Ketika lima chef bertemu untuk menafsirkan potongan daging domba Victoria melalui kreativitas mereka masing-masing, tentu saja memunculkan rasa penasaran tentang seperti apa hasil akhirnya—bagaimana teknik, budaya, dan karakter gastronomi berbeda bisa berpadu dalam satu malam. Karena itu, ketika Luxina mendapat undangan untuk hadir ke acara “The Art of Victorian Lamb, Crafted by Lambassador Chefs”, tentu saja kami menyambutnya dengan antusias. Acara yang digelar oleh Meat & Livestock Australia (MLA) Indonesia bersama Victorian Government Trade and Investment ini menjanjikan lebih dari sekadar jamuan; namun juga menjadi panggung kolaborasi lintas negara yang menyoroti kualitas premium lamb dari Victoria sekaligus mempertemukan chef, pemangku kebijakan, dan pelaku industri dalam suasana yang hangat dan profesional.
Sebuah Undangan yang Membuka Perjalanan Rasa
Begitu kami memasuki area acara, suasananya langsung memperlihatkan bahwa malam ini dikurasi dengan penuh perhatian. Bukan hanya dari penataan ruang atau alur tamu, tetapi bagaimana seluruh elemen—mulai dari aroma panggangan lamb yang samar hingga deretan chef yang berdiri di balik stall mereka—menandakan bahwa para undangan akan diajak menelusuri sebuah perjalanan kuliner yang dirancang oleh lima chef Lambassador terkemuka.

Mereka adalah figur yang tidak hanya ahli memasak, tetapi juga mampu mengolah potongan Australian lamb leg, lamb rack, dan lamb shoulder menjadi presentasi yang menggambarkan karakter dan teknik masing-masing. Dari Indonesia hadir Chef A.S Windoe, Chef Rizqi Pradana, Chef Victor Taborda, dan Chef Bayu Timur, sementara Singapura diwakili oleh Chef Alysia Chan—lima sosok dengan interpretasi yang berbeda-beda terhadap bahan yang sama, namun semuanya menunjukkan fleksibilitas luar biasa dari lamb Victoria yang dikenal berkualitas tinggi.

Pada kesempatan ini, Her Excellency Professor the Honourable Margaret Gardner AC, Governor of Victoria menyampaikan bahwa daging domba Victoria berasal dari peternakan yang dikelola dengan dedikasi dan keahlian yang terawat turun-temurun. Sehingga mengonsumsi daging domba Victoria bukan hanya menikmati kualitas terbaik, tetapi juga turut merayakan kekayaan budaya Victoria.

Christian Haryanto, Chief Representative MLA Indonesia, dalam sambutannya mengatakan, “Daging domba Australia dikenal secara global karena kualitasnya yang tinggi, rasa yang lezat, dan jaminan halalnya, menjadikannya pilihan sempurna bagi konsumen Indonesia.”

“Melalui program Lambassador, kami berkolaborasi dengan para chef dan profesional kuliner untuk berbagi cerita tentang daging domba Australia kepada para mitra mereka, membangun kepercayaan, sekaligus meningkatkan permintaan terhadap produk premium ini,” tambahnya.
Menikmati Satu Demi Satu: Lima Interpretasi Rasa
Konsep chef stations membuat malam ini terasa seperti pameran karya seni—setiap hidangan menunjukkan karakter, teknik, dan latar belakang sang chef. Namun yang paling menarik adalah bagaimana daging lamb Victoria tampil sebagai kanvas yang lentur: kaya rasa, mudah menyerap bumbu, namun tetap mempertahankan identitasnya.
1. Chef A.S Windoe — Crusted Lamb Rack and Walnut over Tahini


Kami memulai hidangan pertama dari Chef A.S Windoe, Corporate Chef Archipelago International, yang tampak mempertunjukkan keseriusan malam ini. Lamb rack-nya dibalut lapisan walnut yang dihancurkan halus namun masih menyisakan tekstur. Ketika dipotong, permukaan daging memperlihatkan tingkat kematangan yang presisi: medium dengan sedikit semburat merah muda. Rasa kacang memberikan kontras renyah terhadap kelembutan lamb, sementara tahini di bawahnya menjadi dasar yang creamy dengan sedikit sentuhan pahit yang menyatu sempurna. Ada keseimbangan timur tengah-modern yang bekerja di sini—tidak berlebihan, tidak ingin mengejutkan, tetapi berhasil membuat lidah penasaran untuk suapan berikutnya.
2. Chef Rizqi Pradana — Slow Roasted Lamb Shoulder with Komoh Spices, Dirty Rice & Trancam


Chef Rizqi, Corporate Chef Artisan Kuliner Grup, memilih pendekatan lokal, tetapi dengan kedalaman rasa yang berbeda. Lamb shoulder yang dipanggang perlahan selama berjam-jam menghasilkan tekstur fall-off-the-bone, lembut hingga terasa seperti meleleh saat disentuh lidah. Bumbu komoh memberikan aroma khas Jawa Timur: hangat, earthy, sedikit pedas dan kaya rempah. Dirty rice di sampingnya membawa rasa gurih dan sedikit smokey, sementara trancam yang segar memberikan penyeimbang dengan tekstur renyah sayuran mentah. Ini adalah hidangan nostalgia yang ditinggikan—comfort food yang dibawakan dengan teknik modern dan bahan premium.
3. Chef Victor Taborda — Slow-Braised Lamb Leg with Sweet Potatoes


Chef Victor Taborda, Executive Chef Sudestada dan Casalena, yang berasal dari Argentina ini membawa karakter Latin yang tegas dalam hidangannya. Lamb leg dibraise perlahan hingga mencapai konsistensi lembut yang tetap memiliki struktur, dengan rasa kaldu yang dalam dan pekat. Anda bisa merasakan jejak rempah dan sayuran aromatik yang dimasak bersama daging selama berjam-jam. Sweet potato pada hidangan ini bukan sekadar pendamping, tetapi elemen yang memperhalus keseluruhan rasa. Kemanisannya bersinergi dengan kekayaan daging, memberikan kontras lembut pada intensitas lamb yang juicy. Ini adalah jenis hidangan yang Anda santap perlahan, menikmati setiap lapisan rasa yang muncul dari tiap suap.
4. Chef Bayu Timur — Lamb Ragu Ravioli, Cheese Fondue & Rosemary Lamb Sauce


Chef Bayu, Executive Chef Ritz-Carlton Mandapa Bali, membawa sentuhan Mediterania dengan teknik Eropa modern. Ravioli tipis yang dibuat presisi berisi ragu lamb yang telah dimasak hingga hancur lembut—setiap suap memunculkan aroma rosemary, bawang, dan sedikit sentuhan wine yang sudah menghilang alkoholnya namun meninggalkan karakter rasa. Cheese fondue-nya kental, creamy, dan ketika menyentuh panas ragu, teksturnya berubah menjadi lapisan yang memeluk seluruh elemen. Saus rosemary lamb memberikan kedalaman tambahan yang aromatik. Ini adalah hidangan rumit yang terasa effortless—tanda tangan seorang chef dengan jam terbang tinggi.
5. Chef Alysia Chan — Slow Roasted Lamb Shoulder, Potato Puree, Apricot Salsa Verde & Crispy Quinoa


Chef Alysia, Lambasador Chef Singapore, menyajikan hidangan dengan gaya modern dan playful, menggunakan lamb shoulder yang dipanggang perlahan hingga juicy. Potato puree-nya halus seperti sutra, menjadi latar netral yang memperkuat rasa daging. Yang membuat hidangan ini menarik adalah apricot salsa verde, kombinasi manis-asam-herbal yang membuka rasa dan memberikan kejutan segar pada setiap suapan. Crispy quinoa menambah tekstur renyah sehingga hidangan terasa berlapis, tidak monoton. Ini adalah interpretasi paling muda secara spirit—cerah, hidup, dan berani.
Antara Gastronomi, Keberlanjutan, dan Diplomasi
Salah satu hal yang membuat malam ini terasa berbeda adalah narasi keberlanjutan yang dibawa oleh daging domba Victoria. Acara ini tidak hanya menampilkan hidangan premium; ia menjadi ruang dialog antara pemerintah Victoria, chef, dan pelaku industri di Indonesia mengenai pengembangan sektor pangan.

Dengan standar traceability dan sustainability yang dikedepankan Victoria, setiap hidangan yang disajikan terasa bukan hanya sebagai karya kuliner, tetapi juga representasi nilai yang ingin ditonjolkan wilayah tersebut.
Saat para tamu berdiskusi sambil mencicipi hidangan, terlihat jelas tujuan besar di balik acara ini: memperkuat kemitraan dan membuka peluang baru antara dua negara melalui fondasi yang sederhana namun kuat—kepercayaan dan kualitas.
Sebuah Malam yang Menginspirasi
Ketika acara berakhir, kami membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman kuliner. Ada rasa hormat terhadap dedikasi para chef, apresiasi baru terhadap budaya Victoria, dan kesadaran bahwa makanan dapat menjadi jembatan diplomasi yang lebih efektif daripada banyak forum resmi.

Bagi Luxina, undangan ini bukan hanya kehormatan, tetapi juga kesempatan untuk melihat bagaimana gastronomi dapat menjadi media diplomasi yang efektif. Malam itu menghubungkan chef, pemerintah, pelaku industri, dan para pecinta kuliner dalam satu ruang yang sama—melalui bahasa rasa.


