Sudah lama WAKUDA Singapore masuk ke daftar restoran yang ingin dikunjungi Luxina sejak pertama kali mendengarnya. Bagi kami, restoran ini menimbulkan rasa penasaran, bukan hanya karena namanya kerap muncul dalam percakapan tentang destinasi bersantap terbaik di Singapore, tetapi juga karena reputasinya sebagai restoran Jepang modern yang memadukan teknik, estetika, dan atmosfer dalam satu pengalaman yang utuh. Maka ketika akhirnya berkesempatan menikmati makan malam di WAKUDA, rasa penasaran itu seolah menemukan jawabannya, bahkan sejak langkah pertama memasuki ruangannya.

WAKUDA Singapore merupakan restoran hasil kolaborasi antara award-winning restaurateur John Kunkel dari 50 Eggs Hospitality Group dan celebrity chef Tetsuya Wakuda, sosok besar di dunia kuliner Jepang modern. Restoran ini menghadirkan interpretasi kontemporer atas masakan Jepang yang dibentuk oleh musim, teknik, dan penghormatan terhadap bahan baku terbaik. Di sini, hidangan Jepang tidak tampil dalam bentuk yang kaku atau terlalu tradisional, melainkan dihadirkan dalam sentuhan modern yang halus, elegan, dan sangat terukur. Filosofi yang diusung WAKUDA juga dekat dengan semangat kuliner Jepang, yakni menghormati musim dan kualitas bahan terbaik pada waktunya. Dalam banyak hal, WAKUDA terasa seperti ruang pertemuan antara presisi Jepang, sensibilitas modern, dan keramahan fine dining yang tetap hangat.
Restoran Jepang Modern yang Tidak Hanya Menjual Rasa
Salah satu hal yang membuat WAKUDA menarik adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman yang terasa menyeluruh. Restoran yang dibuka pada 2022 ini tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga pada bagaimana tamu merasakan ruang, ritme makan malam, hingga percakapan antara hidangan, desain interior, dan bar. WAKUDA menawarkan pengalaman bersantap dari area dining utama, sushi counter, hingga bar yang juga menjadi daya tarik tersendiri. Di balik dapurnya, restoran ini dipimpin oleh Executive Chef Pavel Nigai, sosok dengan pengalaman panjang di kuliner Jepang yang kini memimpin tim WAKUDA Singapore dalam meracik pengalaman bersantap yang terasa refined namun tetap hidup.


Dari sisi ruang, WAKUDA punya karakter yang kuat. Interiornya dirancang oleh Rockwell Group dengan inspirasi arsitektur Jepang tradisional yang diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang lebih modern dan urban, seolah membawa semangat Tokyo ke dalam Marina Bay Sands. Salah satu elemen yang paling menarik adalah penggunaan teknik kumiki, seni sambungan kayu khas Jepang, yang menjadi bagian dari identitas ruangnya. Saat memasuki restoran, perhatian langsung tertarik pada bar utama yang menyala hangat, lalu bergerak ke ruang makan dengan jendela besar dan pohon maple Jepang yang menjadi pusat visual. Di area ini pula hadir karya seni dari seniman Jepang seperti Jun Inoue, termasuk instalasi langit-langit imersif yang menambah karakter artistik WAKUDA. Semua itu membuat WAKUDA terasa bukan sekadar restoran hotel, melainkan sebuah panggung kuliner yang dibangun dengan sangat sadar akan suasana.
Ketika Keberlanjutan Menjadi Bagian dari Menu
Di balik presentasi yang glamor dan suasana yang sophisticated, WAKUDA juga menyimpan sisi yang menarik dari perspektif keberlanjutan bahan pangan. Beberapa hidangan dalam chef’s menu yang dinikmati Luxina diberi penanda CSS dan LS. CSS merupakan singkatan dari Certified Sustainable Seafood, yaitu bahan makanan laut yang ditangkap atau dibudidayakan dengan metode yang menjaga kesehatan populasi spesies, meminimalkan kerusakan ekosistem, serta dikelola secara bertanggung jawab. Sementara LS berarti Locally Sourced, yaitu bahan yang bersumber dari wilayah yang relatif dekat dengan tempat konsumsi atau pengolahannya. Kehadiran penanda seperti ini memperlihatkan bahwa WAKUDA tidak hanya memikirkan kualitas rasa dan kemewahan presentasi, tetapi juga asal-usul bahan dan tanggung jawab di baliknya.


Menariknya, pendekatan tersebut tidak tampil sebagai jargon yang dipaksakan. Di WAKUDA, prinsip keberlanjutan justru hadir secara natural di dalam menu. Bahan-bahan laut berkualitas tinggi tetap menjadi bintang, tetapi disajikan dengan kesadaran yang lebih besar terhadap sumbernya. Ini memberi dimensi tambahan pada pengalaman makan malam, karena tamu tidak hanya menikmati hidangan yang lezat, melainkan juga merasakan bagaimana restoran berupaya menjaga hubungan yang lebih sehat dengan laut dan ekosistemnya.
Perjalanan Rasa di WAKUDA
Makan malam Luxina di WAKUDA disajikan dalam rangkaian chef’s menu yang terasa runtut, rapi, dan penuh keseimbangan. Perjalanan itu dimulai dengan Flan, savoury egg custard dengan grilled Japanese white corn. Sebagai pembuka, hidangan ini memberi kesan yang lembut dan menenangkan. Teksturnya halus, nyaris seperti sutra, dengan karakter gurih yang dibangun perlahan. Kehadiran jagung putih Jepang panggang memberi lapisan rasa manis alami yang sangat halus, membuat hidangan pembuka ini terasa bersih namun tetap berkarakter. Sebagai hidangan pertama, Flan seperti menetapkan nada untuk keseluruhan makan malam, bahwa WAKUDA lebih memilih kehalusan dan presisi daripada gebrakan yang berlebihan.

Setelah pembuka yang lembut, menu bergerak ke Canadian Lobster yang dimarinasi dengan citrus dan vinegar, lalu dipadukan dengan sea asparagus dan shellfish vinaigrette. Di titik ini, karakter WAKUDA mulai terasa semakin jelas. Hidangan ini tampil segar, tajam, dan sangat rapi dalam membangun rasa. Daging lobster yang manis dan kenyal bertemu dengan keasaman citrus dan vinegar yang menyegarkan, sementara sea asparagus menghadirkan aksen laut yang bersih dan sedikit asin. Shellfish vinaigrette menutup keseluruhan komposisi dengan lapisan rasa yang membuat hidangan ini terasa hidup, namun tidak berat.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Sashimi Plate, chef’s selection yang menjadi salah satu momen penting dalam makan malam ini. Sashimi selalu menjadi ujian paling jujur bagi restoran Jepang, karena hampir tidak ada ruang untuk bersembunyi di balik saus atau teknik yang terlalu rumit. Di WAKUDA, pilihan sashimi ini tampil dengan kualitas yang terasa meyakinkan. Potongannya bersih, segar, dan menunjukkan penghormatan terhadap karakter alami ikan itu sendiri. Menyantap sashimi di restoran seperti WAKUDA membuat kita kembali pada esensi masakan Jepang, bahwa kemewahan sesungguhnya sering kali justru hadir lewat kesederhanaan yang dieksekusi nyaris tanpa cela.

Setelah itu hadir Maki, juga dalam pilihan chef. Posisi maki di tengah rangkaian menu terasa penting karena memberi jeda dari hidangan-hidangan yang lebih fokus pada kemurnian bahan. Maki di WAKUDA tidak terasa sebagai pelengkap semata, melainkan bagian dari ritme makan malam yang membantu transisi rasa. Ia menghadirkan kombinasi tekstur yang lebih ramai, sedikit lebih playful, namun tetap berada dalam koridor rasa yang elegan. Maki menjadi semacam jembatan antara fase awal makan malam yang ringan dengan hidangan utama yang lebih dalam dan berlapis.


Salah satu highlight terbesar malam itu hadir lewat Classic Saikyo Yaki, grilled Patagonian toothfish yang dimarinasi dengan original Saikyo miso dari Kyoto. Ini adalah hidangan yang mudah dipahami mengapa menjadi favorit banyak orang. Patagonian toothfish memiliki tekstur yang kaya, lembut, dan buttery, sementara marinasi saikyo miso menghadirkan lapisan rasa manis-gurih yang khas, halus, dan sangat menenangkan. Teknik memanggangnya membuat permukaan ikan memperoleh sedikit karamelisasi, namun bagian dalamnya tetap moist dan lembut. Hidangan ini menunjukkan kemampuan WAKUDA dalam mengolah seafood premium tanpa membuatnya kehilangan identitas. Alih-alih menutup rasa asli ikan, miso justru bekerja seperti bingkai yang menonjolkan keunggulannya.

Selepas laut, perjalanan beralih ke daratan melalui Charcoal Grilled A5 Wagyu with Seasonal Vegetables. Jika hidangan-hidangan sebelumnya bermain pada presisi rasa yang ringan dan elegan, maka A5 Wagyu menghadirkan penutup gurih yang lebih penuh, kaya, dan memuaskan. Teknik charcoal grilled memberi aroma panggang yang halus dan sedikit smokiness, cukup untuk menyeimbangkan richness khas wagyu tanpa mengalahkan karakternya. Dagingnya tampil dengan marbling yang memanjakan, lembut, dan nyaris lumer, sementara seasonal vegetables memberi penyeimbang yang diperlukan agar hidangan tetap terasa proporsional. Penempatan wagyu setelah rangkaian seafood terasa cerdas, karena ia hadir sebagai klimaks rasa yang lebih dalam tanpa membuat makan malam terasa terlalu berat.

Sebagai penutup, WAKUDA menghadirkan Seasonal Fruit Platter, pilihan buah musiman dari chef. Mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di sinilah kepekaan restoran terhadap ritme makan terasa jelas. Setelah serangkaian rasa gurih, umami, dan tekstur yang kaya, buah-buahan musiman memberi akhir yang ringan, bersih, dan menyegarkan. Ia tidak mencoba mencuri perhatian, tetapi justru menutup makan malam dengan cara yang paling elegan, membiarkan tamu meninggalkan meja dengan kesan yang tetap ringan dan seimbang.
Menutup Malam di Bar
Selesai makan, Luxina tidak langsung beranjak. Malam berlanjut dengan bersantai di bar WAKUDA sambil mencoba salah satu signature cocktail mereka, WAKUDA Sling. Racikannya terdiri dari Planteray Dark Rum, yuzu sake, pineapple, dan kaffir lime ginger beer. Sebagai penutup, koktail ini terasa sangat tepat. Ada nuansa tropis dari nanas, ada kesegaran sitrus dari yuzu, lalu ginger beer dan kaffir lime memberi sentuhan yang lebih hidup sekaligus aromatik.

Karakternya menyegarkan, tetapi tetap punya tubuh dan kompleksitas yang cukup untuk menandai akhir malam dengan elegan. Ini juga mengingatkan bahwa WAKUDA bukan hanya tempat untuk makan malam, melainkan ruang yang memang dirancang untuk membuat tamunya betah tinggal lebih lama, berpindah dari meja makan ke bar, dari percakapan tentang hidangan ke percakapan tentang malam itu sendiri.
WAKUDA, Sebuah Rasa Penasaran yang Terjawab dengan Indah
Bagi Luxina, makan malam di WAKUDA adalah pengalaman yang menjawab rasa penasaran yang sudah lama tersimpan, dan bahkan memberi lebih dari yang dibayangkan. Restoran ini bukan hanya menarik karena reputasinya, melainkan karena benar-benar memiliki identitas yang kuat. Ia menggabungkan masakan Jepang modern, bahan baku premium, perhatian pada keberlanjutan, desain interior yang artistik, dan atmosfer yang hidup dalam satu pengalaman yang kohesif. WAKUDA paham bahwa makan malam istimewa tidak dibangun hanya dari satu hidangan yang enak, melainkan dari keseluruhan perjalanan, dari pembuka pertama hingga koktail terakhir di bar.
Dan mungkin di situlah daya tarik terbesarnya. WAKUDA tidak terasa seperti restoran yang sekadar ingin mengesankan tamu lewat kemewahan visual atau daftar bahan mahal. Ia justru terasa seperti restoran yang tahu persis bagaimana membangun momen, bagaimana menghormati bahan, dan bagaimana membuat makan malam terasa seperti sebuah pengalaman yang layak dikenang. Untuk rasa penasaran yang sudah lama dipelihara, WAKUDA menjawabnya dengan sangat meyakinkan.


