Di tengah arus desain modern yang kerap bergerak cepat, Audemars Piguet justru memilih menoleh ke masa lalu. Pada Februari 2026, rumah horologi asal Le Brassus ini memperkenalkan Neo Frame Jumping Hour, sebuah arloji persegi panjang yang terinspirasi dari model tahun 1929 dan menghadirkan mesin jumping hour otomatis pertama mereka, Calibre 7122. Bila biasanya Audemars Piguet sangat identik dengan bezel oktagonal Royal Oak, maka kali ini adalah sesuatu yang luar biasa dan membuktikan betapa kayanya warisan jenama ini sejak berdiri pada tahun 1875.
Jam tangan ini lahir dari semangat Streamline Moderne—aliran desain turunan Art Deco yang berkembang di era antarperang, dengan karakter garis memanjang, lekuk aerodinamis, dan kesan minimalis yang terinspirasi dari kapal laut serta kereta cepat. Warisan visual tersebut kini diterjemahkan ulang dalam bahasa kontemporer, tanpa kehilangan nuansa klasiknya.
Bodi Neo Frame Jumping Hour tampil tegas sekaligus elegan. Case persegi panjang dari emas pink 18 karat berukuran 32,6 x 34 mm dihiasi delapan gadroon vertikal di tiap sisi, memanjang hingga lug runcing yang mengesankan gerak dan kecepatan. Detail ini juga hadir pada caseback, crown, dan rotor, menciptakan kesatuan visual yang presisi.

Bagian dial menjadi pusat perhatian. Audemars Piguet menggunakan kristal safir berlapis PVD hitam sebagai pengganti dial logam klasik. Dua jendela berbingkai emas menampilkan jam dan menit dalam angka putih di atas latar gelap. Tanpa bingkai logam di posisi 12 dan 6, safir dibiarkan terekspos, lalu direkatkan dan disekrup ke dalam casing demi menjaga ketahanan air hingga 20 meter—sebuah solusi teknis yang dikembangkan khusus untuk model ini.
Di balik tampilannya yang bersih, berdenyut Calibre 7122, mesin otomatis in-house berbasis Calibre 7121. Movement ini menghadirkan mekanisme jumping hour instan dengan menit yang bergerak progresif, serta cadangan daya hingga 52 jam. Sistem peredam kejut berpaten dan penggunaan titanium serta aluminium pada cakram jam dan menit memastikan keandalan untuk pemakaian harian.
Melalui caseback safir, pengguna dapat menyaksikan finishing khas haute horlogerie seperti Côtes de Genève, satin brushing, serta rotor berukir yang selaras dengan desain case. Perpaduan teknik tinggi dan estetika halus ini menegaskan posisi Audemars Piguet di puncak industri jam mewah.
Komplikasi jumping hour sendiri bukan hal baru bagi maison ini. Sistem penunjuk waktu dengan angka loncat setiap 60 menit telah digunakan sejak abad ke-17, dan menjadi populer dalam jam tangan di era 1920-an hingga 1930-an. Audemars Piguet termasuk pelopor, dengan ratusan model jumping hour diproduksi antara 1924 dan 1951.

Salah satu yang paling ikonik adalah pre-model 1271 dari 1929, yang hanya dibuat 14 unit dalam berbagai varian logam mulia. Model platinum-nya, yang kini tersimpan di Musée Atelier Audemars Piguet, menjadi inspirasi langsung bagi Neo Frame Jumping Hour.
Melalui jam tangan ini, Audemars Piguet tidak sekadar menghadirkan nostalgia. Mereka merangkai ulang sejarah dalam bingkai teknologi mutakhir dan ergonomi modern. Tali kulit calfskin hitam bertekstur, crown baru yang lebih nyaman, serta konstruksi case yang disempurnakan menunjukkan perhatian terhadap detail gaya hidup masa kini.
Neo Frame Jumping Hour menjadi simbol bagaimana kemewahan sejati tidak selalu berarti mengikuti tren terbaru. Dalam dunia yang serba cepat, Audemars Piguet memilih berjalan dengan ritme sendiri—menghubungkan masa lalu dan masa depan melalui desain, mekanika, dan cerita yang hidup di pergelangan tangan.


