Di tengah lorong sunyi dan dinding berusia ratusan tahun di Scuola Internazionale di Grafica, Indonesia menghadirkan sebuah paviliun yang terasa lebih seperti ruang ingatan ketimbang sekadar pameran seni. Bertajuk “Printing the Unprinted”, partisipasi Indonesia dalam 61st International Art Exhibition – La Biennale di Venezia bergerak melampaui presentasi karya jadi. Ia hadir sebagai laboratorium hidup, tempat seni grafis menjadi medium untuk mengingat, menelusuri sejarah, dan memproduksi pengetahuan baru melalui proses yang terus bergerak.

7 Seniman 7 Cerita
Apa yang dibawa Indonesai ke Venesia? tujuh seniman Indonesia justru membangun paviliun ini langsung di kota tersebut selama dua bulan residensi artistik. Mereka bekerja bersama para printmaker lokal, menyerap tradisi grafis Venesia yang telah hidup sejak berabad silam, sembari menciptakan dialog material antara Indonesia dan Italia. Dalam proyek ini, Venesia bukan sekadar latar eksotis, melainkan bagian aktif dari tubuh karya itu sendiri.

Kurasi Aminudin TH Siregar
Dikurasi oleh Aminudin TH Siregar, proyek ini menempatkan printmaking bukan hanya sebagai teknik reproduksi visual, tetapi sebagai ruang transmisi gagasan, gestur, dan memori lintas budaya. Pendekatan tersebut terasa sejalan dengan arah kuratorial Venice Biennale tahun ini yang memberi ruang bagi bentuk pertemuan artistik yang lebih tenang, reflektif, dan penuh perhatian terhadap detail kecil yang kerap luput dari sejarah besar dunia.

Manuskrip Imajiner
Di pusat paviliun, sebuah manuskrip imajiner berjudul Mentjap jang Tiada Bertjap: Plajeran Agoeng menjadi fondasi naratif seluruh pameran. Naskah fiktif yang dikisahkan berasal dari abad ke 15 itu ditulis oleh tokoh rekaan bernama Datu Na Tolu Hamonangan, seorang arsiparis dari kerajaan Harajaon Pusuk Buhit yang mendokumentasikan perjalanan maritim besar dari Danau Toba menuju Venesia. Lewat narasi spekulatif ini, paviliun Indonesia mengajak publik mempertanyakan kembali bagaimana sejarah global dibentuk dan siapa saja suara yang selama ini tidak pernah dicatat.

Karya Etsa dan Fragmen
Ruang utama paviliun dipenuhi 21 karya etsa yang disusun mengelilingi sebuah plinth besar tempat manuskrip tersebut dipresentasikan. Setiap seniman menghadirkan fragmen berbeda dari “The Great Voyage” mulai dari lanskap, rutinitas pelayaran, peta perjalanan, hingga potret manusia. Alih alih menghadirkan alur linear, keseluruhan ruang terasa seperti arsip visual yang retak namun hidup, memperlihatkan bagaimana sejarah selalu terdiri dari potongan sudut pandang yang saling bertubrukan.

Agus Suwage Dkk
Nama nama besar seni rupa Indonesia tampil dengan pendekatan yang sangat personal. Agus Suwage mengeksplorasi metafora “Land and Sea Crocodiles” untuk membicarakan ambisi dan dominasi manusia, sementara Syahrizal Pahlevi melanjutkan proyek Mobile Woodcut miliknya dengan mendokumentasikan lanskap dan komunitas Venesia sebagai bentuk interaksi sosial. Di sisi lain, Nurdian Ichsan menghadirkan Well for Venice, sumur simbolik yang menjadi portal memori dan refleksi batin manusia.

Sejarah Fiktif dan Post Mooi
Pendekatan berbeda muncul melalui karya R.E. Hartanto yang menjembatani sejarah fiktif dengan identitas Indonesia kontemporer melalui portraiture realistis. Sementara Theresia Agustina Sitompul menghadirkan POSTMOOI, pembacaan ulang kritis terhadap estetika kolonial Mooi Indië yang selama ini membingkai Indonesia secara romantis dan eksotis. Dengan teknik carbon paper prints, ia memperlihatkan jejak kerja, konsumsi, dan tubuh tubuh yang kerap dihapus dari narasi visual kolonial.

Intim dan Meditatif
Seniman lain seperti Mariam Sofrina dan Rusyan Yasin membawa pendekatan yang lebih intim dan meditatif. Mariam membangun lanskap penuh mitologi dalam seri Bukit Tunggul, sementara Rusyan menciptakan gulungan autoetnografi yang merekam keseharian residensi para seniman di Venesia. Keduanya menghadirkan pertanyaan yang sama pentingnya: dari mana sebenarnya waktu dan narasi berasal.

Paviliun Indonesia
Tidak berhenti sebagai ruang pamer, Indonesia Pavilion juga bergerak sebagai ruang pembelajaran lintas generasi melalui kolaborasi bersama komunitas Negeri Elok dan National Talent Management for Art and Culture. Tujuh talenta muda dari berbagai daerah di Indonesia dilibatkan dalam program mentorship bersama para seniman paviliun, menggunakan art therapy dan printmaking sebagai bahasa kolektif untuk membaca trauma sejarah sekaligus membangun proses penyembuhan bersama.

Printing the Unprinted
Melalui “Printing the Unprinted”, Indonesia tidak hanya hadir di 61st International Art Exhibition – La Biennale di Venezia sebagai peserta pameran seni internasional, tetapi juga sebagai penggagas percakapan baru tentang arsip, sejarah, kolonialisme, dan kemungkinan masa depan. Sebuah paviliun yang tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan membuka ruang bagi dunia untuk mendengar suara suara yang selama ini tertinggal di sela sela sejarah global.


