Di balik Costa Jakarta, ada sebuah filosofi kuliner yang sederhana namun penuh makna, mar i muntanya yaitu laut dan gunung. Terinspirasi dari tradisi Catalan, konsep ini diterjemahkan secara modern menjadi land and ocean. Bukan sekadar jargon, tetapi cara pandang yang membentuk setiap detail pengalaman bersantap di restoran ini.
Chef Ryan Theja, di balik dapur Costa, membawa semangat baru: menggabungkan kekayaan laut dan hasil bumi Indonesia dengan filosofi Catalan yang penuh warna. Pendekatan ini melahirkan sajian yang akrab sekaligus mengejutkan, sederhana namun berkelas.
Ia menyebut pendekatannya sebagai low intervention cooking, memasak dengan cara sederhana dan membiarkan kualitas bahan segar berbicara sendiri. “Apapun yang kami punya, itu yang kami gunakan,” ujarnya. Tidak ada keterikatan pada menu tetap. Bahan yang datang dari nelayan Bali, petani di Bandung, hingga pasar internasional seperti Toyosu di Jepang menjadi dasar inspirasi.
Menu yang Selalu Bergerak

Menu bergerak cepat. Kisah demi kisah baru terjadi di atas piring. Costa bukan restoran dengan menu statis yang hanya berubah setiap tiga bulan. Di sini, dinamika jadi kunci. “Kalau bahan habis, menunya ganti. Bisa seminggu sekali, bisa juga hanya dua hari,” kata Chef Ryan.
Sekitar 80% menu Costa berbasis seafood, namun dengan sentuhan unik yang jarang ditemukan di restoran lain. Pengalaman kuliner di Costa menjadi sebuah rangkaian rasa yang bergerak dari laut dalam hingga tanah subur.
Renyahnya Crudo Tartlette, kulit tartlet berpadu dengan ledakan asin lembut dari salmon roe. Ada kejutan segar dari rumput laut pickled dan sentuhan lime zest. Papuan Mud Crab menghadirkan kepiting lumpur Papua dipadukan dengan carrot rice frito yang renyah dan lembut. Banana pepper memberi semburat pedas manis. Steak Tartare di sini adalah hashbrown yang garing di luar dan lembut di dalam dengan bluefin tuna terasa segar.

Calamares al Ajillo membawa kembali ke pesisir Spanyol. Loligo squid dimasak dengan tinta cumi dan sentuhan cabai Kashmir. Lalu beralih ke darat dengan Farce Chicken yang lembut karena dimasak cukup lama.
Kejutan lain datang dari Alaskan Halibut. Daging halibut dari Alaska yang halus dengan oyster aioli sauce dengan heirloom tomato manis segar. Satu suap terasa ringan, tapi penuh lapisan rasa. Sementara Arroz Gambas dengan patagonian prawn membawa aroma laut yang manis, berpadu dengan salmoretta. Nasi khas Mediterania ini juga bisa disajikan dengan udang segar, babi Iberico, atau bahan musiman lain.



Akhir perjalanan datang dengan manis. Fromage Ice Cream yang lembut dengan rasa keju, diperkaya sidra reduction yang memberi keasaman segar. Sementara Abinao Chocolate menutup dengan dramatis. Mousse cokelat gelap yang pekat, berpadu dengan minyak zaitun Monti Iblei dan garam laut dari Bali.
Setiap hidangan bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerita tentang kesegaran bahan dan kreativitas dapur. Filosofinya jelas. Sederhana, jujur, namun tetap sarat kejutan.
Ruang untuk Semua di Costa Jakarta

Meski tampil elegan, Costa bukan restoran fine dining yang kaku. Costa lebih cair, fleksibel, dan bersahabat. “Saya ingin orang bisa datang hanya untuk camilan dengan wine, atau duduk di bar menikmati koktail dan roti, lalu pulang. Tapi kalau mau makan full course juga bisa,” jelas Chef Ryan.
Costa menghadirkan ruang di mana setiap orang bisa menemukan cara bersantap yang sesuai suasana hati. Keluarga bisa berkumpul dan berbagi piring besar, eksekutif bisa menikmati makan siang bisnis elegan, sementara sahabat bisa bersantai di bar dengan kudapan ringan. Di bawah naungan BIKO Group , Costa berlokasi di Jalan Gunawarman menggabungkan ritme Catalonia dengan denyut kehidupan Jakarta.
Dengan menu yang terus bergerak dan suasana yang fleksibel, Costa merayakan hidup lewat hidangan penuh cerita. Di setiap piring, ada cerita tentang laut dan gunung, tentang bahan lokal dan impor, tentang tradisi Catalan yang berpadu dengan kreativitas kontemporer. Sebuah tempat untuk berbagi, menikmati, dan membawa pulang kenangan.


