Ada yang menarik dari HOSHINOYA Tokyo yang selalu membuat saya penasaran, terutama setelah mendengar banyak cerita tentang bagaimana hotel ini terasa seperti dunia lain di tengah Tokyo. Bukan hanya karena namanya kerap muncul dalam daftar hotel terbaik dunia, tetapi juga karena konsepnya yang sulit dibayangkan, yaitu sebuah ryokan Jepang yang berdiri di tengah Otemachi, distrik finansial yang dipenuhi gedung pencakar langit, ritme kerja cepat, dan wajah Tokyo yang paling modern.
Rasa penasaran itu semakin besar ketika saya mengetahui bahwa Otemachi sendiri menyimpan jejak sejarah yang kuat, karena namanya berasal dari Otemon, gerbang utama bekas Edo Castle. Di kawasan inilah HOSHINOYA Tokyo berdiri sebagai “Tower of Ryokan”, sebuah interpretasi baru dari penginapan tradisional Jepang yang dibuka pada 20 Juli 2016 sebagai properti kelima dalam portofolio HOSHINOYA. Bangunan ini terdiri dari dua lantai di bawah tanah dan 17 lantai di atas tanah, dengan hampir seluruh lantainya beralas tatami, kamar bernuansa Jepang modern, OCHANOMA Lounge di setiap lantai, serta hot spring bath di lantai paling atas.

Hotel ini sangat menarik karena HOSHINOYA Tokyo tidak hanya memindahkan ide ryokan ke tengah kota, tetapi juga mencoba membuat kategori baru dalam dunia hospitality. Ryokan, yang sempat berhenti berevolusi dalam proses modernisasi Jepang, dihidupkan kembali sebagai akomodasi urban yang tetap membawa arsitektur, desain, makanan, seasonal setting, dan omotenashi khas Jepang. Visi tersebut juga sejalan dengan mimpi Hoshino Resorts untuk membawa konsep Japanese Ryokan ke kota-kota besar dunia, seperti sushi yang bisa ditemukan di Paris atau mobil Jepang yang melintas di New York.

Dalam perjalanannya, HOSHINOYA Tokyo telah mendapat berbagai pengakuan internasional, termasuk dari media dan institusi travel bergengsi seperti Condé Nast Traveler dan Travel + Leisure. Namun, setelah akhirnya saya menginap di sana, saya merasa penghargaan tersebut hanya menjadi pembuka cerita, karena pengalaman yang paling membekas justru hadir dari detail-detail kecil dari hotel mewah ini.
Ketika Tokyo Mendadak Menghilang di Balik Pintu
Dari luar, HOSHINOYA Tokyo tampak seperti menara hitam yang tenang di antara bangunan tinggi di Otemachi. Sekilas bangunannya terlihat minimalis dan modern, tetapi ketika saya mendekat, fasadnya memperlihatkan pola klasik tiga dimensi yang indah. Pola geometris ini membuat desain modernnya terasa lebih berlapis, sementara sudut bangunan yang melengkung lembut mengingatkan saya pada tumpukan lacquered boxes Jepang.

Pada malam hari, fasad itu berubah menjadi lebih dramatis karena cahaya dari dalam bangunan menembus pola-pola tersebut. Di tengah distrik finansial yang biasanya ramai dan serba cepat, HOSHINOYA Tokyo justru berdiri seperti benda asing yang elegan, seolah sengaja mengajak siapa pun yang masuk untuk meninggalkan Tokyo versi sibuk di luar pintunya.


Begitu saya melangkah masuk dan pintu otomatis tertutup, suara gaduh di luar berubah menjadi hening. Seorang staf hotel langsung menyambut dengan pose zarei di atas lantai tatami, yaitu tata cara membungkuk dalam posisi duduk bersimpuh atau seiza. Dalam budaya Jepang, zarei merupakan bentuk penghormatan tinggi yang erat dengan disiplin dan etiket tradisional, sering terlihat dalam upacara teh, seni bela diri Jepang, atau pertemuan formal. Sambutan itu terasa begitu sederhana, tetapi justru meninggalkan kesan pertama yang sangat kuat.

Setelah itu, staf hotel dengan ramah meminta kami melepas sepatu dan meninggalkan koper di area pintu masuk. Di sinilah saya mulai memahami bahwa HOSHINOYA Tokyo benar-benar menjalankan filosofi ryokan secara penuh, karena hampir seluruh interior hotel terhubung oleh lantai tatami, sehingga tamu tidak berjalan dengan sepatu atau sandal, melainkan merasakan langsung tekstur dan aroma tatami di bawah kaki. Konsep melepas sepatu ini memang menjadi bagian penting dari pengalaman ryokan, karena tamu diajak merasa seperti berada di rumah, bukan sekadar menjadi “tamu” seperti di kebanyakan hotel.
Seperti Masuk ke Ritme Baru
Setelah melepas sepatu, saya diarahkan menuju area resepsionis yang terasa modern minimalis, tetapi tetap memiliki sentuhan tradisional Jepang yang kuat. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, tidak ada dekorasi yang dibuat terlalu mencolok, semuanya hadir dengan nada rendah, dari pencahayaan yang lembut, material kayu, nuansa tatami, hingga detail interior yang terasa sangat terukur. Proses check-in berlangsung cepat dan tenang, seperti transisi halus dari ritme kota menuju ritme ryokan.

Di area ini, pada jam-jam tertentu, ada berbagai aktivitas budaya yang bisa Anda nikmati selama menginap. Salah satunya adalah An Evening of Traditional Music, sebuah pertunjukan musik tradisional Jepang yang awalnya biasa hadir dalam festival atau ritual Shinto.

Bagi saya, aktivitas seperti ini membuat HOSHINOYA Tokyo terasa lebih dari sekadar tempat tidur mewah di pusat kota. Hotel ini seperti kurator budaya yang memilih pengalaman-pengalaman kecil untuk membuat tamu memahami Jepang melalui suara, rasa, gerak tubuh, dan jeda, bukan hanya melalui desain cantik yang dilihat sekilas.
OCHANOMA Lounge, Jantung Kecil di Setiap Lantai
Setelah proses check-in selesai, saya diarahkan menuju lantai 14, tempat kamar saya berada. Begitu pintu lift terbuka, suasananya langsung berubah menjadi lebih privat, karena setiap lantai di HOSHINOYA Tokyo hanya memiliki enam kamar dan satu OCHANOMA Lounge yang terhubung melalui koridor tatami. Konsep ini membuat setiap lantai terasa seperti satu ryokan kecil yang berdiri sendiri di dalam menara besar.

Saya kemudian diajak mengikuti Sencha Experience di OCHANOMA Lounge, sebuah ruang semi-private yang hanya bisa digunakan oleh tamu di lantai tersebut. Di sini, Ochanoma-san menyambut kami seperti tuan rumah yang menjamu tamu di rumah Jepang, lalu menyajikan beberapa pilihan sencha atau green tea dengan penjelasan mengenai daun teh, temperatur air, metode seduh, dan karakter rasa yang berubah pelan di lidah. Pengalaman ini terasa intim, bukan seperti sesi tasting formal, melainkan seperti kunjungan sore ke rumah seseorang yang ingin memastikan Anda merasa nyaman.

OCHANOMA sendiri terinspirasi dari chanoma, sebuah ruang keluarga dalam rumah Jepang yang digunakan sebagai tempat tamu berkumpul, berbincang, minum teh, membaca, atau sekadar menghabiskan waktu. Di HOSHINOYA Tokyo, ruang ini terbuka 24 jam dan menyajikan makanan kecil lokal, minuman, serta pengalaman baru mengikuti waktu, mulai dari Sencha Tea Experience pada sore hari, seasonal evening drinks pada malam hari, hingga morning oriental herbal tea dan letter writing on Edo washi pada pagi hari.
Yang membuat saya terkesan adalah bagaimana konsep omotenashi ini terasa begitu personal. Omotenashi bukan sekadar menyambut tamu dengan ramah-tamah, tetapi sebuah perhatian yang diberikan secara tulus tanpa dibuat-buat. Semua ini tertuang dari cara Ochanoma-san berbicara, menyajikan teh, memberi ruang untuk diam, dan membuat tamu merasa diterima tanpa harus banyak meminta.
Kamar Mewah yang Memberikan Kenyamanan Maksimal
Setelah menikmati sencha, saya diantar ke kamar tempat saya menginap, yaitu Kiku Executive Triple di lantai 14. Kamar seluas 83 meter persegi ini merupakan kamar paling luas di setiap lantai, tersedia hanya satu unit per lantai, dan dapat menampung hingga tiga tamu.

Begitu saya masuk, saya seperti disambut dengan kemewahan yang hangat. Perpaduan desain modern dan tradisional Jepang tampak jelas. Ruang kamar yang luas didominasi oleh warna netral dan kayu. Elemen tradisional Jepang hadir lewat tatami, washi, material alami, furnitur rendah, ruang duduk yang hangat, dan pencahayaan yang berubah mengikuti waktu. Ada dining table yang sederhana, namun terasa hangat, serta walk-in closet yang cukup luas untuk menampung semua isi koper sekeluarga. Bathtub, shower booth terpisah, toilet dengan washlet, serta berbagai fasilitas modern seperti Bluetooth speaker, humidifying air purifier, LED TV yang seperti menyatu dengan tembok, electric kettle, dan Wi-Fi yang cepat.


Satu detail yang sangat saya sukai adalah loungewear bergaya kimono yang disediakan di kamar. Seperti kebanyakan pengalaman di properti Hoshino Resorts, loungewear ini bukan hanya pakaian untuk tidur, tetapi juga bagian dari cara menikmati hotel, karena Anda bisa memakainya untuk beraktivitas di OCHANOMA Lounge, restoran, atau onsen. Di HOSHINOYA Tokyo, kimono-style room wear ini bahkan dirancang oleh Jotaro Saito dan dapat digunakan untuk berjalan santai di area sekitar Otemachi, Imperial Palace, atau Kanda.
Makan Malam yang Terasa Seperti Arsip Rasa
Beristirahat di kamar merupakan tantangan tersendiri, rasanya tubuh tidak ingin beranjak dari tempat tidur yang nyaman, ditambah suasana ruangan yang memberikan Anda ketenangan saat sedang me-recharge tenaga. Tak terasa waktu sudah bergeser ke makan malam. Saya pun bergegas ke restoran utama HOSHINOYA Tokyo yang berada di lantai B1.

Area dining ini terasa seperti ruang rahasia yang disembunyikan di bawah tanah, dengan foyer dramatis yang menampilkan tekstur plasterwork dan batu alam. Ada beberapa ruang makan yang lebih tenang dengan enam secluded tatami rooms dan beberapa table seats. Suasananya sangat privat, sehingga makan malam terasa seperti sebuah ritual kecil yang berlangsung jauh dari dunia luar.

Malam itu, saya menikmati menu Lost Flavors of Japanese Home Recipes. Konsepnya begitu menarik, yaitu mengangkat kembali rasa masakan rumahan Jepang yang perlahan menghilang dari meja makan modern, lalu dimodifikasi menjadi hidangan baru yang unik dengan tampilan yang memanjakan mata. Menu ini berada di bawah arahan Executive Chef Ryosuke Oka, chef kelahiran Shiga Prefecture yang pernah mendalami masakan Prancis di Kobe Kitano Hotel dan Pierre Gagnaire, sebelum menjadi Executive Chef HOSHINOYA Tokyo pada Mei 2023.
Ada sebelas hidangan yang disajikan, dan setiap hidangan membawa cerita dari wilayah berbeda di Jepang. Nankan-age Makizushi membuka pengalaman dengan sushi gulung yang menggunakan tahu goreng besar sebagai pengganti rumput laut, menghasilkan tekstur yang lebih juicy dan lembut. Setelah itu, Ika Ninjin hadir melalui perpaduan cumi kering suwir dan wortel dalam saus manis gurih, disusul Chun Mame yang menghadirkan kacang kedelai panggang dalam balutan saus manis gurih yang kaya rasa, disusun di atas flatbread yang terlihat indah. Kara Zushi kemudian membawa rasa yang lebih kompleks lewat ikan makarel yang diasinkan dalam cuka yang dihidangkan dengan jahe dan biji rami.




Hikizuri menghadirkan rasa comfort food melalui sukiyaki ayam yang hangat dan kaya rasa, sementara Narae menawarkan tujuh bahan dalam saus cuka manis dengan karakter rasa yang ringan namun kompleks. Setelah itu, Renkon Gorigori-jiru menyajikan sup tradisional dari akar teratai yang diparut kasar, lalu Tachikama memberi kejutan lewat tekstur fish cake dari sperma ikan cod yang dikenal sebagai “phantom kamaboko” karena bahan dan produksinya sangat terbatas.




Funazushi, Hakusai Tatami-zuke kemudian menghadirkan dua tradisi kuliner Jepang yang sangat khas, yaitu sushi fermentasi tertua Jepang dari Danau Biwa serta acar sawi putih yang dilapisi kombu dan cabai merah. Menjelang akhir, Mikan Mochi memberi rasa manis dan segar lewat mochi berisi jeruk mandarin utuh, sebelum Ebishi menutup pengalaman dengan lembut melalui kue kukus ditaburi kulit yuzu, jahe merah, dan kacang.



Yang membuat makan malam ini begitu berkesan bukan hanya teknik penyajiannya yang luar biasa, tetapi juga perasaan bahwa saya sedang mencicipi hidangan-hidangan yang kini semakin jarang ditemukan di era modern, menghadirkan pengalaman kuliner yang langka sekaligus penuh nilai sejarah. Setiap hidangan seperti arsip kecil tentang berbagai hidangan di dapur Jepang masa lalu, disajikan kembali dengan cara yang berkelas tanpa kehilangan khas rumahnya.
Onsen di Atas Ketinggian Kota Tokyo
Malam itu saya menutup hari dengan mencoba hot spring HOSHINOYA Tokyo di lantai paling atas. Ini adalah salah satu hal yang paling saya tunggu, karena tidak setiap hari kita bisa berendam di onsen alami di tengah kota Tokyo, apalagi dengan air yang berasal dari Otemachi Onsen, mata air panas yang mengalir dari kedalaman 1.500 meter di bawah tanah.

Airnya berasal dari lapisan tanah yang dulu merupakan laut purba, sehingga mengandung mineral laut dan mineral alga yang terperangkap jauh di bawah permukaan. Kualitas airnya mengandung garam mineral yang tinggi, dengan karakter sedikit gelap dan pekat, serta dikenal memiliki efek melembabkan dan membantu tubuh terasa lebih hangat dan rileks.

Bagian paling magis adalah outdoor hot spring-nya. Setelah keluar dari indoor bath yang terasa seperti gua yang tenang, saya melangkah menuju area terbuka dan melihat langit Tokyo dari celah tinggi di antara bangunan. Tidak ada panorama kota yang lebar seperti observatory, tetapi justru potongan langit tersebut membuat pengalaman berendam terasa lebih intim.

Sayangnya, saya tidak sempat mencoba spa di HOSHINOYA Tokyo. Padahal spa treatment mereka terdengar sangat menarik, mulai dari all-hand oil treatment hingga facial treatment dengan skin care berbasis botanikal Jepang dan Tiongkok.
Morning Kenjutsu, Latihan Pedang di Ketinggian yang Ternyata Sangat Seru
Esok paginya, saya membuka hari dengan mengikuti Sky-high Morning Kenjutsu Practice, salah satu aktivitas khas HOSHINOYA Tokyo yang digelar di rooftop sekitar 160 meter di atas tanah. Jujur saja, saya tidak menyangka kegiatan ini akan terasa begitu seru, karena awalnya saya membayangkannya sebagai aktivitas ringan untuk tamu hotel. Ternyata, begitu berdiri di rooftop dengan udara pagi Tokyo dan skyline terbuka di depan mata, pengalaman ini langsung terasa berbeda.

Program ini menggabungkan gerakan dasar swordsmanship dengan deep breathing untuk membantu tubuh lebih fokus dan melepaskan ketegangan. Aktivitas ini disupervisi oleh master dari Hokushin Ittoryu Geki Kenkai, aliran yang dulu memiliki dojo di Kanda, Edo. Dari atas gedung, saya bisa melihat lanskap Tokyo yang begitu luas, termasuk Tokyo Skytree, sementara tubuh bergerak mengikuti instruksi yang terasa seperti meditasi aktif.
Di tengah kota yang identik dengan aktivitas yang bergerak cepat, latihan pedang pagi ini justru membuat saya merasa bersemangat. Ada sesuatu yang menyenangkan dari mengayunkan bokken sambil mengatur napas, terutama ketika dilakukan di tempat yang begitu tinggi, dengan pemandangan kota yang indah.
Holistic Ryokan Breakfast, Cara Lembut untuk Memulai Hari
Setelah cukup lelah berlatih kenjutsu, saya menuju restoran di B1 untuk sarapan. Pagi itu, menu yang disiapkan adalah Holistic Ryokan Breakfast, sarapan bergaya Jepang yang dirancang untuk menyeimbangkan tubuh dan pikiran melalui konsep Gomi, Goshiki, dan Goho, yaitu lima rasa, lima warna, dan lima metode memasak.

Hidangan yang disajikan terasa lengkap, tetapi tetap ringan. Ada hidangan pembuka seperti bubur lobak, kulit tahu rebus dengan mizuna, rebusan rumput laut hijiki, bayam Jepang dengan rumput laut, serta ganmodoki dalam saus dashi. Sup miso hadir bersama wortel, bayam, mustard, akar burdock, lobak, dan labu, sementara pelengkap kecil seperti acar mentimun, abon salmon, daging sapi semur, tsukudani jamur shiitake, dan lada sansho Jepang kering memberi variasi rasa yang membuat sarapan terasa makin nikmat.
Bagian yang paling saya nikmati adalah ikan black cod panggang dengan miso putih, yang disajikan bersama tamagoyaki, acar wasabi, acar plum, tsukudani rumput laut, kacang hitam manis, nasi putih, dan kaldu seduhan untuk chazuke. Ini bukan sarapan yang cocok untuk dimakan terburu-buru, melainkan sarapan yang meminta kita duduk, menikmati rasa, lalu membiarkan waktu pelan-pelan berlalu.
Sehari yang Terlalu Singkat untuk Sebuah Ryokan di Langit Tokyo
Ketika akhirnya harus meninggalkan HOSHINOYA Tokyo, saya merasa satu malam ternyata terlalu singkat untuk benar-benar memahami tempat ini. Ada banyak hotel mewah yang bisa memanjakan tamu dengan kamar indah, restoran bagus, atau fasilitas lengkap, tetapi HOSHINOYA Tokyo menawarkan sesuatu yang lebih sulit dijelaskan, yaitu kemampuan untuk membuat kita mengubah ritme.

Di sini, saya belajar bahwa kemewahan tidak selalu harus hadir dalam bentuk ruang besar atau pelayanan yang berlebihan. Kadang kemewahan justru terasa pada langkah kaki di atas tatami, secangkir sencha yang diseduh perlahan, suara musik tradisional di malam hari, potongan langit dari onsen, atau rasa hangat dari sarapan yang dihidangkan dengan begitu hati-hati.


