Tidak semua koleksi terbaik adalah koleksi yang paling spektakuler. Di Paris Fashion Week Men’s Spring/Summer 2027 yang dipenuhi panggung megah dan momen viral, KENZO justru memilih jalan yang lebih tenang. Tidak ada instalasi raksasa, tidak ada gimmick visual yang menguasai linimasa media sosial. Yang dihadirkan Nigo adalah sesuatu yang jauh lebih subtil: sebuah perjalanan pulang.

Perjalanan itu membawa KENZO kembali ke Place des Victoires, alun-alun bersejarah di Paris tempat Kenzo Takada membuka butik pertamanya pada 1976. Bagi sang pendiri, lokasi tersebut bukan sekadar alamat. Di sanalah seorang desainer asal Jepang berhasil mewujudkan mimpinya di ibu kota mode dunia, sekaligus memperkenalkan gagasan baru tentang Parisian fashion yang lebih bebas, penuh warna, dan tanpa batas budaya. Lima puluh tahun kemudian, Nigo kembali ke titik awal itu. Namun ia tidak sedang bernostalgia. Ia sedang membangun fondasi baru bagi KENZO.
Spring/Summer 2027 menjadi koleksi yang memperlihatkan bagaimana Nigo akhirnya menemukan keseimbangan antara dirinya dan warisan Kenzo Takada. Selama beberapa musim terakhir, ia terus berdialog dengan arsip rumah mode ini. Kini dialog tersebut terasa semakin matang. Inspirasi dari gaya pribadi Kenzo Takada, sosok Miles Davis pada era 1970-an, estetika Ivy League Amerika, workwear, tailoring bergaya dandy, hingga romantisme khas Paris bertemu dalam satu koleksi yang terasa alami, bukan dipaksakan.

Di tangan Nigo, rugby shirt tidak lagi sekadar pakaian olahraga, melainkan dapat berubah menjadi siluet yang lebih puitis. Varsity jacket tampil dengan detail payet yang halus. Tailoring menjadi longgar dan santai, sementara denim Jepang diperlakukan dengan presisi layaknya busana couture. Bahkan pita-pita dekoratif yang menjadi benang merah koleksi ini bukanlah ornamen semata, melainkan penghormatan kepada koleksi ribbon pribadi Kenzo Takada yang pernah melahirkan salah satu gaun paling ikonik dalam sejarah rumah mode tersebut.
Yang menarik, seluruh elemen itu tidak membuat koleksi ini terasa kostum. Justru sebaliknya dan ini mungkin koleksi KENZO paling wearable sejak Nigo mengambil alih arah kreatif rumah mode ini pada 2021. Sebagai salah satu maison dalam portofolio LVMH, KENZO tidak hanya dituntut menghasilkan mimpi di atas runway. Ia juga harus menciptakan pakaian yang benar-benar ingin dikenakan orang. Karena itu, workwear, relaxed tailoring, denim, varsity jacket, hingga aksesori baru seperti tas Victoire terasa seperti produk yang memang siap memasuki butik, bukan hanya menjadi objek editorial.

Selama bertahun-tahun, citra KENZO di Indonesia masih banyak melekat pada era Tiger Sweatshirt dan streetwear berlogo besar. Padahal di bawah Nigo, identitas tersebut telah bergeser secara signifikan. Hari ini, KENZO lebih dekat pada sebuah rumah mode Paris yang memiliki sensibilitas Jepang—lebih dewasa, lebih halus, namun tetap penuh karakter.
Mungkin tidak semua tampilan runway akan diterjemahkan secara utuh dan tersedia di butik. Rok, ribbon yang dramatis, atau permainan layering khas Paris kemungkinan besar akan tetap menjadi bahasa editorial. Tapi jaket varsity, work jacket, denim Jepang, tailoring santai, hingga tas kulit justru berpotensi menemukan konsumennya. Karena itu, Spring/Summer 2027 bukan sekadar koleksi musim baru. Ia adalah pernyataan mengenai siapa KENZO hari ini.
Dengan kembali ke Place des Victoires, Nigo seolah mengingatkan bahwa untuk melangkah ke masa depan, sebuah rumah mode harus terlebih dahulu memahami dari mana ia berasal. Boleh jadi, inilah alasan mengapa koleksi ini tidak berusaha menjadi yang paling berisik di Paris Fashion Week. Ia memilih menjadi sesuatu yang lebih penting: sebuah fondasi.



