Menjelang musim semi, Jepang kembali menjadi sorotan dunia. Namun di tengah popularitas bunga sakura dan lonjakan wisatawan, isu overtourism mulai terasa di berbagai destinasi populer, dari pembatalan festival sakura hingga berkurangnya sumber air panas di beberapa onsen. Namun momentum Earth Month kali ini menghadirkan pertanyaan menarik bagi para pelancong: seperti apa cara menjelajahi Jepang yang lebih mindful dan berkelanjutan?

Berjalan kaki lega bersama Walk Japan
Melalui pendekatan perjalanan yang lebih lambat, Walk Japan mengajak wisatawan menemukan sisi Jepang yang jarang tersentuh jalur wisata utama. Alih alih mengikuti rute populer seperti Golden Route, perjalanan berjalan kaki ini membawa tamu ke prefektur yang lebih tenang, di mana lanskap alam, tradisi lokal, dan kehidupan komunitas masih terjalin erat. Dengan kelompok kecil dan akomodasi di penginapan keluarga, pengalaman ini menghadirkan interaksi yang lebih dekat dengan budaya setempat.

Kunisaki Trek
Salah satu perjalanan yang menarik perhatian adalah Kunisaki Trek di Kyushu. Perjalanan selama 10 hari ini menelusuri jalur pegunungan di Semenanjung Kunisaki, wilayah spiritual yang dipenuhi kuil, lembah hijau, dan desa desa pedesaan yang tenang. Jalur ini dahulu digunakan oleh para biksu Buddha dalam praktik asketis kuno yang dikenal sebagai mine iri, sebuah tradisi spiritual yang telah membentuk kehidupan religius wilayah tersebut sejak abad ke 9.

Jalur hutan dan cherry
Sebagian besar rute berjalan melalui jalur hutan yang jarang dilalui, sesekali melewati kompleks kuil dan desa yang indah sebelum berakhir di kota onsen Yufuin. Dengan pendekatan perjalanan yang lebih perlahan dan penuh kesadaran, Kunisaki Trek menghadirkan cara berbeda menikmati Jepang: bukan hanya melihat destinasi, tetapi benar benar merasakan hubungan antara alam, budaya, dan komunitas lokal.







