Tinggal di kota memiliki pesonanya tersendiri. Fasilitas lengkap dan mudah diakses serta berbagai peluang yang lebih mudah diraih, adalah sedikit dari alasan begitu banyak orang tergiur untuk merantau ke kota besar. Namun, tantangan yang akan dihadapi di kota besar juga tak kalah gegap gempitanya. Tingkat stres tinggi bukan percakapan yang aneh lagi di antara masyarakat yang hidup di kota. Ritme kerja yang serba cepat, biaya hidup tinggi, di waktu bersamaan kita pun menghadapi masalah sehari-hari seperti kemacetan lalu lintas. Karena itu, jika dapat menyisihkan waktu, walau sejenak saja, banyak orang langsung mengambilnya. Untuk rehat sejenak, mengisi kembali baterai diri yang mulai padam.
Luxina mendapat kesempatan untuk beristirahat sejenak bersama Plataran Indonesia di Plataran Borobudur. Selama tiga hari dua malam, kami melalui rangkaian perjalanan yang menjadi bagian dari implementasi konsep HOPE (Home of Peaceful Escape). Ini adalah konsep yang dikembangkan Plataran sebagai pendekatan hospitality yang menempatkan wellness, kualitas waktu, serta keterhubungan dengan alam dan budaya sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman menginap.

Kami seolah sudah diajak memelankan ritme hidup dengan memulai perjalanan dari Jakarta dengan kereta ke Yogyakarta sekitar tujuh jam lamanya, lalu diikuti dengan mobil hingga ke kawasan Borobudur. Setibanya di sana, langsung disambut dengan pemandangan hijau yang mengelilingi Plataran Borobudur Resort & Spa. Hari pertama ditutup dengan santap malam di Enam Langit by Plataran berlokasi di Plataran Shailendra, Bukit Menoreh.
Keesokan harinya dimulai dengan sunrise breakfast di Tiga Dari Rooftop dengan pemandangan langsung ke Candi Borobudur. Ini bukan sekadar sarapan karena kami ditemani sesi storytelling mengenai sejarah Borobudur bersama pelaku budaya lokal.

Di pukul 07.00 kami memulai bagian utama perjalanan ini, spiritual journey di Candi Borobudur lalu dilanjutkan di Candi Mendut. Selama perjalanan ini, kami dipinjamkan kain bawahan sepanjang lutut dan sandal khusus untuk dikenakan serta dibekali setangkai bunga sedap malam. Seorang pemandu membawa kami ke tingkat teratas untuk melaksanakan ritual pilgrim.
Perjalanan ini juga diwarnai hal-hal menyenangkan khas Plataran yang sudah tak asing lagi. Setelah lelah berkeliling Candi Borobudur, kami kembali untuk menikmati reflexology treatment di Rahita Wellness Sanctuary. Kemudian sore harinya, kami berkesempatan mewujudkan “our inner Jeng Yah” saat afternoon tea di Beranda Eyang dengan Javanese attire.

Hari yang penuh aktivitas ini kami tutup dengan makan malam di Prego Borobudur. Hidangan langsung diolah oleh Chef Iqbal ketika kami bersantap di sana. Keseluruhan rangkaian ini menghadirkan cara baru menikmati Borobudur, tidak hanya sebagai destinasi wisata budaya, tetapi juga sebagai ruang untuk menikmati perjalanan dengan ritme yang lebih personal dan terhubung dengan lingkungan sekitar.


