Kuda Sumba ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang dari sekadar kecepatan di lintasan pacuan. Di balik sosoknya yang tangguh, terdapat sejarah, tradisi, hingga nilai spiritual yang telah hidup selama ratusan tahun dan bahkan diabadikan dalam tenun ikat khas Sumba.
Bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar hewan tunggangan. Kehadirannya telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, mulai dari mengangkut hasil panen, berburu rusa dan babi hutan, hingga digunakan sebagai kendaraan dalam peperangan pada masa lalu.
Posisi kuda semakin istimewa karena erat kaitannya dengan berbagai tradisi adat. Salah satunya adalah Pasola, ritual tahunan khas Sumba yang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan kuda.
Dalam Pasola, kuda bukan hanya menjadi tunggangan para peserta. Kehadirannya merupakan bagian dari ritual syukur atas hasil panen sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur.
Dalam kepercayaan Marapu, makna kuda bahkan memiliki dimensi spiritual. Kuda dipercaya menjadi kendaraan bagi arwah untuk menuju alam baka sehingga keberadaannya juga hadir dalam sejumlah upacara kematian.
Tak hanya itu, kuda juga menjadi bagian dari belis atau mahar dalam pernikahan adat. Kepemilikan kuda pada masa lalu bahkan dapat mencerminkan kehormatan, status sosial, dan martabat seorang laki-laki.
Kehebatan Kuda Terekam dalam Tenun
Besarnya peran kuda dalam kehidupan masyarakat Sumba kemudian tidak hanya diwariskan melalui cerita dan tradisi, tetapi juga direkam dalam karya seni. Motif kuda menjadi salah satu elemen penting dalam tenun ikat Sumba. Namun, gambar kuda yang hadir di atas kain bukan sekadar dekorasi.
Motif tersebut merepresentasikan berbagai nilai, seperti kebangsawanan, kewibawaan, keberanian, hingga hubungan spiritual antara manusia, alam, dan leluhur.
Melalui teknik stilasi, bentuk kuda diterjemahkan menjadi pola geometris dan simbol-simbol khas. Para penenun seolah mengubah pengalaman masyarakat terhadap kuda menjadi sebuah bahasa visual yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, tenun ikat Sumba dapat dipandang sebagai semacam “arsip budaya” yang merekam perjalanan masyarakat sekaligus menunjukkan betapa pentingnya posisi kuda dalam kehidupan Sumba.
Dari Sandelwood hingga Pacuan Modern

Warisan tersebut semakin menarik karena Sumba merupakan tanah asal Kuda Sandelwood, salah satu ras kuda lokal Indonesia yang dikenal memiliki daya tahan tinggi, lincah, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang keras.
Secara fisik, Sandelwood memang relatif lebih kecil dibandingkan sejumlah ras kuda impor. Namun, keunggulannya terletak pada stamina dan kemampuan beradaptasi yang membuatnya sejak lama memiliki peran penting dalam dunia berkuda di Indonesia.
Dalam perkembangan pacuan kuda modern, Sandelwood kemudian banyak dikembangkan melalui persilangan dengan Thoroughbred untuk mendapatkan kombinasi postur, kecepatan, dan stamina yang lebih optimal.
Jejak darah kuda lokal Sumba tersebut kemudian turut mengalir dalam perkembangan kuda-kuda yang berlaga di berbagai ajang pacuan kuda nasional, termasuk Indonesia’s Horse Racing.
Dengan kata lain, sebagian cerita tentang kuda pacu Indonesia hari ini sebenarnya memiliki akar yang jauh lebih tua: dari padang-padang Sumba, tradisi masyarakat, hingga lembaran tenun ikat.
Ketika Warisan Berkuda Menjadi Sportainment
Kisah tersebut kembali mendapatkan perhatian melalui pameran “The Sacred Horse of Sumba” yang digelar dalam rangka satu dekade LUXINA. Koleksi tenun ikat langka yang dipersembahkan Cita Tenun Indonesia membawa publik untuk melihat kuda dari perspektif yang lebih luas.
Kuda tidak hanya ditampilkan sebagai simbol olahraga atau kecepatan, tetapi sebagai bagian dari sejarah, budaya, identitas, prestise, dan filosofi kehidupan masyarakat Indonesia.
Hal ini menjadi semakin relevan di tengah perkembangan Indonesia’s Horse Racing sebagai ekosistem olahraga dan sportainment modern.
Pacuan kuda tidak harus berdiri sendiri sebagai sebuah kompetisi. Di dalamnya terdapat sejarah, budaya, fesyen, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga gaya hidup yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang lebih luas bagi masyarakat.
Dari motif kuda yang ditenun dengan tangan hingga kuda yang berpacu mengejar garis finis, keduanya sebenarnya menceritakan hal yang sama: tentang hubungan panjang manusia Indonesia dengan kuda.
Dan dari Sumba, kita diingatkan bahwa sebelum kuda-kuda Indonesia berlari mengejar kemenangan di lintasan, kehebatan mereka telah lebih dulu diabadikan dalam benang dan kain oleh leluhur Nusantara.


