Selama ini, setiap melihat potret massa, walau kejadiannya dapat kita cerna, tapi sering kali kita terbawa perasaan heboh, ruwet, dan sesak, ada rasa tak ingin melihatnya dua kali. Lalu seorang fotografer dari Desa Tegallalang, di Kabupaten Gianyar yang indah, bernama I Gede Ngurah Hartawan, membidik sesuatu dengan hasil yang di luar nalar. Intuisi visualnya tajam, ia mampu membuat chaos menjadi seperti terkomposisi, ia bisa menoleh ke sudut lain dan membingkai bidikannya jadi seperti terkoreografi. Dengan hanya Nikon keluaran tahun 2014, Ngurah bisa menghadirkan kedamaian, menciptakan foto yang mengundang empati dan kaya narasi.

Modernitas vs. Tradisi dalam Momen Candid
Salah satu bidikannya berhasil menangkap momen candid di sebuah bale-bale, tampak anak-anak dan orang dewasa tengah bersiap atau beristirahat dalam sebuah rangkaian upacara adat. Kekuatan utama foto ini terletak pada ceritanya, interaksi multi-generasi yang sangat natural. Di sisi kiri, seorang wanita berkain sedang memegang smartphone untuk memotret anak-anaknya. Kehadiran gawai ini memberikan kontras yang menarik, Modernitas vs. Tradisi. Tiga anak lelaki yang duduk di tengah bale menjadi vocal point. Ekspresi mereka sangat jujur: ada yang melihat ke arah smartphone dengan polos, ada yang tersenyum bangga, dan ada yang tertunduk malu atau lelah. Di sisi kanan, interaksi antara remaja yang sedang saling membantu merapikan ikat kepala (udeng) menambah kedalaman cerita.
Ritme Visual Terencana
Struktur kayu dari bale tradisional berfungsi sebagai bingkai alami yang membingkai subjek di dalamnya. Ini memberikan kesan terstruktur sekaligus mengarahkan mata pengamat langsung ke para subjek. Posisi subjek yang berjejer secara horizontal memberikan ritme visual yang rapi. Sementara itu, kaki-kaki orang dewasa yang berdiri di area bawah memberikan dimensi ruang dan menunjukkan adanya aktivitas lain di tingkat elevasi yang berbeda. Penempatan wanita di sisi kiri dan kelompok anak-anak di bagian tengah-kanan menciptakan keseimbangan dinamis yang tidak kaku. Karya ini tajam akan detail-detail kultural, tekstur anyaman janur di bagian depan bawah, motif kain sarung tradisional, hingga detail alur kayu bale yang mulai menua, semuanya terekam dengan apik. Grain atau tekstur foto yang lembut memberikan kesan estetika mirip fotografi analog yang melankolis dan bernilai dokumenter tinggi.

Perang Pandan Horisontal
Bidikannya yang lain menampilkan rekaman visual yang luar biasa intens mengenai tradisi Mekare-kare atau yang lebih dikenal secara luas sebagai Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Bali. Sebagai sebuah karya cultural documentary, foto ini tidak hanya menangkap sebuah aksi fisik, melainkan menangkap seluruh ekosistem sosial dan energi magis yang tengah berlangsung. Kekuatan terbesarnya adalah kemampuan mengelola visual yang sangat padat (crowded) menjadi sebuah komposisi yang runtut dan berdimensi tinggi. Secara horisontal, objek terbagi menjadi; pendatang di bagian depan, pemain di tengah, dan penduduk lokal di belakang. Sebuah narasi yang tersembunyi, merangkul antusiasme, ketegangan, dan kebersamaan. Sungguh, sebuah foto esai yang mantap.

Who is this Guy?
I Gede Ngurah Hartawan yang menyebut dirinya sebagai seorang Cultural Documentary Photographer, memiliki ketertarikan pada dunia fotografi ketika masih duduk di bangku SMA. Ia pernah mengirimkan karya fotonya ke pameran tahunan Imagination yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia Denpasar. Karyanya berhasil masuk nominasi dan menjadi titik awal yang mengubah arah hidupnya. Foto yang membawanya ke panggung pameran tersebut merekam momen melukat di Tirta Empul, dibidik dengan sudut pandang yang tidak biasa, dari atas kerumunan, foto itu menampilkan barisan orang yang tengah menjalani ritual penyucian diri. Di antara banyak kepala yang tertunduk, seorang perempuan menoleh ke arah kamera. Kehadiran sosok itu menjadi focal point yang membuat foto tersebut memiliki cerita yang kuat dan berbeda.

Membidik Sebelum Memiliki Kamera
Menariknya, saat ia memotret karya yang kemudian menjadi finalis itu, Ngurah bahkan belum memiliki kamera sendiri. Ia meminjam kamera milik teman. Keberhasilan foto tersebut membawanya lebih dekat dengan dunia akademik seni. Ketika mendapat kesempatan mengikuti seleksi masuk ISI, kondisi ekonomi sempat membuatnya gamang untuk melanjutkan pendidikan. Namun salah seorang dosen mendorongnya untuk mencoba jalur beasiswa. Kesempatan itu akhirnya membawanya diterima sebagai mahasiswa dengan dukungan beasiswa yang bahkan sempat ia rahasiakan dari kedua orang tuanya hingga beberapa waktu setelah kuliah berjalan.

Institut Seni Indonesia Denpasar
Selama delapan semester menempuh pendidikan di ISI, Ngurah terus mengembangkan kemampuan fotografi dokumenter dan budaya. Ia aktif mengikuti pameran kampus setiap tahun hingga menampilkan karya dalam pameran tugas akhir. Baginya, fotografi bukan hanya soal teknik, melainkan tentang kemampuan membaca situasi dan memahami manusia di balik sebuah peristiwa. Pendekatan tersebut masih menjadi ciri khasnya hingga kini. Saat banyak fotografer datang ke sebuah upacara budaya hanya untuk memburu atraksi utama, Ngurah justru lebih tertarik mengamati lingkungan sekitar dan membangun percakapan dengan masyarakat setempat. Menurutnya, pemahaman terhadap latar belakang tradisi akan membantu fotografer menemukan sudut pandang yang lebih mendalam dan autentik.

Single-Frame Photo Essay
Ia juga percaya bahwa intuisi memainkan peran besar dalam fotografi. Banyak foto terbaik lahir bukan dari perencanaan yang rumit, melainkan dari kepekaan membaca ruang dan kesabaran menunggu sesuatu terjadi. Kadang ia hanya menemukan sebuah latar yang menarik, lalu menunggu hingga seseorang melintas dan melengkapi komposisi yang telah ia bayangkan. Jika momen itu tidak datang, ia memilih mencari lokasi lain tanpa rasa kecewa. Secara keseluruhan, karya I Gede Ngurah Hartawan bukan sekadar dokumentasi budaya, melainkan sebuah esai foto satu bingkai (single-frame photo essay) yang menangkap jiwa dari kehidupan sosial. Fotonya terasa jujur, hangat, dan berhasil merekam dan menata kehebohan menjadi terstruktur dan bernarasi, natural, elegan, dan berkelas.




