Awal Tahun 2026 akan dibuka dengan perlehatan seni akbar di negara tetangga yang dapat kita nikmati bersama. Di tahun keempatnya ART SG akan digelar pada 23-26 Januari 2026 di Sands Expo and Convention Centre, Marina Bay Sands, Singapura, dengan waktu Pratinjau Naratama dan Vernissage pada 22 Januari. Berkunjung ke pameran seni memang menyenangkan dan punya banyak manfaat antara lain meningkatkan kesehatan mental dengan mengurangi stres dan rasa kesepian, memperluas jaringan sosial dengan bertemu orang-orang yang punya minat sama, sambil mengasah kemampuan apresiasi dan evaluasi terhadap karya seni.
White Cube, Thaddeus Ropac, hingga Goodman Gallery
Nama-nama besar internasional akan kembali ke ART SG pada tahun 2026 untuk mempersembahkan cuplikan dari program-program unggulan mereka, termasuk White Cube (London, Hong Kong, Paris, Seoul, New York); Thaddaeus Ropac (London, Paris, Salzburg, Seoul); neugerriemschneider (Berlin); Galerie Gisela Capitain (Cologne, Naples); Annely Juda Fine Art (London); Goodman Gallery (Johannesburg, Cape Town, London, dan Ota Fine Arts (Singapura, Shanghai, Tokyo).
Shuyin Yang, Direktur Pameran ART SG, mengatakan dalam siaran persnya, “Kami sangat senang menyambut galeri-galeri yang kembali maupun yang baru ke ART SG, yang terus berkembang sebagai platform dinamis bagi seni Singapura dan Asia Tenggara. Peluncuran sektor Seni Pertunjukan ini menggarisbawahi komitmen kami untuk mendukung beragam praktik seni dari kawasan ini, menyediakan platform bagi karya-karya eksperimental, interdisipliner, dan imersif yang melibatkan penonton dengan cara-cara baru dan transformatif.”
Pendatang Baru
Sementara itu, pendatang baru yang patut ditunggu di pameran ini antara lain Castelli Gallery (New York), Ashvita’s (Chennai), serta presentasi bersama dari Antenna Space (Shanghai) dan Commonwealth and Council (Los Angeles), yang sekaligus memperluas cakupan dan program internasional pameran ini. Sementara Harper’s Gallery (New York), JW Projects(Singapura), dan Wei-Lin Gallery (Kuala Lumpur) kembali setelah absen selama satu tahun.
ART SG terus menampilkan pameran seni kontemporer Asia Tenggara yang menjadi panggung acuan. Galeri-galeri regional terkemuka yang kembali ke pameran ini antara lain Ames Yavuz (Singapura, Sydney); STPI (Singapura); Sullivan+Strumpf (Singapura, Sydney, Melbourne); Richard Koh Fine Art (Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur); Gajah Gallery (Singapura, Jakarta, Yogyakarta), dan Haridas Contemporary (Singapura), menawarkan pengunjung gambaran komprehensif tentang lanskap kreatif yang dinamis di kawasan ini.
Debut S.E.A. FOCUS di ART SG

Seni Kontemporer Asia Tenggara
Di pameran mendatang ini untuk pertama kalinya ART SG akan turut menghadirkan S.E.A. Focus, sebuah platform lokal yang mengedepankan seni kontemporer dari Asia Tenggara, menampilkan karya dari 106 galeri dari lebih dari 30 negara dan wilayah. Pengunjung dapat mengakses keduanya dengan satu tiket. Format terpadu ini menawarkan pengalaman yang kaya dan terintegrasi, sekaligus memperluas peluang pasar bagi galeri serta memperkuat hubungan antara perupa, kolektor, dan komunitas seni global.
Dikuratori oleh John Tung dengan konsultasi artistik oleh Emi Eu, Direktur Eksekutif STPI, platform ini akan mengangkat tema The Humane Agency, mengeksplorasi peran perupa sebagai agen welas asih dalam menghadapi tantangan global paling mendesak saat ini – termasuk konflik dan kerinduan akan perdamaian, krisis ekologi yang semakin parah, dan pergerakan komunitas sekitar dan antarbangsa.
S.E.A Foucs 2026
Kurator S.E.A. Focus 2026 John Tung dalam siaran persnya menyatakan bahwa perupa memiliki peran penting dalam menanggapi tantangan global dan membayangkan langkah-langkah alternatif menuju dunia yang lebih penuh welas asih dan damai. “Saya khususnya tertarik pada bagaimana suara-suara di Asia Tenggara berkontribusi dalam percakapan ini, dan apa yang dapat ditawarkan dari perspektif budaya dan geopolitik mereka yang unik. Seiring kita mengarungi era yang semakin kompleks, saya mengajak para pengunjung untuk memandang para perupa sebagai agen perubahan, serta tetap terbuka terhadap pertanyaan, provokasi, dan kemungkinan yang dihadirkan melalui praktik artistik mereka.”
Perupa Indonesia di ART SG

Melati Suryodarmo dan “I Love You”
Dari sekian banyak perupa dengan karya mereka masing-masing yang akan tampil di ART SG 2026, dua di ataranya adalah perupa dari negeri kita sendiri. Melati Suryodarmo akan menampilkan I Love You (2007) di UBS Art Studio. Dalam sebuah pertunjukan intens berdurasi lima jam yang direkam dalam video satu kanal ini Melati bergerak di ruangan bernuansa merah menyala, membawa gelas besar sambil berulang kali mengucapkan “I love you”. Warna merah membangkitkan cinta, hasrat, urgensi, dan rasa bahaya, sementara kaca yang rapuh namun berat melambangkan kerentanan dan beban emosional. Melalui pengulangan dan tekanan fisik, karya ini mengubah deklarasi sederhana menjadi ritual kerinduan, ketangguhan, dan daya tahan.
Pementasan karya Melati Suryodarmo di ART SG merupakan penegasan komitmen jangka panjang UBS untuk mendukung inisiatif budaya di seluruh dunia dan keyakinan akan kekuatan seni kontemporer untuk menginspirasi dialog, memperdalam pemahaman, dan memperkaya kehidupan.
Bedtime Stories karya Citra Sasmita
Ada pula Bedtime Stories karya Citra Sasmita, sebuah konstelasi karya yang diambil dari presentasinya di Biennale Sydney ke-24, Hawai‘i Triennial, dan Frieze New York. Elemen sentral dari instalasi ini adalah rangkaian karya gantungnya yang diposisikan pada ketinggian—pertama kali dikomisikan untuk Biennale of Sydney–yang menciptakan semacam tempat berlindung dan beristirahat di dalam ruang pameran.
Pengunjung diundang untuk duduk di bawah bantal gantung dan beristirahat. Potongan-potongan tekstil besar mengapit dinding, dengan motif tangan terbuka, menawarkan gestur pertalian dan sambutan hangat. Melalui karya-karya ini, Sasmita menjembatani kosmologi, ritual, dan feminisme kontemporer, mengeksplorasi kapasitas seni untuk menyalurkan ingatan leluhur dan kehadiran spiritual—yang dalam filsafat Bali disebut taksu, karisma yang menghidupkan sebuah karya seni.


