Art & Bali 2026 resmi mengumumkan daftar 21 seniman, desainer, dan studio yang akan berpartisipasi dalam pameran kuratorial tahunan bertajuk What the Body Remembers. Diselenggarakan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, pameran ini akan dibuka pada 11 September 2026 bersamaan dengan penyelenggaraan Art & Bali 2026 yang berlangsung pada 11 hingga 13 September. Pameran tersebut akan terus dapat dinikmati publik hingga 29 November 2026, menghadirkan dialog lintas disiplin yang mempertemukan seni kontemporer, fashion, desain, tekstil, dan budaya material dari Indonesia serta India.

Duet Bandana Tewari dan Brina Paska
Dipimpin oleh kurator internasional Bandana Tewari sebagai Lead Curator dengan Brina Paska sebagai Assistant Curator, What the Body Remembers berangkat dari gagasan bahwa tubuh menyimpan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui sentuhan, pengulangan, teknik yang diturunkan, hingga kecerdasan material, pameran ini menelusuri bagaimana ingatan budaya terus hidup dan berkembang dalam praktik kreatif masa kini.

Hand as Archive
Dua kerangka kuratorial menjadi fondasi utama pameran ini, yakni Hand as Archive: Memory, Transmission, and Embodied Knowledge serta Routes of Exchange: Migration, Mutation, and Becoming. Keduanya membuka ruang untuk memahami tangan bukan sekadar alat produksi, melainkan arsip hidup yang menyimpan memori, keterampilan, dan tradisi yang terus bertransformasi seiring perjalanan waktu dan perpindahan budaya.

Fashion Designer dan Seniman
Sebanyak 21 partisipan terpilih berasal dari berbagai latar belakang praktik kreatif. Nama-nama seperti Bandana Tewari, Sanjay Garg melalui Raw Mango, hingga desainer Indonesia seperti Tex Saverio, Lulu Lutfi Labibi, Sakde Oka, dan Sarita Ibnoe akan hadir bersama studio, kolektif, dan artisan yang mengeksplorasi couture, bordir, tenun, pewarna alami, hingga riset material. Daftar ini memperlihatkan kuatnya hubungan antara praktik artistik dengan keterampilan tangan yang berakar pada komunitas dan tradisi.

Indonesia dan India
Fokus pada Indonesia dan India menjadi pilihan yang sangat relevan dalam konteks pameran ini. Kedua negara memiliki sejarah panjang dalam pengembangan tekstil, kerajinan, dan budaya material yang terus berevolusi. Dari ikat Bali dan eksperimen tekstil kontemporer Indonesia hingga tradisi bordir, couture, dan slow fashion India, pameran ini menghadirkan percakapan yang kaya mengenai warisan budaya yang terus menemukan bentuk baru di era modern.

Memori Dalam Tubuh dan Bali
Menurut Bandana Tewari, pameran ini berangkat dari gagasan tentang memori yang hidup di dalam tubuh, terutama melalui gerakan tangan dan ritme penciptaan yang berulang. Ia melihat praktik kerajinan, fashion, dan desain sebagai medium yang tidak hanya menghasilkan objek, tetapi juga menyimpan kisah tentang perjalanan, pengabdian, kerja, identitas, dan rasa memiliki. Dalam konteks tersebut, Bali menjadi lokasi yang sangat bermakna karena tradisi membuat dan ritual budaya masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Art & Bali 2026
Berlangsung di dalam ekosistem kreatif Nuanu Creative City, pameran ini juga menjadi bagian dari program Art & Bali 2026 yang lebih luas. Selain pameran utama, publik dapat menikmati presentasi galeri, diskusi publik, instalasi, pertunjukan, serta berbagai program yang dirancang secara responsif terhadap ruang dan lingkungan. Kehadiran Nuanu sebagai mitra pendiri sekaligus penyelenggara menghadirkan infrastruktur budaya yang memungkinkan kolaborasi lintas disiplin berkembang secara berkelanjutan.

Tolak Batas Seni, Fashion, Craft, dan Desain
Direktur Art & Bali, Kelsang Dolma, menegaskan bahwa What the Body Remembers menjadi penting karena menolak batas-batas kaku antara seni, fashion, craft, dan desain. Melalui pertemuan para praktisi dari Indonesia dan India, pameran ini menawarkan perspektif yang mendalam mengenai hubungan antara material, keterampilan, komunitas, dan warisan budaya. Lebih dari sekadar pameran, Art & Bali 2026 memperlihatkan bagaimana Bali terus mengukuhkan dirinya sebagai pusat dialog kreatif regional yang menghubungkan tradisi dengan gagasan kontemporer dalam lanskap budaya global.


Foto Utama: Tex Saverio


