Dunia kriya kontemporer kembali menemukan momentumnya ketika LOEWE resmi mengumumkan pemenang LOEWE FOUNDATION Craft Prize 2026. Tahun ini, penghargaan prestisius tersebut diberikan kepada seniman keramik asal Korea Selatan, Jongjin Park, atas karya monumental berjudul Strata of Illusion (2025). Dipilih dari 30 finalis internasional oleh panel juri yang terdiri dari tokoh desain, arsitektur, hingga kurator museum dunia, kemenangan Park terasa seperti penegasan baru bahwa craft bukan lagi sekadar teknik, melainkan bahasa artistik yang hidup, emosional, dan penuh eksperimen.

Strata of Illusion
Karya Strata of Illusion menghadirkan bentuk menyerupai kursi yang tampak nyaris runtuh, namun justru menemukan keindahannya dalam ketegangan antara kontrol dan kehancuran. Ribuan lembar kertas yang dilapisi slip porselen disusun secara presisi sebelum akhirnya dibakar dalam kiln. Saat proses pembakaran berlangsung, kertas menghilang, struktur melunak, lalu gravitasi mengambil alih bentuk akhirnya. Hasilnya adalah objek keramik yang terasa organik, rapuh, sekaligus arsitektural, sebuah eksplorasi yang menolak definisi tunggal tentang material maupun fungsi.

Karya Keramik Jongjin Park
Panel juri menilai karya Jongjin Park berhasil mengguncang ekspektasi tradisional tentang keramik. Mereka melihat bagaimana medium porselen di tangan Park mampu berbicara dengan disiplin craft lain, mulai dari glassblowing hingga teknik penjilidan buku. Ada puisi tersembunyi dalam proses hilangnya kertas saat pembakaran, serta kejujuran artistik pada bentuk yang melorot secara alami akibat panas dan gravitasi. Dalam konteks LOEWE FOUNDATION Craft Prize, keberanian terhadap risiko dan perilaku material memang menjadi inti utama dari makna sebuah karya.

Baba Tree Master Weavers
Selain penghargaan utama senilai €50.000, dua special mention juga diberikan kepada karya yang memperlihatkan pendekatan craft paling visioner tahun ini. Salah satunya jatuh kepada kolektif Baba Tree Master Weavers bersama desainer Spanyol Álvaro Catalán de Ocón melalui karya Frafra Tapestry (2024). Permadani berskala besar tersebut lahir dari interpretasi fotografi udara desa tradisional Gurunsi di Ghana, yang kemudian diterjemahkan menjadi tenunan monumental menggunakan teknik anyaman tradisional dan elephant grass alami.

Tapestry sebagai dokumen antropologis
Karya Frafra Tapestry terasa seperti dokumen antropologis yang puitis. Teknologi kontemporer bertemu dengan pengetahuan turun-temurun, menghasilkan karya yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga menyimpan memori kolektif tentang arsitektur dan cara hidup yang mulai terancam hilang. Proyek lintas benua ini memperlihatkan bagaimana craft dapat menjadi medium pelestarian budaya sekaligus ruang dialog global yang sangat relevan dengan lanskap desain masa kini.

Perhiasan Italia
Special mention lainnya diberikan kepada seniman perhiasan Italia Graziano Visintin melalui karya Collier (2025). Dua kalung emas tersebut disusun dari kubus-kubus kecil berbahan lembaran emas tipis yang dihias menggunakan teknik niello, metode pengerjaan logam kuno yang kini semakin jarang digunakan. Juri mengapresiasi bagaimana Visintin mengubah teknik historis menjadi perhiasan kontemporer dengan nuansa nyaris seperti lukisan miniatur yang dirangkai secara elegan.

LOEWE FOUNDATION Craft Prize edisi 2026
Edisi 2026 dari LOEWE FOUNDATION Craft Prize sendiri memperlihatkan kecenderungan baru dalam dunia kriya internasional. Banyak karya mengeksplorasi ketegangan antara keteraturan dan ketidaksempurnaan. Permukaan yang tampak halus sengaja dirusak, geometri presisi dibuat melunak, sementara material tradisional diberi konteks kontemporer melalui teknik memotong, melipat, menenun, hingga layering. Craft hari ini tidak lagi berbicara tentang nostalgia, tetapi tentang transformasi dan keberanian membaca ulang tradisi.

Pameran di National Gallery Singapore
Seluruh 30 karya finalis akan dipamerkan di National Gallery Singapore mulai 13 Mei hingga 14 Juni 2026. Pameran ini menghadirkan karya dari 20 negara dan wilayah, mencakup medium keramik, tekstil, logam, kaca, kayu, furnitur, jewellery, hingga lacquer. Tahun ini, lebih dari 5.100 submission dari 133 negara diterima oleh pihak penyelenggara, memperlihatkan betapa craft kontemporer kini berkembang menjadi percakapan global yang semakin kompleks dan progresif.

LOEWE dan Craft
Didirikan pada 2016 sebagai penghormatan terhadap akar LOEWE yang bermula sebagai workshop craft kolektif pada 1846, LOEWE FOUNDATION Craft Prize terus menjadi salah satu penghargaan paling bergengsi di dunia kriya modern. Di bawah arahan Sheila Loewe, fondasi budaya ini menempatkan craft sebagai bagian penting dari percakapan seni, desain, hingga inovasi material masa depan. Tahun demi tahun, penghargaan ini berhasil memperlihatkan bahwa keterampilan tangan tetap memiliki relevansi kuat di era digital dan teknologi tinggi.

Bagi Jongjin Park, kemenangan ini menjadi validasi internasional atas pendekatan artistiknya yang mengaburkan batas antara collectible design dan seni kriya. Dengan praktik yang memadukan eksperimen material, disiplin craft, dan sensibilitas sculptural, Park menghadirkan definisi baru tentang keramik kontemporer. Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba instan, karya-karya seperti Strata of Illusion justru mengingatkan bahwa keindahan sering kali lahir dari proses yang lambat, tidak sempurna, dan penuh ketidakpastian.





