Walau marathon fashion week Plaza Indonesia yang berlangsung dari 28 September hingga 5 Oktober lalu sudah lewat, pekan fashion yang berlangsung selama 8 hari ini, masih menyisakan rekaman yang belum terpublikasi. Dengan jadwal yang hampir sama persis dengan Paris Fashion Week spring/ summer 2026, Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) tetap menyedot perhatian yang cukup tinggi.
Meskipun jadwal PIFW ini sudah mundur selama dua minggu akibat kerusuhan yang terjadi, desainer, model, koreografer dan semua komponen pendukung, berhasil menyuguhkan sebuah sirkuit fashion dengan rapi tanpa terlihat kendala yang berarti. Setidaknya ini yang saya rasakan dari kehadiran saya di hari pertama hingga hari terakhir. Hari pertama yang dibuka dengan presentasi Sejauh Mata Memandang dalam bentuk film pendek yang kemudian berlanjut dengan resepsi kecil di pop-up Sejauh Mata Memandang. Yang mana pembukaan PIFW tidak terjadi dalam sebuah fashion show pada umumnya. Plaza Indonesia mencoba untuk meng-utilize berbagi fitur aset mereka untuk menaikan nilai dari PIFW 2025 ini agar tidak hanya sebagai fashion show belaka, namun menambah pengalaman tamu undangan juga berbeda dari biasanya.

Setiap show dengan karakternya sendiri, yang ingi diciptakan oleh sang desainer, pun, Plaza Indonesia mampu mengakomodir hal tersebut. Termasuk lighting runway berbagai warna, dari gelap hingga terang, dekorasi dengan tirai bak Versailles, ragam koreo dari model yang menari, baku hantam, hingga art performarnce, membuat PIFW 2025 ini menjadi lebih kaya akan suguhan ide-ide kreatif tak terbatas. Not to mention, selebritis Indonesia yang hadir berjalan di runway.

Selain itu, Plaza Indonesia menyediakan area mingle, di lantai 6, satu lantai di atas venue fashion show. Di area ini, tamu undangan disuguhi dengan free-flow canepé, free-flow minuman ringan hingga alkohol yang disponsosrin oleh Hendrick’s Gin, hingga berbagai jenis kopi sesuai selera tamu undangan. Dan ini tersedia non stop selama 8 hari. Oh ya, di hari terentu juga ada DJ yang menghibur tamu undangan. Pada hari terakhir juga diadakan after party di venue ini, dengan aktivasi tiga desainer take-over the bar, Rama Dauhan, Dana Maulana dan Faisal. Makanan tersedia free-flow dari tenan Plaza Indonesia, Bistro Baron dan Shu Cusine, yangg mengakibatkan antrian yang mengular.

Luxina sebagai Media Partner, pun, merasakan partnership yang begitu bernilai harganya. Bukan hanya dari sisi bisnis, tapi dari bagaimana Plaza Indonesia memandang dan memperlakukan media (Luxina khusunya) dengan treatment yang sejajar dengan reputasi pusat perbelanjaan ini. Khusus untuk PIFW 2025 ini, saya disediakan mobil berikut driver untuk menjemput dan mengantar kembali selama 8 hari. Plaza Indonesia menyediakan Grab Premium yang menggunakan mobil listrik, dengan driver berpengalaman yang stand by khusus untuk saya.
Yang terakhir, tentu saja adalah hal yang krusial: proses registrasi. Proses registrasi dibuat dalam beberapa jalur, untuk membedakan siapa yang mengundang sehingga tidak terjadi “pertempuran sengit” di antrian. Selama 8 hari pula saya tidak melihat antrian yang berarti saat proses ini, semua terjadi dengan sangat rapi. Pengaturan tamu dan seating arrangement juga sangat teratur, dengan pembagian warna gelang yang sudah dibagikan sesuai lokasi duduk. Tidak ada keterlambatan show yang “terlalu”, semua masih dalam batas toleransi kewajaran. Kesigapan usher dalam mengenali wajah (tamu undangan) dan mengatur tamu, juga terlihat menjadi perhatian yang cukup detil yang mungkin jarang diperhatikan saat perhelatan fashion (besar) di Jakarta.

Plaza Indonesia lewat PIFW 2025, telah membawa sebuah ajang fashion (besar), ke level yang lebih tinggi. Sepertinya belum ada event fashion di Jakarta (apalagi di Indonesia), dengan kategori “marathon”, yang pernah melakukan hal yang dilakukan oleh Plaza Indonesia. Selain itu, impact dari PIFW ini juga terimbas jenama fashion Indonesia yang berpastisipasi, yang otomatis menaikan value mereka sebagi desainer atau jenama fashion, besarnya exposure yang didapat, dan tentu saja, ini merupakan legitimasi juga untuk jenama fashion (dan orang yang terlibat di dalamannya) karena sudah berada di circle “it’s where i want to be”.



