Luxina, Di tengah perjalanan panjang yang telah melampaui satu abad, Louis Vuitton kembali merayakan Monogram sebagai bahasa personal yang hidup. Bab terbaru kampanye ini diabadikan oleh fotografer Glen Luchford dan disutradarai oleh Roman Coppola, menempatkan para House Ambassador serta Friends of the House dalam lanskap naratif yang intim. Tas tidak lagi hadir sebagai objek kepemilikan, melainkan sebagai teman perjalanan yang menyimpan jejak waktu, memori, dan kesinambungan generasi.

Speedy Zendaya
Kampanye ini dibuka oleh Zendaya yang menghidupkan kembali Speedy, tas yang lahir pada awal 1930 an sebagai simbol modernitas dan kebebasan bergerak. Siluetnya yang lembut, ritsleting lebar, serta handle ikonis menandai semangat generasi yang terus bergerak. Sejak Monogram canvas diperkenalkan pada 1959, Speedy berkembang menjadi kanvas kreatif yang terbuka terhadap reinterpretasi artistik, mencerminkan ritme hidup Zendaya yang dinamis sekaligus relevansi desain yang tak pernah kehilangan momentum.

Catherine L’Alma
Sementara itu, Catherine Deneuve menghadirkan kedekatan personalnya dengan Alma, tas yang memancarkan keanggunan Parisian dengan struktur yang presisi. Berakar pada garis desain Art Deco, Alma menyeimbangkan disiplin arsitektural dan kelembutan estetika. Narasi Deneuve menegaskan bagaimana sebuah tas mampu menjadi ruang pertemuan antara warisan, pengalaman personal, dan interpretasi kontemporer yang terus berkembang.

Liu dan Hoyeon
Narasi kemudian berlanjut melalui Liu Yifei bersama Noé yang lahir dari kebutuhan praktis membawa botol champagne, serta Hoyeon yang menyoroti Neverfull sebagai ikon carry all modern. Keduanya memperlihatkan bagaimana inovasi awal trunk Louis Vuitton berevolusi menjadi pernyataan gaya yang personal. Melalui perjalanan sekitar 130 tahun, Monogram berdiri sebagai penanda kesinambungan antara heritage dan modernitas, menjadikan perjalanan bukan sekadar perpindahan ruang, melainkan praktik estetika yang diwariskan ke masa depan.



