Presiden Sukarno mendirikan Hotel Indonesia pada 1962 bukan semata sebagai bangunan megah, tetapi sebagai simbol kemajuan bangsa yang memadukan arsitektur modern dengan narasi kebudayaan. Ia menjadikan hotel ini etalase semangat nasionalisme—mengkurasi karya-karya seni dengan cermat dan menempatkannya pada ruang publik hotel. Patung-patung seperti Girl Going for a Bath oleh Sulistyo dan Two Girls Fetching Water karya Saptoto menjadi penanda estetika sekaligus identitas budaya, selaras dengan kekaguman Sukarno terhadap keindahan perempuan Indonesia.

Titilaran dan Seni Kontemporer
Kini, enam dekade kemudian, semangat tersebut dihidupkan kembali melalui pameran TITILARAN di lobi Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Kurator kenamaan Rizki A. Zaelani menghadirkan pameran yang mencerminkan kekayaan seni kontemporer Indonesia—berani, lintas generasi, dan penuh eksperimentasi. Menggabungkan seniman-seniman besar dengan pendatang baru, pameran ini menjelajahi tema warisan, keluarga, dan transformasi artistik dalam konteks dunia modern.

Dari Arkiv hingga Mel Ahyar
Salah satu sorotan utama adalah karya monumental Sunarkiv, hasil kolaborasi antara Arkiv Vilmansa dan maestro seni rupa Sunaryo, yang menggambarkan pengalaman spiritual di Ka’bah. Ada pula karya lintas darah antara Haryadi Suadi dan Radi Arwinda, serta Tisna Sanjaya dan Etza Meisyara. Dimensi mode hadir lewat kolaborasi Jeihan dengan Mel Ahyar, dan pendekatan baru terhadap medium kertas dari Made Wianta dan Irfan Hendrian. Instalasi imersif warna oleh Teja Astawa dan REEXP, serta patung estetik dari Rita Widagdo dan Gabriel Aries, memperkaya lanskap visual pameran ini.

63 tahun Hotel Indonesia Kempinski Jakarta
TITILARAN berlangsung mulai 23 Juli hingga 18 Agustus 2025. Dalam rangka perayaan ulang tahun hotel, tersedia pula penawaran eksklusif bagi para tamu, termasuk kredit hotel senilai IDR 500.000 dan suvenir edisi terbatas. Hotel Indonesia Kempinski Jakarta kembali meneguhkan diri sebagai rumah bagi warisan seni dan budaya, menjadi destinasi utama bagi mereka yang ingin menyelami sejarah sekaligus masa depan seni Indonesia.





