Pada 31 Oktober lalu, Luxina mendapat kesempatan ekslusif menjadi media pertama yang bisa menyaksikan produk baru Mercedes tier teratas, Mercedes-Maybach EQS 680 SUV di World Beyond, Autograph Tower, Jakarta. Maybach melakukan sesuatu yang brand luxury mobil (manapun) belum pernah bisa lakukan, dan bahkan brand luxury (mobil) Eropa lain belum tentu mampu untuk sustain secara konsisten 30 tahun terakhir: Mercedes tidak pernah turun kelas ketika teknologi berganti era.
Internal combustion, hybrid, hydrogen, full electric — Maybach pindah platform tanpa membiarkan positioning-nya terkontaminasi narrative “EV untuk ekonomi efisiensi”.
Maybach Tetap EV Untuk Hedonisme Sensorik.

Ini adalah hal yang sangat penting, karena dalam peta luxury 2025 — yang mulai fully exhausted dari jargon ESG events, yang mulai mulai meragukan premium electric mobility yang semakin mirip “produk guilt reduction paket standar” — Maybach justru memilih arah sebaliknya: luxury tanpa kompromi. Maybach tidak memposisikan EQS 680 SUV ini sebagai “EV masa depan yang sustainable lebih baik buat bumi”, tapi memposisikan ini sebagai EV yang terus menjadi lounge pribai berjalan.
Pada saat memasuki kabin belakang, penumpang seperti masuk ke dalam lounge eksklusif dengan konsol kayu, fitur pijat, pendingin, cup holder pemanas/dingin, dan bahkan MBUX tablet rear passenger dan proyektor logo Maybach. Bukan hanya komplit, tapi semua hadir terintegritas dengan design interior hingga gaya hidup di level Maybach.
Karena ultra luxury bukan membeli mobil untuk “fungsi berpindah tempat” tapi ultra luxury adalah membeli narasi status yang tidak semua orang bisa membelinya. Ini bukan persoalnya nominal harga mobil ini, tapi bagaimana gaya hidup berdampingan sejajar dengan semua fitur Maybach EQS 680 SUV ini.

EQS 680 SUV ini akan menjadi salah satu indikator kelas baru yang sangat jelas di Indonesia: kelas yang tidak menjelaskan, tidak mengedukasi, tidak men-justifikasi EV, karena kelas ini tidak pernah perlu justifikasi apa pun. Maybach memposisikan EV era baru ini bukan sebagai “masa depan”,
tapi sebagai kelanjutan dominasi.
Dan akan sangat menarik untuk melihat di Indonesia: siapa yang akan membeli ini bukan sebagai EV — tapi sebagai alat untuk menunjukkan mereka masih tetap di kelas yang sama dalam setiap perubahan teknologi.



