Berpayungkan biru langit, bertemankan hamparan hijau pepohonan di dataran tinggi Ubud yang sakral, bersembunyilah di tengah kedamaian, Bumi Kinar. Di sini waktu seolah diperlambat oleh angin yang membelai pohon dan kecupan matahari yang jatuh manis hingga ke dasar lembah. Bumi Kinar lahir dari kehangatan keluarga yang turun hingga generasi ke tiga, ia bukan sekadar hunian penginapan, tetapi sebagai pengingat kenangan masa lalu bersama perjalanan waktu, kenangan tangan-tangan kecil yang menanam buah nyiur menjadi cikal, nama-nama yang diukir dengan kapur, dan seorang nenek yang menjadikan kebun sebagai altar cinta.

Harmonisasi alam Bumi Kinar
Dirancang oleh almarhum Bapak Hadiprana, arsitek legendaris Indonesia, bangunan warisan di Bumi Kinar menyatu harmonis dengan alam sekitar. Pepohonan, sungai, dan jurang adalah wadah tempat narasi arsitektural mengharmoniskan diri. Di paviliun sarapan, panorama magis dari tiga gunung suci Bali—Agung, Batur, dan Batukaru, mereka menjadi jangkar spiritual yang tak tergantikan. Di mana tepatnya posisi Bumi Kinar? Walau di tengah alam hijau yang rimbun, Bumi Kinar hanya berjarak 4 km dari Pasar Seni Ubud, 5 menit dari Goa Gajah.

Cakrawala alam Ubud
Di jantung Bumi Kinar, berdiri dua dunia yang menyatu melalui filosofi konfluens: warisan dan inovasi. Villa Skylight, dengan desain melengkung mengikuti aliran Sungai Petanu, menghadirkan pengalaman modern yang tak menghapus masa lalu. Setiap villa memiliki karakter unik: dari suara air terjun hingga kawanan burung yang melintasi cakrawala fajar. Jembatan menggantung yang menghubungkan dua area menjadi simbol transisi halus antara yang dulu dan yang kini.

Penghormatan pada alam dan manusia
Di setiap sudut Bumi Kinar, terdapat penghormatan pada alam dan manusia. Tidak ada satu pun pohon yang ditebang; semua arsitektur dibangun dengan prinsip minimal intervensi terhadap tanah. Taman-taman warisan yang ditanam sang nenek kini tumbuh sebagai museum hidup—penuh tanaman dari berbagai penjuru Nusantara, dilengkapi penanda nama seperti puisi yang tersembunyi di antara daun-daun.

Santapan dari kebun sendiri
Dapur Bumi Kinar mempersembahkan kekayaan cita rasa Bali melalui pendekatan farm-to-table. Jingga Restaurant, dengan nuansa matahari terbenam dan infinity pool-nya, menyajikan hidangan organik dari kebun sendiri di Tabanan. Di sisi lain, Lokal Kafé menyajikan brunch tenang dalam arsitektur lama yang diperbarui, menjadikannya tempat sempurna untuk momen kontemplatif di tepi kolam.

Koleksi kenangan keluarga
Bumi Kinar bukan sekadar tempat menginap, tapi panggung untuk menulis kisah pribadi yang lebih dalam. Perpustakaannya menyimpan koleksi eksentrik dari keluarga, dari edisi langka hingga memorabilia budaya. Di sini, Anda tidak hanya beristirahat, tetapi berubah—terhubung kembali dengan tanah, cerita, dan jiwa Anda sendiri. Bali mungkin sudah sering Anda datangi, tapi di Bumi Kinar, Anda akan menemukannya kembali—lebih jujur, lebih dalam, dan lebih indah dari yang pernah Anda bayangkan.






