Salah satu desainer Indonesia yang sejak awal tahun 2000an telah konsisten menancapkan gaya desainnya yang highly stylised, conceptual, berantakan tapi terkontrol (alias intelligent chaos), juga gender–neutral, adalah Sofie. Kemampuannya dalam memain-mainkan everyday style, sangat menggelitik, look terkesan formal tapi rasanya enggak formal, atau enggak formal tetapi set tata styling nya berkesan formal. Begitulah Sofie yang kali ini kembali menyapa peta fashion Indonesia dengan koleksi terbarunya bertajuk ALGORIREBEL di panggung JF3 2025.

Rebellious terhadap Algoritma
Dari judul koleksinya saja, sudah terkulik kemana arah pemikirannya, ‘rebellious terhadap algoritma’. Ia ingin mendobrak sistem digital penciptakan algoritma yang begitu mempengaruhi cara kerja kreatif manusia, membuat pikiran kreatif hampir-hampir serba seragam. Dalam koleksi ini, SOFIE mengimajinasi ulang pakaian-pakaian yang ordinary menjadi unik, bomber jacket dibuat pendek dengan garis bahu yang dropped, kimono asimetri berlapel formal ala pea coat, sepotong cape malah berkesan cargo jacket ber-hoodie, celana cargo tetapi bagian pinggangnya berserut dengan efek ruffle, biker jacket menyembunyikan kemeja putih bergaris kancing asimetri.

Tenun Baduy dan Lurik penghadang algoritma
Sofie menggunakan bahan-bahan tenun Baduy yang nyaman bersilangan dengan bahan lurik yang tegas, pilihan bahan yang mengajak kita untuk kembali membumi, sembari menciptakan bahasa visual baru yang menyatukan tradisi dan post-digital rebellion, menghadirkan benturan antara nilai warisan dan estetika masa depan. ALGORIREBEL adalah sebuah manifesto yang mempertanyakan apakah ekspresi personal kita hari ini masih murni atau telah disetel oleh sistem yang membaca perilaku dan preferensi kita. Ini adalah suara hati Sofie, bahwa fashion di era digital bukan hanya tentang estetika, tapi juga tentang kemampuan menjaga diri agar tidak tersesat ditelan algoritma.



















