Fosfena, adalah bayangan sisa cahaya (afterimage) setelah menatap sumber cahaya. Dari sensasi ini, Catur Agung Nugroho menggiring fosfena untuk ia jadikan titik fokal di pameran tunggal terbaru bertajuk Setelah Padam Sebelum Tenggelam, berlangsung di VnV Gallery Jakarta, 25 Oktober- 25 November 2025. Catur menarik fosfena keluar ke alam artistik di atas kanvas yang lebih nyata. Cahaya tersebut tidak samar, tapi nyata di tancapkan tegas di bentangan alam luas berwarna biru cyan. Catur menafsirkan ulang makna cahaya sebagai simbol yang bukan penerang, tetapi yang memanipulasikan.

Alam biru di VnV Gallery Jakarta
Memang saat ini, di tengah sinar layar digital yang aktif tanpa henti, manusia justru semakin kehilangan arah pandang. Cahaya yang dulu menjadi lambang pencerahan kini berubah menjadi stimulus pendistraksi, pengantar hoax, penumpul batin. Dalam karya-karyanya, Catur menyoroti paradoks ini dengan lirih namun tegas: di dunia yang terlalu terang, kita justru kehilangan pandangan terhadap yang hakiki, yaitu alam sebagai tumpuan pijakan manusia. Kegelisahan ini kemudian ia terjemahkan dalam lanskap-lanskap biru cyan, lanskap yang luas, lega, dan hening, mengalahkan pandangan yang terkaburkan oleh silau cahaya digital.

Catur dan Pedang Star Wars
Terinspirasi oleh masa kecilnya di dataran tinggi Wonosobo, Jawa Tengah, lanskap biru cyan ini mengandung ketenangan yang paradoksal, menyejukkan sekaligus misterius. Warna itu menjadi pengingat akan memori masa lalu, tentang langit yang dulu masih jernih, tentang gunung yang berdiri dengan tenang tanpa luka buatan manusia. Di tengah alam biru cyan tersebut, Catur menancapkan cahaya, seperti pedang-pedang ‘Star Wars’, membuat kita seperti merasa ada yang diam-diam sedang bertarung. Kita tergejolak dari kanvas kontemporer ke sensasi pop culture, namun tetap tenang dan elegan.

Setelah Padam Sebelum Tenggelam
Pameran ini menjadi semacam kesimpulan puitis dari perjalanan artistik Catur Agung Nugroho—bahwa setelah harapan kita padam, ternyata masih ada sedikit jeda sebelum semuanya benar-benar tenggelam. Dalam Setelah Padam Sebelum Tenggelam, cahaya yang secara kasat mata telah sirna justru menyalakan sisa harapan yang lembut, harapan yang berdiam di alam: pada kunang-kunang yang tetap menyala di gelap malam, pada unggas yang masih terbang di langit biru cyan, dan pada tetes air yang terus bergerak mencari jalannya sendiri. Di sanalah Catur menempatkan esensi karyanya dengan cool dan menenangkan jiwa. Kehidupan, seberapapun rapuh dan redupnya, masih menyimpan denyut kecil yang terus berusaha bertahan di antara pasca padam dan pra tenggelam.

Pameran Tunggal dan Prestasi
Catur Agung Nugroho lahir di Wonosobo pada 30 November 1999. Ia menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan telah menorehkan sejumlah pencapaian penting di dunia seni rupa. Di antaranya, Finalis 20 Best Artwork Muda Kaya Karya Top Coffee (2019), Best Artwork Edu Art Award Archademia (2020), Finalis UOB Painting of The Year (Kategori Profesional Artist, 2021), Juara 2 Peksimiprov DIY (2022), Pemenang Katamsi Young Artist Award (2024), serta Finalis Basoeki Abdullah Art Award #6 (2024). Ia juga aktif dalam berbagai residensi dan lokakarya, termasuk residensi ke TUBABA bersama Asana Bina Seni Biennale Jogja (2022) dan program Kelas Seni Terbuka Inkubator Inisiatif (2023). Pameran tunggalnya mencakup Estetica Plastic (Special Project Jogja Art Week, Poison Smoothie Bar + Art Space, 2020), Mitoni: Lanskap Sublim (Omah Budoyo, Yogyakarta, 2025), dan Setelah Padam Sebelum Tenggelam (VnV Gallery, Jakarta, 2025).




