Kolaborasi antara Museum MACAN, Max Mara, dan Collezione Maramotti untuk edisi ke-10 Max Mara Art Prize for Women menjadi salah satu penanda penting dari peta seni visual dan fashion, terutama di Indonesia. Di mana estetika adalah visi tentang siapa yang diberi ruang, siapa yang didengar dan bagaimana masa dean dibentuk.
Untuk pertama kalinya, penghargaan ini hadir di Indonesia—sekaligus menandai debutnya di Asia Tenggara. Namun lebih dari sekadar ekspansi geografis, langkah ini memperkenalkan format baru yang bersifat nomadik: sebuah pendekatan yang membawa penghargaan ini berpindah dari satu negara ke negara lain, menyerap sekaligus merespons konteks budaya yang berbeda. Ini bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan transformasi cara pandang.
Transformasi ini hadir setelah dua dekade kolaborasi erat dengan Whitechapel Gallery di London, yang selama ini menjadi fondasi penting dalam mendukung visibilitas seniman perempuan di Inggris. Kini, dengan arah baru yang lebih global, penghargaan ini bergerak melampaui pusat-pusat seni Barat, menghadirkan perspektif yang lebih inklusif dan relevan dengan dinamika kontemporer.
Di bawah kurasi Cecilia Alemani, Indonesia dipilih bukan sekadar sebagai lokasi, tetapi sebagai titik awal yang merepresentasikan energi baru dalam praktik seni global. Ia melihat ekosistem seni Indonesia sebagai lanskap yang dinamis, resilien, dan memiliki kompleksitas naratif yang kuat—sebuah ruang di mana praktik artistik tidak hanya bersifat estetis, tetapi juga politis dan personal.

Pilihan Museum MACAN sebagai mitra semakin menegaskan posisi Indonesia dalam percakapan ini. Di bawah kepemimpinan Venus Lau, museum ini tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga platform yang aktif membangun dialog lintas budaya, sekaligus memperkuat kehadiran suara perempuan dalam seni kontemporer. Momentum ini semakin mengerucut dengan diumumkannya lima finalis untuk edisi 2025–2027—sebuah potret generasi baru perupa perempuan Indonesia yang membawa spektrum praktik dan narasi yang luas: Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, Mira Rizki, dan Dian Suci.

Kelima nama ini bukan hanya merepresentasikan keberagaman medium—mulai dari keramik, lukisan, instalasi, hingga eksplorasi suara—tetapi juga keberanian dalam merespons isu-isu yang relevan hari ini. Praktik mereka menyentuh pengalaman gender, ekologi, hak komunitas adat, hingga memori personal dan sejarah kolektif. Dalam karya-karya mereka, narasi domestik berkelindan dengan refleksi sosial-politik yang lebih luas, menciptakan bahasa visual yang intim sekaligus kritis.
Kehadiran para finalis ini menjadi indikator bagaimana Indonesia tidak lagi berada di pinggiran peta seni global. Ada intensitas baru—baik dalam pendekatan material maupun kedalaman gagasan—yang membuat praktik mereka relevan dalam diskursus internasional.

Bagi pemenang nantinya, penghargaan ini menawarkan residensi selama enam bulan di Italia—sebuah ruang eksperimental yang mempertemukan tradisi panjang seni Eropa dengan praktik kontemporer yang lebih cair. Di sanalah, sebuah ide akan diuji, dikembangkan, dan pada akhirnya dipresentasikan dalam dua pameran tunggal: di institusi mitra dan di Collezione Maramotti.

Sejak awal berdirinya oleh Achille Maramotti pada 1951, Max Mara telah membangun identitas yang erat dengan gagasan perempuan yang independen dan berdaya. Dukungan terhadap seni—khususnya melalui Max Mara Art Prize for Women—menjadi perpanjangan dari nilai tersebut, di mana kreativitas dipandang sebagai bentuk ekspresi sekaligus agen perubahan.



