Suasana di The Crown terasa seperti pertemuan dua dunia, kemewahan Eropa yang berbaur dengan kehangatan tropis Jakarta. Lantai 22 Fairmont Jakarta menjadi latar perjalanan kuliner yang dipandu oleh filosofi Chef Kirk Westaway, chef bintang dua Michelin dari JAAN by Kirk Westaway di Singapura.
The Crown dibangun dengan satu prinsip sederhana, menghadirkan pengalaman bersantap yang elegan tanpa kehilangan rasa nyaman. Filosofi itu terasa di setiap detail. Dari interior yang bernuansa kontemporer hingga pelayanan yang hangat tanpa formalitas berlebihan.
Di balik kemewahan penyajian dan ketelitian teknik kuliner, tersimpan filosofi yang menekankan kehangatan dan keakraban. Keindahan rasa berpadu dengan suasana yang rileks dan setiap hidangan dirancang untuk dinikmati tanpa jarak maupun pretensi.
Bagi Kirk Westaway, masakan Inggris bukan sekadar warisan resep klasik, tetapi juga kanvas untuk mengeksplorasi alam dan musim. Filosofi ini menjadi dasar di balik setiap menu The Crown menghormati bahan lokal dan musiman, sekaligus mengekspresikan kehalusan teknik modern.
“Meski kami berada di Jakarta, kami tetap berpijak pada prinsip modern British cuisine yang elegan sekaligus mudah dinikmati” jelas Chef Asa Sibcy, Chef de Cuisine The Crown.
Hidangan Mewah Permainan Tekstur dan Warna

Empat hidangan pembuka malam dengan keindahan yang hampir terlalu sayang untuk disantap. Beetroot meringue dengan horseradish dari Mont Blanc menciptakan keseimbangan antara manis dan tajam. Goose mousse perpaduan foie gras dan chicken liver parfait, sementara reinterpretasi fish and chips menampilkan renyah kentang berlapis tipis.
Ada pula, cheese pancake berisi keju Camembert Prancis dan parutan truffle, bentuknya seperti takoyaki yang mewah dan menggoda. Hidangan Leek and Potato Soup, adalah reinterpretasi dari hidangan klasik Inggris. Macadamia panggang dan jamur ditambah kaldu yang dituangkan langsung di meja memberikan kehangatan.

Hidangan ikan halibut dengan cider butter sauce membawa kisah sejarah Inggris ke piring modern. Di masa Perang Dunia II, saat sampanye langka, para juru masak Inggris menggunakan cider sebagai pengganti.
Namun, hidangan ini menggunakan cider dari Bali yang lebih atraktif dari sebagian besar cider Inggris. Ikan lembut itu disajikan dengan bayam, artichoke ungu, bawang konfit, dan taburan kaviar, menghasilkan harmoni antara daratan dan lautan.

Musim gugur menjadi inspirasi untuk Wagyu Tenderloin. Dagingnya empuk, disajikan dengan confit beetroot, puree bit, dan cuciwis, sayuran khas Indonesia yang memberi tekstur ringan. Dilengkapi dengan saus red wine yang menambah kedalaman rasa.
Kejutan di Akhir

Setelah perjalanan rasa yang intens, malam beralih ke kejutan segar dengan Blackcurrant Sorbet terinspirasi dari Fruity Blackcurrant, minuman masa kecil banyak orang Indonesia. Sorbet ini dipadukan dengan apple granita, earl grey jelly, dan bergamot nitrogen frozen, menciptakan kesegaran yang playful.

Hidangan lain Pineapple Trifle, reinterpretasi modern dari dessert klasik Inggris yang beraroma tropis. Terinspirasi dari nastar, setiap sendok menghadirkan perpaduan manis, lembut, dan segar dalam satu gigitan.
Filosofi yang Hidup di Setiap Musim
Bagi Kirk Westaway, memasak bukan sekadar teknik, melainkan cara untuk menghidupkan kembali identitas kuliner Inggris dengan jiwa baru. Filosofi Elevating British Gastronomy ia bawa hingga ke Jakarta, bukan untuk meniru Eropa, melainkan menanamkan sensibilitasnya di tanah tropis, menyesuaikan rasa tanpa kehilangan karakter. Setiap suapan adalah perayaan atas musim, tempat, dan rasa yang terus berevolusi.


