Setelah Jonathan Anderson menggelar koleksi Dior perdanya pada Juni 2025 untuk koleksi pria, dan sekarang koleksi kedua pria, yang di gelar kemarin di Paris Men’s Fashion Week, seolah saya sedang melindasi “polisi tidur” dengan kondisi rem yang tak diinjak, saat berada di dalam mobil. Koleksi Dior Men winter 2026/ 2027 memiliki efek kejut yang besar, terutama untuk saya, yang sudah sangat kagum dengan koleksi pria sebelumnya. Tapi mari kita tela’ah koleksi yang cukup kontroversi dan jauh dari karakter Monsieur Dior ini.



Jonathan Anderson tidak sekadar merancang koleksi, tetapi membangun narasi tentang generasi aristokrat baru—muda, reflektif, dan berani merayakan kontradiksi, yang merupakan versi Jonathan Anderson. Apakah konsep ini diterima atau tidak, itu urusan belakangan. Mereka digambarkan sebagai flâneur modern yang bergerak tanpa tujuan, hingga sebuah detail kecil di trotoar Avenue Montaigne memantik percakapan besar tentang sejarah couture: nama Paul Poiret.

Referensi ini bukan nostalgia yang pasif. Poiret, dengan fluiditas siluet dan ketertarikannya pada budaya Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Timur, dihadirkan sebagai energi pendorong. Tapi Poiret hanya merancang pakaian wanita, saat itu, dan Poiret sendiri memiliki karakter gaya polished dan dandy. Sementara Anderson menjadikannya titik temu antara arsip dan insting, antara formalitas Dior dan spontanitas generasi kini. Hasilnya adalah bahasa busana yang terasa hidup—kadang berisik, kadang intim, selalu penuh keberanian. Sentuhan kain-kain sutra bermotif Poiret dan siluet flapper dress, berubah menjadi versi pakaian pria olahan Anderson. Menjadi siluet baru yang abstrak di tubuh pria.


Tailoring menjadi fondasi utama pada koleksi ini, namun tidak kaku. Jaket-jaket memanjang hadir berdampingan dengan blazer yang dipersempit tanpa kompromi, ekor jas yang teatrikal, Bar jacket versi (super) pendek, hingga celana ramping yang menegaskan presisi. Ada ketegasan, tetapi juga keinginan untuk bermain. Anderson tampak menikmati momen ketika struktur mulai goyah, lalu menemukan bentuk barunya sendiri. Celana skinny terlihat hadir di beberapa look dan tampak memberikan komplimen pada tungkai skinny tersebut.

Busana luar menjadi arena paling ekspresif. Bomber bertransformasi menjadi jubah brokat, jaket militer mengembang di bagian punggung, mantel terasa seperti pelukan berlapis drama. Unsur teknis dan opulen bertabrakan dengan sengaja, menciptakan ketegangan visual yang justru terasa mewah. Di sini, Dior menunjukkan bahwa luxury tidak selalu harus tenang—ia bisa lantang, bahkan sedikit eksentrik.

Batas maskulin dan feminin dilebur dengan ringan. Setelan jas, kemeja berlavallière, rompi, hingga long johns yang menggantikan celana panjang membentuk dialog tentang pakaian dan tubuh. Ada permainan antara berpakaian lengkap dan isyarat ketelanjangan, seolah koleksi ini mengajak pemakainya untuk menentukan sendiri sejauh mana aturan ingin ditaati.


Material menjadi bahasa emosional berikutnya. Tweed Donegal yang klasik, beludru berkilau, jacquard bercahaya, bordir yang memantulkan cahaya, rumbai padat, dan detail passementerie menyusun pengalaman visual sekaligus taktil. Palet warna cenderung gelap, memberi ruang bagi tekstur untuk berbicara lebih lantang. Aksesori hadir sebagai penyeimbang: sepatu bertali bertumit rendah, loafer berbentuk D, serta tas messenger lembut yang terasa fungsional namun tetap refined.

Dior Winter 2026–2027 terasa seperti ajakan untuk berpakaian tanpa rasa bersalah—menghubungkan elemen yang tampaknya tidak sepadan, membiarkan masa lalu dan masa kini bertabrakan, lalu merayakan hasilnya. Beberapa look memiliki tampilan yang cukup avant garde yang per-pieces-nya bisa terlihat wajar saat dipakai. Namun pesan Anderson lewat koleksi ini bukankah ingin terlihat tidak wajar? Di sini kecerdasan Anderson sangat terasa. Apakah koleksi ini wearable? Sangat wearable. Pertanyaannya adalah, ada berapa persen pria (di dunia) yang ingin memiliki koleksi ini? At the end of the day, business is business.








