Setiap kali melewati gedung The Papilion Kemang, fasad kaca gedung tersebut seperti memantulkan kenangan, kemewahan yang low-key, di tengah-tengah kawasan pemukiman. Selama 20 tahun, gedung ini bagaikan kristal di Jalan Kemang Raya, menyaksikan setiap ritme urban yang bergerak di depannya. Kehadirannya pada pertengahan 2000-an seperti menggeser Kemang dari kantong bohemian yang kasual menjadi salah satu alamat lifestyle Jakarta yang lebih eksklusif. Fasad modernnya yang bening bukan sekadar wajah bangunan, tetapi sebuah pernyataan tentang keterbukaan, selera, dan cara baru Jakarta Selatan menikmati fashion, parfum, kuliner, serta pertemuan sosial.

Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang
Kini, perjalanan tersebut ditengok kembali melalui pameran “Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang” yang berlangsung pada 29 Agustus hingga 13 September 2026. Dirancang pada awal 2000-an oleh d–associates, yang kini dikenal sebagai Yolodi + Maria Architects, The Papilion lahir ketika Kemang tengah bertransformasi dari kawasan hunian menjadi ruang komersial dan lifestyle yang semakin hidup. Bangunan ini dirancang tanpa satu fasad utama, membuka dirinya ke berbagai arah kota, seolah sejak awal memahami bahwa kehidupan urban selalu datang dari banyak sisi. Transparansi itulah yang kemudian membuatnya akrab disebut sebagai Gedung Kaca.

Davy Linggar dan Indra Leonardi
Pameran ini menghadirkan sketsa, gambar, maket, studi, dan dokumentasi proses desain yang membawa pengunjung kembali ke masa ketika The Papilion masih berupa gagasan di atas kertas. Foto dan video yang merekam gedung ini dahulu dan hari ini memperlihatkan satu hal yang menarik: arsitektur tidak pernah benar-benar diam. Ia bermanfaat, disentuh waktu, bertemu manusia, lalu perlahan membangun memori bersama lingkungannya. Perjalanan visual tersebut juga dilengkapi karya Davy Linggar dan Indra Leonardi, dua seniman yang merespons The Papilion melalui cahaya, bidang, gerak, dan tekstur, menghadirkan cara lain untuk menokohkan sang bangunan.

Dua Dekade Kemudian
Dua puluh tahun kemudian, The Papilion Kemang tetap berdiri, tidak hanya sebagai Gedung Kaca yang memantulkan cahaya, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan pantulan kehidupan Jakarta. Dari concept store dan multi-label boutique, haute perfumery, hingga jejak institusi kuliner seperti Huize van Wely dan SHY Fine Dining, gedung ini pernah dan terus menjadi titik temu berbagai gagasan tentang kemewahan, kreativitas, dan kehidupan metropolitan. Pameran “Gedung Kaca” mengajak kita menoleh ke belakang tanpa terjebak nostalgia, lalu menyadari bahwa sebuah bangunan bisa tumbuh menjadi lebih dari sekadar struktur: ia menjadi penanda waktu, saksi perubahan, dan tempat kenangan terus memantul.





