Museum MACAN kembali menghadirkan rangkaian pameran yang mengajak publik menelaah hubungan antara waktu, lanskap, dan ingatan melalui musim pameran bertajuk Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes. Musim pameran ini menyatukan pameran tunggal seniman Indonesia Riar Rizaldi, pameran kelompok Menelan Cakrawala, presentasi khusus dari Dawn Ng dan Marcos Kueh, serta ruang seni anak terbaru karya Ruth Marbun. Melalui beragam medium, Museum MACAN menawarkan pembacaan yang relevan mengenai bagaimana sejarah, lingkungan, dan pengalaman manusia terus membentuk masa kini.

Riar Rizaldi: Period Piece
Menjadi pameran museum pertamanya di Indonesia, Period Piece menandai kepulangan penting bagi Riar Rizaldi setelah kiprahnya di berbagai institusi internasional seperti Museum of Modern Art, Centre Pompidou, serta sejumlah festival film dunia. Melalui karya baru seperti Bioskop Asymptotic (2026), Fanfictie: Volcanology (2025), dan Tropenkolder (2026), Rizaldi menelusuri bagaimana gagasan kemajuan di Indonesia selalu berkaitan dengan sejarah kolonial, eksploitasi sumber daya alam, teknologi, serta perubahan cara manusia mengalami ruang sosial. Ketiga karya tersebut menghadirkan apa yang disebutnya sebagai “nostalgia masa depan”, kerinduan terhadap masa ketika kemajuan masih dipandang sebagai janji kolektif yang terbuka.

Menelan Cakrawala
Pameran kelompok Menelan Cakrawala mengawali narasinya dengan sebuah pertanyaan mendasar: apakah cakrawala benar benar netral? Menghadirkan karya dari sejumlah seniman modern dan kontemporer seperti Raden Saleh, S. Sudjojono, I Nyoman Masriadi, hingga Anselm Kiefer, pameran ini menelusuri bagaimana lanskap dibentuk oleh budaya visual, kolonialisme, dan relasi kuasa. Berangkat dari warisan Mooi Indië hingga era algoritma dan krisis ekologis, pameran ini menunjukkan bahwa keindahan sering kali digunakan untuk menyamarkan realitas sosial maupun lingkungan yang lebih kompleks.

Dawn Ng: Atlantis II
Seniman multidisipliner asal Singapura, Dawn Ng, menghadirkan Atlantis II, sebuah proyek yang menjadikan es sebagai medium utama untuk merekam perjalanan waktu. Balok es berpigmen dengan berat mencapai 80 kilogram digantung di atas lembaran kertas xuan asal Tiongkok. Ketika mencair, pigmen perlahan meninggalkan jejak visual yang menyerupai nebula atau gugusan pulau yang perlahan menghilang. Rangkaian karya yang terbentuk menjadi semacam arsip visual tentang kefanaan, sekaligus “permadani waktu” yang mencatat setiap fase perubahan dan kehilangan.

Marcos Kueh: Kenyalang Circus
Di Sculpture Garden Museum MACAN, seniman tekstil Malaysia Marcos Kueh menghadirkan Kenyalang Circus. Menggabungkan tradisi tekstil Kalimantan dengan teknologi tenun digital industri, Kueh menciptakan karya yang mempertanyakan bagaimana warisan budaya dipertontonkan, dikomodifikasi, dan dikonsumsi. Melalui instalasi monumental Kenyalang Circus: Nenek Moyang, seri Woven Poster, dan seri Kerbau, ia membahas kosmologi masyarakat adat, industri pariwisata, hingga isu kekuasaan dan hierarki sosial di Asia Tenggara.

Ruth Marbun: Beradu Padu
Ruang Seni Anak Museum MACAN menghadirkan Beradu Padu karya Ruth Marbun, sebuah proyek partisipatif yang mengajak anak anak dan keluarga menciptakan karya bersama. Menggunakan gambar hitam putih, pita perekat berwarna, dan benda benda sehari hari, pengunjung dapat menyusun cerita mereka sendiri yang kemudian disatukan dengan karya pengunjung lain. Seiring waktu, instalasi ini tumbuh menjadi lanskap kolektif yang terus berubah, mencerminkan ketertarikan Marbun terhadap hubungan manusia, material, dan kekuatan cerita yang dibangun secara bersama.

Seni yang Berakar di Kawasan dan Terbuka untuk Semua
Menutup musim pameran ini, Fenessa Adikoesoemo mengatakan, “Musim pameran ini mencerminkan segala hal yang menjadi alasan Museum MACAN didirikan: menciptakan ruang bagi seni yang berakar di kawasan ini, relevan dengan dunia, dan sungguh terbuka bagi siapa saja yang melangkah masuk ke pintu kami. Karya karya yang kami hadirkan musim ini, yang mencakup lukisan, film, tekstil, es, dan praktik berkarya kolektif, berbicara tentang pertanyaan yang sekaligus sangat Indonesia dan sangat universal. Kami percaya bahwa ketika seni seperti ini dapat diakses oleh audiens seluas mungkin, ia melakukan sesuatu yang hanya sedikit hal lain dapat lakukan: memperluas apa yang dibayangkan orang sebagai sesuatu yang mungkin, baik bagi diri mereka sendiri maupun budaya tempat mereka menjadi bagian. Itulah cakrawala yang terus kami tuju.” Dengan pendekatan tersebut, Museum MACAN kembali menegaskan perannya sebagai salah satu institusi seni paling penting dalam membangun dialog antara Indonesia dan dunia.


