Bagi MB&F, jenama jam tangan independen dari Swiss, sebuah sederhana seperti “bagaimana jika jam tangan bukan sekadar objek penunjuk waktu?” bisa melahirkan sesuatu yang kompleks. Yang mana pertanyaan tersebut akhirnya melahirkan HM12 The Guardian, kreasi terbaru dari Maximilian Büsser dan timnya yang sekaligus membuka dekade ketiga perjalanan MB&F. Bukan sekadar jam tangan, bukan pula sekadar karya seni mekanis, melainkan sebuah konsep horologi utuh yang menggabungkan arloji futuristis dengan sosok robot mekanis setinggi hampir 40 sentimeter.
Jika selama ini kolektor mengenal MB&F sebagai pencipta mesin-mesin waktu yang terinspirasi pesawat luar angkasa, mobil balap, atau dunia fiksi ilmiah, HM12 The Guardian terasa seperti pernyataan yang lebih personal. Ia membawa kembali kenangan masa kecil Maximilian Büsser terhadap robot-robot yang dahulu menghuni komik, serial televisi, dan mainan era 1970 hingga 1980-an.

Yang pertama menarik perhatian tentu adalah bentuknya. HM12 tampil seperti wajah robot yang hidup yang membuat saya langsung teringat dengan tokoh sentral di film Transformers. Dua jendela waktu membentuk sepasang mata. Kemudian di bagian kiri, jam ditampilkan melalui mekanisme jumping hour instan, sementara menit bergerak pada cakram terpisah di sisi kanan. Di bagian bawah terdapat rotor berbentuk kapak khas MB&F yang berfungsi layaknya mulut. Sementara di bagian atas, flying tourbillon seolah menjadi otak yang bekerja tanpa henti. Posisi yang cukup seamless dengan masing-masing fungsi pada anataomi robot.
Semua elemen ini ditempatkan dalam struktur titanium dan safir yang transparan, memungkinkan cahaya masuk dari berbagai sudut sekaligus memperlihatkan kompleksitas mekanis di dalamnya. Namun daya tarik sesungguhnya justru berada pada fitur yang disebut “Face Shield”. Layaknya helm atau pelindung wajah milik robot futuristis, dua panel mekanis dapat dibuka atau ditutup melalui crown di sisi kiri. Sistem ini sepenuhnya mekanis dan berdiri independen dari mesin penunjuk waktu. Kompleksitasnya bahkan mencapai lebih dari 200 komponen—jumlah yang melampaui banyak jam tangan mekanis konvensional secara keseluruhan.
Di sinilah filosofi MB&F terlihat jelas. Mekanisme tersebut tidak lahir karena kebutuhan praktis tapi hadir karena kebutuhan bercerita. Dalam dunia MB&F, komplikasi bukan hanya soal fungsi namun adalah bagian dari narasi. Ketika pelindung wajah terbuka perlahan, HM12 berubah ekspresi. Ketika tertutup, karakter robot itu seakan memasuki mode perlindungan. Jam tangan tidak lagi menjadi instrumen pasif, tetapi objek yang memiliki kepribadian.


HM12 hadir bersama sosok robot bernama The Guardian, hasil kolaborasi dengan manufaktur spesialis jam meja dan objek mekanis, L’Epée 1839. Robot ini bukan sekadar display stand namun ia dirancang sebagai tubuh lengkap dari HM12. Ketika dilepas dari strap, jam tangan dipasang pada kepala robot tersebut, seolah menjadi otaknya.
Di bagian dada terdapat termometer mekanis yang berfungsi sebagai “jantung”. Salah satu tangannya menyimpan loupe untuk mengamati detail movement. Sementara tangan lainnya membawa lampu UV yang dapat mengaktifkan pancaran Super-LumiNova pada jam tangan maupun tubuh robot itu sendiri.
Keseluruhan konsep ini menghasilkan hampir 1.500 komponen yang bekerja sebagai satu kesatuan. Angka tersebut terdengar fantastis, tetapi justru mencerminkan posisi MB&F dalam lanskap horologi modern. Ketika banyak jenama luxury berbicara tentang warisan dan tradisi, MB&F memilih berbicara tentang imajinasi.

Di satu sisi, jenama ini menampilkan finishing tradisional tingkat tinggi, flying tourbillon, konstruksi movement in-house, serta teknik dekorasi yang memenuhi standar haute horlogerie Swiss. Namun di sisi lain, ia tampil seperti karakter yang keluar dari dunia anime, film robot, atau mainan koleksi premium.
HM12 The Guardian mengingatkan bahwa salah satu kekuatan terbesar horologi justru terletak pada kemampuannya membuat orang dewasa kembali merasakan kegembiraan seperti anak-anak. Mungkin ini adalah pesan utama yang ingin disampaikan MB&F saat memasuki dekade ketiganya: bahwa kreativitas sejati tidak pernah tumbuh dari kepatuhan terhadap aturan, melainkan dari keberanian untuk terus berimajinasi.


