karakter tersebut dapat hadir dalam konteks industri mode kontemporer.

Narasi Tenun Khas Kabupaten Morowali
Lihat juga Tenun khas Kabupaten Morowali, yang digunakan dalam tiga look. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kekayaan wastra Sulawesi Tengah tidak berhenti pada nama-nama yang sudah lebih dikenal. Tenun Morowali tampil sebagai bagian penting dari narasi koleksi dan diperkenalkan secara langsung oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Morowali, Ny. Hj. Darmayanti Iksan. Momentum ini sekaligus memperlihatkan bagaimana fashion dapat menjadi ruang pertemuan antara kreativitas desainer, potensi daerah, dan upaya menjaga keberlanjutan warisan tekstil Indonesia.

Tenun Donggala dan Kemilau Sutra
Di antara kekayaan tersebut, Tenun Donggala atau Bu’u, dengan penggunaan benang sutra maupun katun berkualitas serta kemungkinan aksen benang emas atau perak, memiliki karakter yang khas: halus, berkilau, dan sarat kemewahan. Motif seperti Buja Bomba, Bunga Soba, Subi, dan Palekat merekam kekayaan visual budaya setempat. Secara historis, kain ini memiliki hubungan dengan busana adat, pernikahan, hingga seremoni penerimaan tamu kehormatan. Dalam tangan FFF by Ferry, memori tersebut bergerak keluar dari ruang tradisi menuju lemari pakaian perempuan modern.

Choker-to-Chest
Aksesori kemudian menjadi bahasa ekspresi berikutnya. Statement neckpiece bergaya choker-to-chest menghadirkan high collar dengan aneka manik-manik, diperkaya aplikasi bunga tiga dimensi berwarna putih, oranye, dan turquoise serta rumbai emas dan manik-manik di area dada. Detail tersebut memberikan sensasi eksentrik sekaligus glamor. Elemen ini hadir sebagai fashion statement yang vocal dan berdaya visual yang kuat.

FFF di Indonesia Fashion Week 2026
Melalui 12 look di Indonesia Fashion Week 2026 ini, FFF by Ferry memperlihatkan bahwa masa depan wastra Indonesia bisa saja sangat modern tanpa kehilangan akar. “Asmara” mengubah kain tradisional dari kemungkinan bentuk konvensional menjadi prêt-à-porter deluxe yang memiliki daya pakai tinggi. Dari Palu menuju panggung mode nasional, koleksi ini menyampaikan pesan yang sederhana tetapi kuat, warisan budaya tidak harus tinggal di masa lalu. Dengan desain yang tepat, ia bisa berjalan dengan percaya diri menuju masa depan.













