Parfum adalah cerita, identitas, dan cara meninggalkan jejak di dunia. “Essential Parfums adalah merek niche pertama dari para perfumer ternama, dengan pendekatan berkelanjutan dan ramah lingkungan, namun hadir pada harga yang terjangkau.” ujar Géraldine Archambault sang pendiri dengan senyum penuh keyakinan.
Essential Parfums lahir dengan mendemokratisasi fine perfumery sambil tetap menghormati seni para perfumer. Dengan kolaborasi bersama maestro parfum dunia dan penggunaan bahan berkelanjutan, merek ini menghadirkan wewangian autentik yang elegan, orisinal, dan dapat diakses lebih luas.

Membicarakan wewangian berarti membicarakan kepribadian, preferensi, bahkan cara seseorang bercerita tanpa kata-kata. Ada yang menyukai top note segar penuh energi, ada pula yang lebih betah dengan base note hangat yang melekat lama di kulit.
Namun, jangan pernah menanyakan parfum favorit sang pendiri. “Itu seperti ditanya anak mana yang paling saya cintai,” ia tertawa. “Saya tidak bisa menjawab. Namun, saya bisa ceritakan mana yang paling disukai.” ungkapnya.
Bois Impérial, Nice Bergamot, dan Velvet Iris

Satu nama selalu muncul di berbagai kota besar dunia seperti Paris, Roma, Dubai, New York, Tokyo, hingga Jakarta yaitu Bois Impérial by Quentin Bisch. Sebuah parfum dengan daya tarik universal. Kisahnya pun personal. Nama Impérial terinspirasi dari kota Hue di Vietnam, kota kekaisaran tempat neneknya bertemu sang kakek. Dari situlah lahir narasi unik tentang kayu, vetiver, basil Thailand, dan lada Timut Nepal yang berpadu dalam harmoni.
Daun basil Thailand segar dan pedas bertemu dengan lada Timut Nepal nan berkilau, kontras dengan karakter kayu tegas yang jadi ciri utama. Vetiver Haiti yang hijau dan earthy berpadu dengan molekul Georgy Wood bernuansa cedarwood, serta floral Petalia. Akigalawood hasil upcycling patchouli menjadi penanda megah, diperkaya patchouli Indonesia dan sentuhan berkelanjutan Ambrofix.
Nice Bergamot by Antoine Maisondieu, menjadi eksperimen berani. Citrus khas Italia ini dibayangkan seperti berjemur lama di bawah matahari, hingga muncul nuansa manis alami. Bergamot Calabria terbaik berpadu dengan akord bunga alami dari kelopak mawar, melati, dan ylang-ylang asal Kepulauan Komoro, lalu bertumpu pada dasar hangat kayu cedar yang dilembutkan kacang tonka Venezuela.
Salah satu wewangian yang juga menyita perhatian adalah Velvet Iris. Bekerja sama dengan Dominique Ropion, iris yang biasanya powdery diubah menjadi sesuatu yang modern dan sensual. Namun Ropion menjawab tantangan dengan menambahkan sentuhan creamy, galbanum, dan labdanum, sehingga iris terasa lebih kontemporer, dengan kayu yang indah di base note.
Lebih dari Sekadar Wewangian

Bicara soal tren parfum, banyak orang kini mencari aroma yang lebih kuat dan tahan lama. Namun sang pendiri punya pandangan berbeda. “Saya percaya parfum harus seperti membuka laci, selalu ada kejutan baru di dalamnya. Tidak datar dan linear.” Katanya. Ia juga mengingatkan, meski terkadang pemakai merasa tidak lagi mencium parfumnya, orang lain justru tetap bisa menikmatinya.
Alih-alih sekadar mengejar tren, wewangian ini membangun karakter lewat cerita dan kejutan di setiap botol. Pendekatan ini ternyata mendapat sambutan hangat dari pasar, termasuk di Indonesia
Sejak hadir di Indonesia kurang dari setahun lalu, Essential Parfums langsung menyabet gelar Brand of the Year di C&F. Dua kreasi baru Velvet Iris dan Neroli Botanica sudah disiapkan untuk masuk pasar pada awal tahun depan.
Di balik semua cerita tentang bahan baku eksotis, perfumer ternama, dan perjalanan artistik yang penuh emosi. Essential Parfums menunjukkan bahwa niche fragrance bisa inklusif. Elegan, berkelanjutan, namun tetap terjangkau.

