Semangat keriangan bermain, atau dalam bahasa Jawa “dolan”, diterapkan Priyo Oktaviano pada koleksi terbaru yang ia tampilkan di Jogja Fashion Week 2026. DOLAN bukan sekadar semangat dan judul koleksi semata, ia juga sebuah cara pandang terhadap pakaian pria, bahwa setelan berpakaian janganlah selalu serius, tertawalah dengan warna, mainkan garis siluet, eksperiman dengan tradisi untuk keseruan berpenampilan, untuk mendapatkan energi baru yang inspiratif.

Power Jogja Fashion Week 2026
Gagasan DOLAN diterjemahkan ke dalam menswear yang menyatukan spirit leisure, liburan, dan pergaulan sosial yang photogenic. Pilihan Yogyakarta sebagai tempat peluncuran koleksi pun memberi makna bahwa satu koleksi yang powerful tidak selalu harus bergantung pada pentas Jakarta atau bahkan kota mode dunia. Yogyakarta, kota artistik dengan ekosistem kreatif dan akar budaya yang kuat, mampu juga sebagai ruang solid untuk meletupkan ide tradisi dengan cara berpakaian kontemporer. Lalu, dampaknya lainnya adalah, Jogja Fashion Week punya power untuk berkibar secara nasional.

Priyo Oktaviano dan Kebebasan Pola Pikir
Permainan desain Priyo di koleksi ini sangat mengesankan kebabasan pola pikir idaman orang kreatif. Berani tetapi juga make sense. Inilah resort-tailoring versi Priyo Oktaviano, terstruktur, terencana, playful, berselera humor dari siluet extra oversized yang so much fun. Bahu Blazer bukan saja drop shoulder, tapi bagaikan jauh drop ke jurang. Jaket bomber hampir lenyap identitasnya ditelan lengan jaket bersiluet cocoon. Lapel beskap, diperpanjang asimetri di satu sisi, hemline jadi merdeka. Celana pendek beraneka bentuk, dari yang 80s sampai yang hareem, semua meletup dengan detail dan warna.

Warna-warna DOLAN
Eksplorasi warna menjadi salah satu denyut paling kuat dalam koleksi “Dolan”. Sunflower yellow bertemu lapis lazuli, lalu bergerak ke forest green dan gamboge, sebelum menemukan karakter yang lebih tak terduga pada amaranth, pompadour, dan sangria. Warna-warna ini tidak datang untuk sekadar meramaikan pakaian, tetapi membangun suasana hati DOLAN yang optimistis, ekspresif, dan sedikit tengil.

Motif dan Savoir-Faire
Motif juga mendapat ruang bermain yang cukup besar. Geometri menyerupai bintang atau bunga dalam perpaduan biru tua dan putih memberi aksen grafis yang kuat, diperkuat tekstur material yang mengingatkan pada tweed atau tenunan rapat. Pada detail yang lebih kecil, kerah kemeja dihiasi liontin, aksen kerang, atau batu alam, menghadirkan nuansa tropis yang subtil. Bordir, jahitan tangan, aplikasi, beads, hingga sentuhan faux pearls menjadi bukti bahwa menswear pun dapat menikmati kemewahan detail level savoir-faire.

Tenun Bugis dari Wajo Sulawesi Selatan
Salah satu kekuatan koleksi ini adalah cara Priyo Oktaviano membawa wastra Indonesia ke dalam bahasa kontemporer. Tenun Bugis yang dikerjakan para perajin dari Wajo, Sulawesi Selatan, hadir bukan sebagai ornamen tempelan, melainkan bagian dari eksplorasi material dan identitas koleksi. Referensi motif Kawung dan Truntum juga muncul melalui teknik bordir repetitif, membuka kemungkinan baru bagi motif-motif tradisional untuk hidup dalam ritme fashion pria modern. Tradisi tidak diperlakukan sebagai benda museum, tetapi sebagai materi kreatif yang terus bergerak.

21 Tahun Jogja Fashion Week
Tema Jogja Fashion Week tahun ini adalah “Dari Akar Budaya Bergema ke Dunia”. Dan memilih Priyo Oktaviano untuk berpartisipasi adalah keputusan yang strategis. Koleksi “DOLAN” bukan sekadar pakaian untuk main-main, ia diciptakan juga dengan pola pikir yang juga “DOLAN” tetapi berilmu. Sebuah koleksi yang seru untuk usia Jogja Fashion Week 2026 yang memasuki edisi ke-21. Sejak hadir pada 2004, platform ini terus mempertemukan desainer, perajin, komunitas, industri, dan publik dalam percakapan tentang masa depan fashion Indonesia.










