Langkah pertama saya memasuki lobby OMO3 Asakusa by Hoshino Resorts terasa seperti membuka pintu menuju dua dunia sekaligus. Di satu sisi, aroma kayu dan desain interior yang minimalis memberi kesan modern yang rapi. Di sisi lain, nuansa Asakusa yang klasik langsung terasa lewat ilustrasi bergaya ukiyo-e, motif lampion, serta energi kota tua Tokyo yang begitu dekat dengan hotel ini.

Hotel ini berada hanya sekitar empat menit berjalan kaki dari Stasiun Asakusa dan satu menit dari Sensoji Temple, membuatnya terasa seperti basecamp ideal untuk menjelajahi kawasan bersejarah ini. Dari berbagai sudut hotel, Anda bahkan bisa melihat kontras menarik antara kuil berusia ratusan tahun itu dengan siluet modern Tokyo Skytree berdiri megah di kejauhan.
Tak lama setelah check-in, tim PR hotel mengajak saya berkeliling untuk melihat berbagai fasilitas. Perjalanan kecil ini terasa seperti orientasi ringan untuk memahami konsep OMO, sebuah brand hotel dari Hoshino Resorts yang mengajak tamu menjelajahi kota layaknya penduduk lokal.
Aktivitas Kecil yang Membawa Kita Lebih Dekat ke Asakusa
Setelah tur singkat, saya memutuskan mencoba aktivitas pertama saya: Ukiyo-e Coloring di lobby lantai satu. Aktivitas ini sederhana, namun surprisingly menyenangkan.
Saya diberikan sebuah kartu pos bergambar lanskap Asakusa. Dengan empat cap warna berbeda, saya berperan sebagai surishi, yaitu pencetak terakhir dalam proses pembuatan ukiyo-e pada era Edo. Dalam waktu sekitar lima menit, gambar sederhana itu perlahan berubah menjadi karya seni kecil yang penuh warna. Tentu saja saya menyimpannya sebagai souvenir perjalanan.

Selain aktivitas yang saya lakukan, ada juga Offcuts Leather Manufacturing, kegiatan membuat aksesori dari potongan kulit sisa dari workshop lokal di Imado. Para tamu bisa memilih kulit dengan warna dan tekstur berbeda lalu memotongnya menjadi gantungan kunci, coaster, atau bookmark. Setiap hasil karya bahkan diberi cap khusus OMO3 Asakusa, menjadikannya kenang-kenangan personal dari perjalanan ini.

Jika Anda ingin eksplorasi lebih jauh, ada pula Ukiyo-e Walking. Hotel menyediakan peta khusus yang menandai lokasi-lokasi di Asakusa yang pernah digambarkan dalam karya ukiyo-e klasik. Perjalanan ini bisa memakan waktu satu hingga dua jam, lengkap dengan kuis kecil di setiap titik yang harus Anda kunjungi langsung.
Konsepnya sederhana, namun sangat cerdas. Tanpa terasa, Anda diajak melihat Asakusa bukan sekadar sebagai turis, melainkan seperti seseorang yang sedang mempelajari kota ini dari sejarahnya.
Kamar yang Nyaman dengan Pemandangan Sensoji
Setelah selesai mengikuti aktivitas, saya menuju kamar Deluxe Twin Room. Begitu pintu dibuka, kesan pertama yang muncul adalah ruang yang terasa luas dan nyaman.
Kamar seluas sekitar 33 meter persegi ini dirancang untuk satu hingga dua tamu dengan dua tempat tidur berukuran 100 x 200 cm. Di salah satu sisi ruangan terdapat sofa yang cukup besar untuk bersantai. Dari sofa inilah saya bisa menikmati pemandangan area Sensoji Temple yang berubah suasana sepanjang hari, dari cahaya sore hingga lampu malam yang dramatis.

Kamar ini juga dilengkapi bathtub yang cukup besar untuk berendam santai setelah seharian berjalan di Asakusa. Area shower dibuat terpisah antara bathtub, shower, toilet, dan sink, sehingga terasa lebih nyaman digunakan.
Fasilitas di dalam kamar cukup lengkap, mulai dari humidifying air purifier, room wear, slippers, hingga berbagai bath amenities seperti bath towel, hair dryer, cotton buds, dan shaving razor. Tersedia juga kettle, mug, kulkas kecil, TV, serta koneksi internet gratis di seluruh area hotel.
Seperti kebanyakan akomodasi di Jepang, tamu juga diminta melepas sepatu saat masuk kamar. Detail kecil ini justru membuat suasana kamar terasa lebih homey.
Asakusa Yoimise: Ketika Malam di Asakusa Menjadi Pertunjukan
Pukul delapan malam, saya naik ke OMO Base yang terletak di lantai 13. OMO Base adalah ruang komunal yang dirancang sebagai “basecamp” bagi para tamu untuk menikmati kota tempat mereka menginap. Tempat ini bisa digunakan untuk merencanakan perjalanan, beristirahat setelah lelah berjalan-jalan, bekerja, atau sekadar duduk santai menikmati suasana.
Namun malam itu, saya ke OMO Base untuk mengikuti Local Rhythm Night: Asakusa Yoimise. Program ini merupakan bagian dari konsep “Local Rhythm Night” milik brand hotel OMO dari Hoshino Resorts, yaitu rangkaian aktivitas malam yang dirancang agar tamu dapat merasakan budaya dan suasana kota tempat mereka menginap tanpa harus keluar hotel.

Di OMO3 Asakusa, acara ini diberi nama “Asakusa Yoimise” dan berlangsung setiap malam sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 di OMO Base lantai 13. Semua tamu hotel dapat mengikuti acara ini secara gratis.
Begitu lampu diredupkan, jendela besar yang menghadap ke Sensoji Temple berubah menjadi panggung alami. Pemandangan kuil yang diterangi lampu malam terasa hampir magis.

Di dalam ruangan, ratusan lampion bergambar ilustrasi ukiyo-e menggantung di langit-langit. Sebuah video projection show menampilkan berbagai festival tahunan Asakusa, menciptakan pengalaman yang terasa seperti perpaduan antara seni tradisional dan teknologi modern.
Di sudut ruangan, sebuah evening snack stand menyajikan Flower Monaka Ice Cream. Saya memilih kombinasi sederhana dengan topping manis ringan, sambil duduk menikmati pemandangan malam Tokyo.

Atmosfernya santai. Beberapa tamu datang sendiri, beberapa lainnya berkelompok. Namun semua tampak menikmati ritme malam Asakusa yang terasa sangat khas.
Keindahan Dua Sisi Rooftop Terrace OMO3 Asakusa
Salah satu spot favorit kami di OMO3 Asakusa adalah di Rooftop Terrace. Karena dari sini kita bisa melihat dua pemandangan terbaik dari dua sisi yang berlawanan arah: satu sisi yang menghadap Timur yaitu Tokyo Skytree, dan sisi yang menghadap Barat yaitu kuil Sensoji. Dan karena dari kedua sisi tersebut merupakan arah matahari terbit dan tenggelam, maka saya tidak ingin melewatkan momen sunrise dan sunset dari puncak hotel ini.
Pagi harinya, sebelum pukul 6 saya sudah bergegas naik ke lantai 13, kemudian melanjutkan menggunakan tangga untuk mencapai Rooftop Terrace. Tepat pukul enam pagi, terdengar bunyi lonceng dari kuil Sensoji. Tradisi lonceng ini telah berakar sejak jaman Edo, yang menandai awal hari di Asakusa. Sekitar pukul 6:48, matahari perlahan muncul dari arah Tokyo Skytree. Cahaya pagi yang lembut memantul di atap-atap kota. Saya beruntung karena pagi itu langit Tokyo tampak cerah.

Sore harinya, rooftop ini kembali menawarkan pemandangan berbeda. Sekitar pukul 16:55, langit Tokyo berubah warna menjadi oranye keemasan. Kali ini pada arah yang berlawanan, matahari mulai tenggelam. Dari Rooftop Terrace OMO3 Asakusa, sunset tampak benar-benar indah. Tempat ini terasa seperti balkon pribadi untuk melihat ritme kota Tokyo dari atas.
Menyusuri Asakusa Lebih Dalam Lewat Aktivitas Khas OMO3 Asakusa
Bagi Anda yang ingin menelusuri Asakusa lebih jauh sekaligus memahami sisi budaya yang sering luput dari perhatian wisatawan, OMO3 Asakusa menghadirkan dua aktivitas menarik yang dapat diikuti selama menginap di sini. Program ini dirancang untuk membawa Anda tidak hanya melihat Asakusa sebagai destinasi populer, tetapi juga merasakan ritme kehidupan lokal yang membentuk karakter kawasan bersejarah tersebut.

Salah satu aktivitas yang paling diminati adalah Morning Walk in Asakusa, sebuah tur berjalan kaki yang berlangsung di pagi hari ketika kawasan sekitar Kuil Sensoji masih tenang sebelum keramaian wisatawan datang. Tur berdurasi sekitar satu jam ini dipandu oleh pemandu lokal yang membawa peserta menjelajahi area kuil sambil menjelaskan hubungan historis antara Sensoji Temple, Asakusa Shrine, dan komunitas yang telah lama hidup di kawasan tersebut.
Tur ini biasanya dimulai pukul 06.00 pagi pada musim semi hingga awal musim gugur, dan pukul 06.30 pada musim gugur hingga musim dingin. Dengan jumlah peserta yang dibatasi maksimal sepuluh orang, pengalaman ini terasa lebih intim dan personal.
Sementara itu pada sore hari, Anda bisa mengikuti “IKI” Walk – Asakusa Authentic Culture Tour, sebuah tur budaya yang mengajak Anda mengenal konsep iki, filosofi estetika khas Edo yang mencerminkan keanggunan sederhana dan selera hidup masyarakat Asakusa.

Tur ini dimulai dari OMO Base di lantai 13, di mana pemandu terlebih dahulu memperkenalkan berbagai toko legendaris di kawasan tersebut. Setelah itu Anda bisa berjalan kaki mengunjungi satu atau dua toko pilihan, dan bisa berbeda setiap harinya. Beberapa di antaranya adalah toko kerajinan tradisional, produsen tenugui, hingga restoran klasik yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat selama puluhan tahun.
Dengan durasi sekitar satu jam dan kelompok kecil maksimal enam orang, tur ini menghadirkan kesempatan langka untuk berinteraksi langsung dengan para pemilik toko sekaligus memahami bagaimana budaya Asakusa terus hidup melalui komunitasnya.
OMO Food & Drink Station: Solusi Praktis 24 Jam
Selama menginap, salah satu fasilitas yang paling sering kami kunjungi adalah OMO Food & Drink Station.
Konsepnya self-service dan buka 24 jam. Anda cukup memilih makanan atau minuman yang diinginkan, lalu melakukan pembayaran melalui terminal self-checkout cashless.


Pilihan menunya cukup beragam. Dari snack ringan hingga makanan lokal seperti Inari Sushi dari Fukujuya, restoran legendaris Asakusa yang sudah berdiri sejak 1920. Minuman dan alkohol khas Asakusa juga tersedia bagi tamu yang ingin menikmati malam dengan pemandangan Tokyo dari OMO Base.
Selama menginap, kami juga mendapatkan voucher kredit yang bisa digunakan di sini. Jadi kapan pun lapar, kami tinggal naik ke lantai 13, memilih makanan, lalu menikmatinya di rooftop atau di kamar.
OMO3 Asakusa, Cara Baru Menikmati Tokyo Lama
Menginap di OMO3 Asakusa terasa seperti memiliki kunci kecil untuk memahami Asakusa dengan cara yang berbeda.
Hotel ini tidak mencoba menjadi hotel mewah yang berjarak dari lingkungannya. Justru sebaliknya. Ia menjadi jembatan antara tamu dan kota Asakusa itu sendiri.

Mulai dari aktivitas kreatif kecil, pemandangan Sensoji dari rooftop, hingga malam yang dipenuhi lampion di OMO Base, semuanya dirancang untuk membuat tamu merasakan ritme kota ini.
Dan sebelum Anda sadar, Asakusa yang awalnya terasa asing perlahan berubah menjadi tempat yang terasa akrab.


