Ada paradoks yang terasa semakin tajam ketika seseorang terbiasa melihat kemewahan dunia dari barisan depan runway, seperti model Devita Ravani, ia melenggang di pentas mode, di Jakarta, lalu di Paris dan Milan, berada di bawah sorot lampu, mengenakan busana yang dirancang dengan kemewahan. Namun, di sisi lain gemerlap fashion tersebut, ada persoalan yang menurutnya jauh lebih mendesak: air. Bukan air dalam botol berlabel premium, bukan pula air yang hadir hanya dengan memutar keran, melainkan air bersih yang bagi sebagian anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari. Dari kegelisahan itulah lahir Air untuk Asa, sebuah gerakan yang mengubah pengalaman seorang runway model menjadi aksi nyata bagi anak-anak dan komunitas.

Air Bersih dan Hidup Layak
Air bersih, bagi Devita, tidak berhenti pada kebutuhan untuk minum. Ia adalah pintu menuju kehidupan yang lebih layak. Ada anak yang membutuhkan air untuk mandi sebelum sekolah, ada guru yang memerlukannya untuk menjaga kebersihan ruang belajar, dan ada ibu serta anak perempuan yang harus berjalan berjam-jam demi membawa pulang air. Ketika waktu, tenaga, dan keselamatan harus dipertaruhkan hanya untuk memperoleh kebutuhan paling mendasar, persoalannya tidak lagi semata-mata mengenai infrastruktur. Air menjadi persoalan pendidikan, kesehatan, kesetaraan, bahkan masa depan. Setiap tetes air adalah satu langkah lebih dekat menuju sekolah, kesehatan, dan masa depan anak NTT.

Akses Air dan Hidup Sehat
Apa yang terjadi di NTT juga seharusnya dibaca sebagai bagian dari persoalan yang jauh lebih besar: world water problem. Krisis air bersih merupakan tantangan global yang bersinggungan dengan perubahan iklim, pertumbuhan populasi, kemiskinan, sanitasi, dan ketimpangan akses terhadap sumber daya. Ironisnya, air menutupi sebagian besar permukaan bumi, tetapi air yang aman dan dapat digunakan manusia tidak tersedia secara merata. Karena itu, kisah dari desa-desa di NTT bukan cerita yang berdiri sendiri. Ia adalah potret kecil dari problem besar dunia, ketika akses terhadap air semakin menentukan siapa yang dapat hidup sehat, bersekolah dengan baik, dan memiliki kesempatan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.

Devita dan Happy Hearts Indonesia
Melalui Happy Hearts Indonesia (HHI), Devita ingin membawa perhatian tersebut lebih jauh. Organisasi nirlaba ini selama ini bekerja membangun sekolah sekaligus mendampingi komunitas di wilayah 3T—Terluar, Terdepan, dan Tertinggal—termasuk NTT. Di wilayah seperti Timor Tengah Selatan, data BPS 2025 yang dicantumkan dalam program ini menunjukkan sekitar 75 persen rumah tangga memiliki akses terhadap air minum layak, sementara 71 persen memiliki akses sanitasi layak. Angka tersebut sekaligus memperlihatkan masih adanya bagian masyarakat yang belum menikmati kebutuhan dasar tersebut secara memadai. Persoalan air dan sanitasi juga berkaitan erat dengan kesehatan anak, termasuk risiko stunting yang masih menjadi tantangan di wilayah tersebut.


Jarak Anak-Anak dan Air
Di lapangan, persoalannya jauh lebih konkret daripada sekadar angka statistik. Sumber air dapat berada berkilo-kilometer dari permukiman maupun sekolah, dengan medan yang tidak selalu aman untuk dilalui. Anak-anak dan orang tua harus menempuh jalan panjang untuk mendapatkan air yang kualitasnya pun belum tentu layak. Air yang keruh dan bercampur lumpur berpotensi membawa risiko kesehatan apabila tidak diolah dengan benar. Bagi anak-anak, perjalanan mengambil air juga menghadirkan persoalan keselamatan, terutama ketika harus melewati jalan setapak yang licin, tidak rata, dan minim penerangan.

Higienis
Kemudian ada konsekuensi yang sering luput dari pembicaraan tentang krisis air: waktu. Ketika seorang anak harus berjalan atau mengantre demi seember air, yang hilang bukan hanya tenaga, tetapi kesempatan untuk belajar, bermain, beristirahat, dan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Di sekolah, ketiadaan pasokan air yang memadai juga membuat kebersihan menjadi tantangan tersendiri. Air yang tidak higienis dapat meningkatkan risiko penyakit seperti diare dan penyakit kulit, sementara lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar justru menghadapi persoalan yang mestinya dapat dicegah.

Air Untuk Asa
Di sinilah Air untuk Asa menemukan maknanya. Devita tidak sedang meninggalkan dunia fashion; ia justru membawa apa yang diperolehnya dari dunia tersebut—visibilitas, jejaring, dan kemampuan untuk menggerakkan perhatian—ke persoalan yang lebih fundamental. Runway mungkin mengajarkan bagaimana seseorang berjalan dengan percaya diri di hadapan ribuan mata, tetapi kehidupan mengajarkan bahwa langkah yang paling berarti adalah langkah yang membawa perubahan bagi orang lain. Bersama Happy Hearts Indonesia, ia ingin memastikan air bersih hadir lebih dekat dengan sekolah dan komunitas, sehingga anak-anak tidak perlu lagi mempertaruhkan waktu dan keselamatan hanya untuk mendapatkannya.

Pentas Runway Kehidupan
Pada akhirnya, Air untuk Asa adalah pengingat bahwa kemewahan sesungguhnya mungkin justru dimulai dari sesuatu yang paling sederhana: air bersih. Bagi sebagian orang, air mengalir adalah rutinitas yang nyaris tak pernah dipikirkan. Bagi anak-anak di sejumlah wilayah NTT, ia dapat menentukan apakah hari dimulai dengan berjalan menuju sumber air atau berjalan menuju sekolah. Dan mungkin di situlah relevansi terbesar kampanye ini: mengubah satu tetes kepedulian menjadi akses, satu akses menjadi kesehatan, kesehatan menjadi kesempatan belajar, dan kesempatan belajar menjadi masa depan. Dari runway Paris dan Milan menuju tanah NTT, Devita Ravani memilih sebuah panggung yang jauh lebih penting—panggung kehidupan.



