Fritz Hansen, jenama desain asal Denmark yang berdiri sejak tahun 1872, dikenal di seluruh dunia sebagai salah satu ikon utama desain furnitur Skandinavia, membuka babak baru di Jakarta dengan menghadirkan Fritz Hansen Place yang bukan sekadar showroom, melainkan destinasi kultural di mana desain Nordik bergandengan dengan kehangatan kultur Indonesia. Tempat ini berubah menjadi lanskap pengalaman multisensorial, menampung F.H. Café dan Audio Archive yang menggabungkan keindahan desain, musik, serta suasana kontemplatif.

Arsip Audio di Fritz Hansen Place
Dilengkapi sistem suara Dynaudio, pengunjung diajak menelusuri arsip audio, koleksi piringan hitam, hingga ruang dengar pribadi yang menyalurkan suara dengan kejernihan sempurna. Café-nya sendiri menjadi oase baru di tengah hiruk-pikuk Jakarta—tempat menikmati pastry hangat dan kopi spesialitas di antara furnitur ikonik Arne Jacobsen dan Jaime Hayon, menghadirkan pengalaman hygge yang lembut dan berkarakter.

Yunie Jie Sumba Lounge Collection
Di balik wajah baru Fritz Hansen Place Jakarta, hadir sentuhan tangan Yuni Jie yang menghadirkan dialog intim antara penyempurnaan Skandinavia dan hangatnya narasi Nusantara. Melalui SUMBA Lounge Collection, Yuni menafsirkan kembali kain tenun Sumba dalam bentuk kursi Ro dan Fri edisi terbatas dengan balutan tekstil Kvadrat yang menggoda mata dan indra. Ada keindahan yang bersumber dari keseimbangan—antara warna, tekstur, dan narasi lokal—menghidupkan kembali roh tradisi dengan napas desain kontemporer.

TENUN: Weaving the Thread of Indonesia
Kolaborasi berlanjut lewat proyek TENUN: Weaving the Thread of Indonesia bersama Floorstudio, di mana Yuni Jie mengangkat motif-motif budaya Nusantara ke dalam karya seni dinding dan karpet modern. Seri White Stillness dan Aurora Dream berbicara tentang ketenangan dan keberlanjutan; keduanya lahir dari benang sisa, namun menghasilkan keindahan baru yang puitis dan berkesadaran. Karya seperti Weave of Timor dan Songket Dawn menegaskan bahwa desain modern tidak harus memutus akar, melainkan dapat menenun ulang identitas bangsa ke dalam estetika global yang penuh kelembutan dan harmoni.

DuAnyam Tangan-Tangan Perempuan
Menutup kisah ruang ini, instalasi weaving basket totem karya Yuni Jie bersama DuAnyam menjadi simbol pengikat antara keberlanjutan dan pemberdayaan. DuAnyam—yang sejak 2014 telah memberdayakan lebih dari 1.600 perempuan penganyam di lebih dari 50 desa Indonesia—menghadirkan narasi tentang tangan-tangan perempuan yang mengubah tradisi menjadi kemakmuran. Di sini, desain bukan lagi milik galeri, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari; tentang keberanian untuk mencipta tanpa kehilangan akar.

Denmark dan Indonesia
Lebih dari sekadar tempat, Fritz Hansen Place Jakarta adalah ruang hidup yang memadukan desain, budaya, dan komunitas. Ia menandai dialog hangat antara Denmark dan Indonesia, antara bentuk dan makna, antara suara dan keheningan. Seperti setiap karya Fritz Hansen sejak 1872, ruang ini adalah manifestasi dari craftsmanship yang abadi—sebuah undangan bagi siapa pun untuk berhenti sejenak, mendengar, dan merasakan bagaimana desain dapat menjadi bahasa kemanusiaan yang paling indah.





