Tampaknya Takashi Murakami adalah seniman kesayangan LVMH umumnya dan Louis Vuitton khususnya. Kolaboarasinya dengan berbagai jenama di bawah payung LVMH seolah tak ada habisanya atau memang Murakami adalah seniman dengan karakter yang easy-to-work-with. Kolaborasi terbaru Louis Vuitton x Takashi Murakami adalah salah satunya dan melalui edisi ketujuh dari seri Artycapucines, rumah mode Prancis ini kembali menegaskan reputasinya sebagai pelopor yang menembus batas antara seni rupa dan haute maroquinerie.
Koleksi ini menghadirkan 11 interpretasi Capucines bag yang masing-masing merupakan karya seni dalam bentuk tas — bukan sekadar aksesori, melainkan manifestasi visi eksperimental Murakami dalam wujud tiga dimensi yang bisa digenggam.
Panda Clutch – Perpaduan Pop dan Permata

Murakami membuka parade fantasi ini dengan Panda Clutch, sosok metalik penuh pesona yang terinspirasi karakter ikonik sang seniman dari era kolaborasi awal 2003. Dibalut 6.250 butir strass yang di-set satu per satu, tas ini berkilau seperti artefak kontemporer — penuh humor, glamor, dan teknik savoir-faire yang menakjubkan.
Capusplit BB – Sebuah Dialog Diri

Dengan inspirasi dari karya Murakami Arhat Robot (2015), tas Capusplit BB membelah realitas: dua lapisan Capucines yang saling membuka, seolah sang seniman menyingkap dirinya sendiri. Balutan kulit buaya biru muda berpadu dengan monogram multikolor legendaris Louis Vuitton — simbol reuni dua ikon budaya pop.
Golden Garden – Taman Surgawi di Atas Kulit

Karya Capucines BB Golden Garden mengubah kulit menjadi kanvas bagi bunga-bunga Murakami yang mekar dalam warna dan tekstur. Teknik marquetry lima jenis kulit berpadu dengan detail logam berlapis emas dan enamel transparan, menghasilkan efek seperti kaca patri di katedral — anggun, sakral, dan nyaris tak tersentuh.
Capubloom – Seni yang Hidup

Jika ada satu karya yang menggambarkan kegembiraan khas Murakami, maka Capubloom adalah epitomanya. Tas berbentuk bola dengan 115 bunga tersenyum warna permen ini adalah penghormatan terhadap karya monumental Flower Matango. Setiap kelopak resin berwarna dicetak, diasah, dan ditempel satu per satu oleh pengrajin — proses yang menyatukan ketelitian mekanis dan kelembutan tangan manusia.
Antara Pop dan Spiritualitas

Dari Capucines Mini Tentacle dengan tentakel resin yang membutuhkan 75 hari perakitan, hingga Capucines EW Dragon yang menampilkan reproduksi lengkap lukisan Dragon in Clouds Indigo Blue sepanjang 18 meter, setiap tas dalam koleksi ini adalah jembatan antara dunia imajinasi dan keunggulan teknik.
Murakami, dengan estetika Superflat-nya, menolak hierarki antara seni tinggi dan budaya populer — dan Louis Vuitton, dengan warisan craftsmanship sejak 1854, memberinya wadah untuk mengekspresikan filosofi itu dalam bentuk yang fungsional sekaligus memikat.

Koleksi Artycapucines VII adalah statement tentang masa depan luxury: ketika seni bukan lagi sesuatu yang digantung di galeri, tapi dibawa dengan tangan, dikenakan, dan dirasakan. Di sinilah Louis Vuitton dan Takashi Murakami menulis ulang definisi art de vivre — kemewahan yang berani, bahagia, dan tanpa batas.



