Denting dawai Sape seakan menjadi penanda pulang. Setelah dua tahun absen dari panggung Jakarta Fashion Week, Wilsen Willim kembali membawa narasi yang berdaya: Tenun Dayak Iban dari jantung Kapuas Hulu. Koleksi ini merupakan lanjutan dari paruh pertama yang dipresentasikan pada September 2025, sebuah dialog berkelanjutan tentang filosofi, doa, dan harapan yang terjalin dalam setiap helai lungsi dan pakan yang berkarakteristik lebar kecil. Wilsen memperlakukan tenun ini sebagai bahasa memori, jejak perjalanan, sekaligus ritus penghormatan terhadap mereka yang menjaganya.

Wilsen Willim X Cita Tenun Indonesia
Dengan dukungan Kawan Lama Group, Wilsen Willim bersama Cita Tenun Indonesia merancang pelatihan langsung di Putussibau—mengajarkan pemasaran berbasis teknologi, pemahaman kebutuhan pasar, hingga eksplorasi pewarnaan alami. Bukan hanya melestarikan tradisi, namun memastikan keberlanjutannya sebagai penopang ekonomi keluarga lintas generasi. Para pria membentuk alat tenun, para perempuan menenun masa depan; suatu ekosistem yang saling melengkapi, penuh kebanggaan dan martabat budaya. Di tengah pusaran mode yang cepat berubah, inisiatif ini terasa sebagai pernyataan: bahwa kemewahan tertinggi adalah kesinambungan.

Tenun Dayak Iban dan Tailoring
Koleksi paruh kedua ini memadukan Tenun Dayak Iban dengan material modern menjadi ragam luaran berpotongan tailoring, rok, kemeja, celemek, rompi, korset, hingga pantalon. Warna-warna alami yang lebih akrab dan membumi menjadi lanskap tekstil yang hangat, berbeda dari palet koleksi sebelumnya yang lebih kekuningan. Teknik cording menyerupai seragam militer dipadukan kontras dengan payet logam dan koin keperakan bernuansa tribal, menghasilkan siluet yang tegas namun tetap puitis. Tepian kain dikepang menyerupai makrame, membentuk motif yang seolah bernafas di atas tulle—sentuhan yang merayakan tradisi tanpa kehilangan kejernihan kontemporer. Presentasi ini turut disempurnakan dengan aksesori dari Subeng Klasik.

Dari Pedalaman Kapuas Hulu
Pada akhirnya, ini bukanlah penutup suatu bab, melainkan titik awal perjalanan yang lebih panjang. Pengalaman Wilsen Willim menyusuri pedalaman Kapuas Hulu meninggalkan kesan yang tak lekang: bahwa tenun bukan sekadar kain, melainkan identitas yang hidup. Dari sungai yang mengalir tenang hingga panggung kota yang penuh cahaya, cerita ini terus mengalir—mendorong kreasi, harapan, dan masa depan yang terus menenun dirinya sendiri. Wilsen Willim dan Tenun Dayak Iban masih berjalan bersama, dan perjalanan itu baru dimulai.










