CHANEL Cruise 2026 terbaca seperti dua arus yang saling bertemu di satu garis waktu yang sama. Di satu sisi, ada narasi “kembali ke akar” yang terasa kuat sejak koleksi ini dipresentasikan di Biarritz, tempat di mana Gabrielle Chanel pernah membangun fondasi visinya tentang pakaian yang tidak mengekang tubuh. Pendekatan ini diterjemahkan dengan sensibilitas yang fun dan berlapis, sebuah “aquatic fantasy” yang tidak jatuh ke dalam romantisme kosong. Elemen laut hadir dalam bentuk yang cerdas dan refined, dari kancing kerang hingga tekstur yang menyerupai kehidupan bawah air, sementara tas striped oversized muncul sebagai kandidat kuat untuk menjadi ikon visual musim panas mendatang.

Blazy Effect
“Blazy effect” sangat bergema di koleksi ini, ini bisa dilihat dari main-main tekstur kelautan yang Blazy angkat, dibesut dengan craftsmanship sebagai pusat emosi koleksi. Tweed, yang selama ini menjadi simbol klasik CHANEL, lebih maritim dengan efek anyaman jaring-jaring, lebih cair, lebih fleksibel, dan terasa kontemporer tanpa kehilangan memori historisnya. Kontras ini semakin terasa ketika dibandingkan dengan koleksi interim di Lake Como tahun sebelumnya, yang dianggap lebih aman dan komersial. Biarritz, dalam hal ini, terasa seperti pernyataan arah yang lebih tegas: sebuah langkah menuju CHANEL yang lebih modern, lebih reflektif, dan lebih berani dalam mendefinisikan ulang kemewahan.

Kota Biarritz untuk Cruise
Biarritz adalah kota pesisir di Perancis yang menyimpan memori awal revolusi mode, di sinilah Gabrielle Chanel pertama kali menulis narasi yang terasa personal sekaligus monumental dengan membuka rumah couture-nya, menghadirkan gagasan yang pada masanya terasa radikal: bahwa pakaian harus bergerak bersama tubuh, bukan mengekangnya. Dalam koleksi Cruise 2026/27, warisan itu tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan kembali dengan sensibilitas baru yang lebih cair, lebih bebas.


Workwear X Leisure Wear
Blazy memadukan workwear Prancis, leisure wear, dan elemen grandeur dalam satu komposisi yang terasa hidup. Garis-garis Basque muncul sebagai benang merah visual, menghubungkan seragam pelaut dengan gaun-gaun yang mengalir. Hirarki dalam berpakaian seolah dihapuskan, digantikan oleh kebebasan untuk memilih, mencampur, dan menafsirkan ulang identitas.


Rancangan untuk Dirasakan
Material menjadi bahasa yang berbicara dengan lembut namun tegas. Sutra yang ringan bergerak seperti angin, raffia yang berdesir menghadirkan tekstur alami, sementara tweed elastis dan rajutan berpayet menyerupai sisik ikan menciptakan dimensi visual yang hampir hidup. Dalam setiap potongan, ada sensasi sentuhan yang terasa nyata, seolah koleksi ini memang dirancang untuk dirasakan, bukan sekadar dilihat.



Double C
Simbol double C hadir bukan sebagai logo yang dominan, melainkan bertransformasi dalam bentuk tarikan garis grafik dunia kelasi maritim. Ia menjadi semacam arsitektur halus yang mengikat keseluruhan koleksi. Aksesori memperluas narasi perjalanan. Dari tas valise kecil hingga holdall besar, dari tas tahan air hingga keranjang pantai bergaris, semuanya berbicara tentang mobilitas dan spontanitas. Sepatu bergerak di antara dua dunia yang sama pentingnya, dari heels bergaya Art Deco hingga ‘heel caps’. Perhiasan pun menggemakan arsitektur Biarritz sekaligus kehidupan laut, dengan anting berbentuk cangkang dan mutiara.

Gaun Hitam Legendaris
Namun pusat gravitasi emosional koleksi ini tetap berada pada gaun hitam legendaris CHANEL. Diperkenalkan kembali sebagai look pertama, desain tahun 1926 itu tampil dengan interpretasi baru yang tetap setia pada esensinya: sederhana, presisi, dan penuh makna. Apa yang dulu dianggap revolusioner kini terasa abadi, sebuah pengingat bahwa klasik sering lahir dari keberanian untuk menantang norma.

Matthieu Blazy:
“Far from the Paris salon, Chanel found in Biarritz different ways of being and seeing, of movement and freedom. She made them her fashion pedestal. It is a place that offers the perfect balance between function and fiction. Among artists, workers, nobility, sailors and the natural world, everyone and everything shared the same stage, living together as a norm. All had a role to play.”

















