Musim dingin di Jepang memiliki daya tarik tersendiri yang tidak akan bisa Anda temukan di belahan bumi mana pun. Bukan cuma tentang saljunya yang lembut, namun juga soal ketenangan dan keheningan di pemukiman dan alam sekitarnya, tentang uap panas onsen yang bercampur dengan udara dingin pegunungan, tentang tradisi yang membentuk suatu budaya, dan tentang musim dingin yang selalu dirayakan dengan ritual yang penuh makna.
Sebelum ini, saya selalu berpikir bahwa pengalaman musim dingin terbaik di Jepang hanya bisa dinikmati di Hokkaido. Tapi perjalanan saya ke Nagano telah membuka perspektif yang sama sekali berbeda, memperlihatkan bahwa keindahan salju, tradisi pegunungan yang hangat, serta keramahan khas pedesaan Jepang justru terasa lebih intim dan autentik di sini. Di tengah lanskap Alpen Jepang yang sunyi dan tertutup salju, saya menemukan sisi musim dingin yang lebih personal, lebih tenang, dan entah bagaimana, jauh lebih menyentuh. Saat itulah saya mulai memahami, kalau Nagano adalah paket lengkap bagi Anda yang ingin merayakan musim dingin di Jepang. Karena di sinilah budaya dan tradisi berpadu dengan ketenangan dan keindahan alam yang luar biasa.

Perjalanan musim dingin kali ini membawa saya ke KAI Alps, salah satu properti dari Hoshino Resorts yang terletak di kawasan Omachi Onsen Village, yang dikenal sebagai gerbang menuju pegunungan Alpen di Utara Jepang. Di sini, saya merasa seperti kembali ke masa lalu, di mana waktu berjalan sangat lambat, seolah setiap detiknya sengaja diciptakan untuk memberi ruang bagi Anda bernapas lebih dalam, mendengar suara alam dengan lebih jernih, dan merasakan hangatnya tradisi yang masih dijaga dengan sepenuh hati.
Nagano: Ketika Salju Menjadi Bahasa Alam
Shuttle bus yang membawa saya dari Haneda melewati jalan berliku menuju pegunungan. Pemandangan pun perlahan mulai berubah, dari hiruk-pikir ibu kota yang super-sibuk, menjadi pemukiman yang dikelilingi pepohonan rindang. Kabut tipis berbaur dengan sinar matahari pagi, menciptakan atmosfer yang tampak dramatis. Begitu sampai di kawasan Nagano, semua berubah menjadi panorama putih, tampak rumah-rumah penduduk yang mengeluarkan asap dengan atap dan pekarangan yang tertutup salju.

Perjalanan dari Haneda menjuju ke KAI Alps memakan waktu kurang lebih lima jam, dengan dua kali berhenti di rest area. Sebenarnya ada banyak cara menuju KAI Alps dari Tokyo. Anda bisa menggunakan kereta menuju ke JR Nagano Station, lalu naik limited express bus, menempuh waktu 80 menit dari Stasiun Nagano ke KAI Alps. Atau Anda bisa menuju ke JR Shirano-Omachi Station, dan memesan taksi dengan jarak yang lebih dekat, sekitar 15 menit perjalanan. Khusus untuk musim dingin, Anda bisa naik shuttle bus gratis dari stasiun JR Nagano Station dan JR Shinano-Omachi Station untuk menuju ke KAI Alps. Anda perlu melakukan reservasi terlebih dahulu.
Omachi Onsen Village yang menjadi lokasi KAI Alps adalah tempat di mana tradisi hidup berdampingan dengan keindahan musim dingin. Desa-desa kecil berhias salju seakan menyambut setiap pelancong dengan ketenangan yang tak tergantikan. Saat saya turun dari bus, roma ringan kayu dan dedaunan musim gugur yang masih tersisa menyatu dengan udara dingin, perasaan damai itu langsung menyentuh.

KAI Alps sendiri menjadi salah satu akomodasi yang terkenal dan sangat dicari oleh para pelancong yang ingin merasakan musim dingin Jepang dengan cara yang tak biasa. Bangunannya tidak semata tertutup salju, ia menyimpan suara, aroma, dan jendela-jendela besar yang memanggil setiap tamu untuk berhenti sejenak, berpaling ke arah pegunungan berselimut putih.
Sambutan Hangat Irori: Bara Api yang Menenun Cerita
Begitu proses check in selesai di lobi utama, saya dibawa ke ruang Irori, sebuah ruang perapian tradisional Jepang yang menjadi jantung kehidupan di KAI Alps. Api kecil yang membara di tengah ruangan terasa bukan sekadar penghangat, tetapi seperti pusat ritme kehidupan musim dingin di sini.
Siang itu, di sana saya duduk bersama tamu lain, menikmati aroma teh hijau yang baru diseduh. Seorang pria paruh baya duduk di hadapan kami, ia bertindak sebagai pemandu yang menjelaskan tentang tradisi minum teh sambil menikmati Oyaki, makanan tradisional khas prefektur Nagano. Sesekali ia membolak-balik Oyaki yang dipanggang di atas panggangan datar yang dipanaskan di atas bara api. Ini merupakan kegiatan sederhana yang terasa bergitu menarik dan memuaskan karena menghubungkan kita pada tradisi lama yang jarang kita temui.

Letak Irori di tengah ruangan membuatnya seolah menjadi tempat penghubung obrolan ringan antar tamu. Sesekali tawa kecil terdengar menghangatkan ruangan yang dipenuhi aroma Oyaki. Di sinilah saya merasa benar-benar berada di tengah narasi hidup musim dingin Jepang, bukan sebagai pengamat, tapi sebagai bagian dari cerita itu sendiri.
Kamar Bernuansa Jepang Dengan Pemandangan Berselimut Salju
Belum sejam saya berada di KAI Alps, rasa senang dan semangat sudah menyelimuti diri saya. Namun sebelum saya melanjutkan beberapa kegiatan yang menanti di KAI Alps, sepertinya saya perlu ke kamar untuk istirahat sejenak dan menyegarkan diri. Saya mendapatkan kamar 105 di lantai dasar yang terletak di bangunan yang berbeda dari lobi utama.
Begitu pintu kamar terbuka, suasana hening langsung menyambut dengan kehangatan. Cahaya dari lampu washi khas lokal memantul halus di dinding, menciptakan atmosfer yang tenang dan intim, sementara tatami yang rapi dan low bed yang nyaman dan empuk terasa begitu mengundang setelah perjalanan panjang. Tata ruang seluas 42 meter persegi itu terasa lapang namun tetap personal. Sofa rendah di dekat meja seolah mengajak saya untuk duduk diam dan menikmati momen pertama di ruang ini.

Namun pusat perhatian sebenarnya adalah jendela besar yang membentang di satu sisi kamar. Dari sana, hamparan salju terlihat seperti kanvas putih tanpa cela, membungkus perbukitan dan desa kecil di kejauhan dalam balutan salju tebal. Cahaya musim dingin masuk perlahan, menyinari sudut ruangan dengan lembut, menciptakan kontras indah antara dinginnya lanskap luar dan hangatnya interior kayu yang menenangkan.
Kamar ini memadukan tradisi dan kenyamanan modern dengan sangat pas. Meskipun tidak dilengkapi bathtub dan hanya memiliki shower, fasilitasnya terasa lengkap. Dari humidifying air purifier yang menjaga udara tetap nyaman, hingga samue lengkap dengan outer-nya yang sudah tersusun rapi di lemari untuk dikenakan selama berada di hotel. Setiap detail, dari lampu baca hingga furoshiki atau kain pembungkus khas Jepang untuk membawa dompet dan gadget, terasa dipikirkan dengan cermat, menjadikan kamar ini bukan sekadar tempat beristirahat, tetapi ruang sunyi untuk benar-benar menikmati musim dingin Nagano dalam keheningan yang elegan.
Onsen: Simfoni Air Panas di Tengah Dingin
Onsen adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan ketika musim dingin tiba. Terutama ketika Anda berkunjung ke KAI Alps. Pada sore hari, saya mengikuti sesi ABC Onsen, sebuah pengantar yang tidak hanya menjelaskan tata cara mandi air panas di Jepang, tetapi juga sejarah dan maknanya di kalangan masyarakat lokal.

Onsen bukan sekadar mandi, ia adalah ritual. Di pegunungan Nagano, sumber air panas telah menjadi bagian dari kehidupan selama berabad-abad, tempat tubuh dan pikiran dibersihkan dari kelelahan dan stres. Suara gemericik air, uap yang mengepul lembut, dan aroma mineral yang ringan menciptakan ruang yang terasa hampir meditatif. Saya pun belajar bagaimana mandi di onsen seharusnya dimulai dengan membersihkan tubuh secara menyeluruh, kemudian memasuki air panas secara perlahan, lalu menikmati setiap detik sambil membiarkan otot-otot rileks oleh kehangatan yang meresap.
Ketika saya duduk di rotenburo, pemandian air panas luar ruangan, langit perlahan menjadi gelap dan tertutup bintang. Saya merasakan kenyamanan dan relaksasi yang tak pernah saya rasakan sebelumnya. Udara dingin di luar yang menerpa kulit seperti kontras dengan panasnya air onsen, seakan dua elemen yang berlawanan bersatu memberikan sensasi hangat yang menenangkan tubuh.
Rasa dan Cerita: Kuliner Musim Dingin yang Menyentuh Indra
KAI Alps memahami bahwa musim dingin bukan hanya soal pemandangan, tetapi juga soal rasa. Setiap hidangan yang saya santap di KAI Alps seperti bagian dari sebuah simfoni rasa yang disusun dengan cermat.
Malam pertama saya duduk di ruang makan dengan bilik pribadi dan jendela besar membingkai pemandangan taman indah yang tertutup salju di luar. Kontras dengan indahnya hidangan khas Nagano yang disajikan malam itu. Makanan dihidangkan secara berurutan, dimulai dari yang ringan seperti berbagai macam acar dan sayuran khas Shinshu yang diracik dengan keseimbangan rasa yang menggugah selera. Lalu dilanjutkan dengan sashimi segar yang lumer di mulut, dan sup yang menghangatkan tubuh setelah seharian diterpa udara dingin. Tiap suapan membawa saya lebih dalam ke ritme hidangan khas musim dingin di Nagano, sebuah perjalanan rasa yang tak hanya sekadar memuaskan perut, tetapi juga menyatukan tubuh dan jiwa.

Keesokan paginya, sarapan mengikuti ritme serupa. Nasi yang hangat, sup miso tradisional, ikan panggang yang harum, dan acar lokal yang tertata rapi di piring kecil, semuanya disajikan dengan rapi, tanpa terburu-buru, seolah memberi tahu bahwa makan adalah bagian dari pengalaman yang menenangkan. Suasana ruang makan yang tenang, disertai pemandangan taman bersalju, membuat setiap makanan terasa seperti bagian dari ritual menyatu dengan musim.
Belajar Membuat Tsukemono: Membentuk Rasa dari Kearifan Lokal
Banyak aktivitas seru yang bisa Anda lakukan di KAI Alps. Salah satu hari saya diisi dengan pengalaman unik belajar membuat Tsukemono, acar tradisional Jepang yang biasa dijadikan sebagai makanan pembuka atau pendamping di hampir setiap hidangan khas Jepang. Kami berkumpul di sebuah ruang hangat, memilih sayuran segar yang dipetik dari kebun lokal, lobak putih yang tebal, mentimun dengan kulit yang renyah, apel dan sawi segar, yang menampilkan warna-warni alami mereka.

Seorang Obaasan yang menjadi instruktur kami saat itu memandu setiap tahap dengan sabra. Ia menjelaskan bagaimana garam meresap dalam sayuran, bagaimana cara menekan dan memeras bahan-bahan tersebut untuk memeras cairan, dan bagaimana proses fermentasi kecil itu nantinya menciptakan rasa yang kompleks dan memikat. Saya merasa terhubung dengan setiap langkahnya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Bau sayuran saat garam pertama kali dicampur, suara cairan yang keluar perlahan, sampai taburan bumbu terakhir yang memberi karakter pada acar tersebut. Setelah semua tahap dilakukan secara teliti, acar harus didiamkan selama 24 jam.
Ketika akhirnya saya mencicipi hasilnya keesokan harinya, saya merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa asin atau asam. Saya seperti merasakan sebuah proses, waktu, dan perhatian yang saya berikan pada setiap sayuran. Tsukemono di sini bukan sekadar makanan pelengkap, tetapi simbol bagaimana musim dingin dijadikan bentuk ekspresi rasa.
Kamakura Lantern: Cahaya yang Membimbing Jiwa
Suatu malam di KAI Alps saya mengikuti kegiatan Kamakura Lantern Light Up, sebuah pengalaman yang terasa seperti bagian dari cerita dongeng. Para tamu akan diajak untuk membuat Kamakura atau miniatur rumah salju yang digunakan untuk menyalakan lilin. Kami mengambil salju yang baru turun untuk dimasukkan ke dalam cetakan ember, lalu dipadatkan hingga penuh. Setelah itu, kami membawa cetakan berisi salju padat tersebut ke Gangi atau koridor beratap kayu di sepanjang lorong masuk ke KAI Alps. Ketika cetakan diangkat terlihat gundukan salju padat berbentuk ember terbalik, kemudian di salah satu sisi yang menghadap ke luar koridor, kami membuat lubang untuk meletakkan lilin di dalamnya.

Saat malam perlahan turun dan langit menjadi kanvas biru-kelam, kami berjalan melalui lorong salju yang di kanan-kirinya telah tertata lentera Kamakura. Tiap lilin di dalam lentera Kamakura dinyalakan dengan hati-hati, seakan setiap cahaya mengandung doa dan harapan. Saat semua lentera telah dinyalakan di sepanjang lorong dan koridor Gangi, atmosfer berubah menjadi pemandangan yang menakjubkan: cahaya lembut yang berkilau di permukaan salju, memantulkan sinar kekuningan yang terasa hangat dan menenangkan.
Saya terdiam sejenak, membiarkan setiap pijar cahaya itu memukau mata dan pikiran saya. Malam itu, Kamakura Lantern seperti sebuah ritual cahaya, yang menjadi momen refleksi, seolah musim dingin mengajak kita untuk menikmati keheningan dan ketenangan yang tak pernah kita rasakan sebelumnya.
Belajar Meluncur di Atas Salju di Hakuba Goryu
Tidak lengkap rasanya jika musim dingin tanpa bermain ski. Dari KAI Alps, shuttle bus sudah dipersiapkan untuk para tamu yang ingin bermain ski atau snowboard menuju Hakuba Goryu Ski Resort, sebuah area ski yang megah dengan pemandangan pegunungan yang dramatis. Sehari sebelum kami berangkat, seorang staf KAI Alps membantu saya menyewa peralatan, dari sepatu ski, papan ski, hingga tongkat. Sehingga disaat kami tiba di Hakuba Goryu, proses peminjaman peralatan ski menjadi lebih cepat dan mudah.

Ini bukan pertama kali saya berdiri di atas ski, namun selalu ada kegembiraan tersendiri setiap kali berada di atas papan ski untuk meluncur di atas salju. Angin dingin yang menghantam wajah saat meluncur pelan di lereng ski memberikan sensasi yang luar biasa. Bagi Anda yang belum pernah bermain ski sebelumnya, di sini juga tersedia instruktur ski yang bisa mengajarkan Anda secara private atau bersama grup. Anda akan diajarkan dari dasar hingga bisa cukup aman untuk meluncur sendiri di atas papan ski.
Hakuba Goryu Ski Resort sendiri menawarkan kombinasi menarik antara salju berkualitas tinggi, pemandangan pegunungan yang memukau, dan fasilitas resort yang lengkap untuk pemula hingga ahli. Tak heran bila tempat ini selalu menjadi salah satu destinasi favorit banyak turis lokal dan internasional yang ingin bermain ski atau snowboard.

Pada bagunan utama, selain menjadi tempat penyewaan alat, terdapat juga restoran, locker, dan VIP lounge, termasuk Mountain Lounge yang eksklusif diperuntukkan bagi tamu KAI Alps. Dari lounge yang hangat ini, Anda bisa beristirahat sejenak sambil memandang panorama ski yang luas. Duduk dengan secangkir kopi panas di tangan, saya memandangi para pemain ski yang lincah meluncur di lereng terbuka, dan rasanya seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang penuh energi.
Perjalanan Musim Dingin yang Lengkap dan Penuh Makna
Ketika hari terakhir tiba, saya memandang kembali pegunungan bersalju dari jendela kamar, saya tahu bahwa pengalaman ini akan terus hidup dalam ingatan saya. Tidak sebagai kenangan semata, tetapi sebagai pelajaran tentang bagaimana kita bisa menemukan ketenangan dalam keindahan, rasa dari sebuah tradisi, dan makna dalam setiap detik yang kita beri perhatian.
Dan jika Anda ingin benar-benar merasakan musim dingin Jepang yang tak hanya indah tetapi juga bermakna, berangkatlah ke Nagano. Di KAI Alps, musim dingin bukan sekadar salju, tapi sebuah kenangan yang menunggu untuk dirasakan.
Foto utama: doc. KAI Alps

