
Pukul 20.20 waktu Jakarta, konser dibuka dengan voice over dan terangkatnya layar ber- drapery berwarna merah. Di tiket masuk, konser dimulai pukul 20 sehingga penonton tidak perlu menunggu lama untuk menyaksikan pagelaran selebrasi musikal Suarasmara, pada Sabtu, 15 Nopember 2025 di Istora Senayan, Jakarta. Konser yang menandai 25 tahun Andien Aisyah berkarir di industri musik Indonesia sebagai penyanyi pop-jazz.
Konser ini dibagi dalam empat segmen di bawah payung Suarasmara; The Town of Suarasmara, Valentina Theatrum, Windows Wonderland dan Winamp Party Portal. Di setiap segemen Andien berganti kostum yang setiap kostum disesuaikan dengan tema dan lagu. Disinilah, setiap kostum yang dipakai Andien bekerja dengan baik mendukung performanya sebagai penyanyi professional.

Segmen pertama, The Town of Suarasmara, mengingatkan saya akan film dan Broadway musical, Chicago. Terasa, mungkin, menjadi referensi, tapi diinterpretasi dengan nafas dan elemen yang berbeda oleh Creative Director konser ini, Shadtoto Prasetio. Andien membuka dengan lagu Moving On yang bertempo cepat dan ceria, yang langsung membuat penonton bertepuk dan bergoyang dari tempat duduk. Andien mengenakan korset off white dengan rok mini balon karya Hian Tjen bergaya Moulin Rouge, dengan aksesoris sejenis pom rumbai merah dikedua lengan. Rambut dibuat dengan model finger wave super wet yang membuat total look ini mendekati gaya 20-an era gatsby. Dengan tata lampu, dekor panggung dan penari latar yang berjumlah delapan yang mendukung vibes 20-an ini. Termasuk koreografi. Sebuah pembuka yang sangat memorable yang berpotensi menjadi bahan pembicaraan dalam waktu yang lama.

Selanjutnya segemen kedua, Andien mengenakan ball gown Ivan Gunawan berwarna midnight blue dengan taburan kristal pada bagian atas dan rok ball gown bahan taffeta midnight blue yang kemudian dibuka dan total look menjadi terusan dress mini yang atasanya ditambah dengan bolero. Segmen ini terasa lebih jazzy yang dibuka dengan duet piano bersama Indra Lesmana. Yang ditutup dengan duet bersama diva Indonesia, Vina Panduwinata. Di segmen ini, gaun rancangan Ivan Gunawan bekerja dengan sangat baik, membuat Andien terlihat begitu glamor, bersinar dan terasa Andien adalah seorang seniman berkelas. Segemen ketiga kemudian mengalir dengan gaya grunge 90-an, plaid mini skirt, leather bustier dan topi kulit rancangan Dibba, dengan rambut bob kembang bergelombang. Pada segmen terakhir, yang juga berkolaborasi dengan Disko Ria, Andien mengenakan flapper dress dengan bustier berwarna perak yang penuh dengan bordiran seolah berefek fringe, sehingga membuat fringe berterbangan saat bergerak cepat. Dress ini adalah rancangan maestro korset Eddy Bety.
Melihat konser Suarasmara dari awal hingga akhir, selama 2,5 jam, sangat terasa kematangan Andien dalam melakukan pekerjaannya. Mulai dari tata panggung, kostum dan kolaborator, terasa sangat simple tapi kompleks, detil demi detil hampir tidak terlewatkan. Penggantian kostum yang hanya empat kali, panggung datar yang hanya dilengkapi ridging sebagai level, layar LED sebagai latar panggung dan area orkestra yang dibiarkan temaram agak tak terlihat ramai. Oh ya, konser ini diiringi oleh full orkestra yang dikondekturi oleh Toh Pati. Dan orkestra ini juga salah satu elemen dari kematangan tersebut.

Kematangan ini juga terlihat dari penari latar yang berjumlah 8 orang yang benar-benar memanfaatkan semua fitur dekorasi panggung. Mereka tidak tampil di setiap lagu yang dinyanyikan Andien. Ada saat Andien menguasai panggung dengan leluasa dan benar-benar memperlihatkan kemampuannya sebagai entertainer. Kostum juga dibuat yang (terlihat) mudah untuk diganti, tanpa mengganti make-up total dengan wig yang mudah dibongkar pasang agar tetap mengikuti vibes dari keempat segmen.
Yang orang pikir bahwa ini adalah pembuktian karir dan kemampuan Andien dalam bernyanyi, sebenarnya tidak ada yang perlu dibuktikan. Andien terlihat sangat enjoy dan rilleks di setiap momen selama 2,5 jam tersebut dengan menjadi dirinya sendiri, bahkan disaat ia haus dan harus minum. Dari awal konser hingga akhir, Andien bernyanyi tanpa kehilangan kendali sekalipun dengan energi yang stabil.
Penonton terasa sangat dimanja dengan visual dan suara yang begitu berkelas, bukan hanya berupa konser penyanyi, seolah Andien juga ingin membagi hiburan berkualitas dari segala aspek. Semua terlihat begitu terintegrasi dan menyatu. Mulai dari kostum panggung, koreografi, tata cahaya, orkestra yang berkelas, hingga para kolaborator, yang masing-masing berkontribusi di level sama, untuk menyuguhkan konser yang indah, untuk penglihatan dan telinga. Selamat 25 tahun berkarya dan memperkaya industri musik Indonesia, Andien!



