Suara langkah kaki bergema di lantai bersejarah Teatro della Pergola, Florence. Gedung teater yang berdiri sejak abad ke-17 itu lebih sering menjadi saksi pertunjukan seni dan drama, namun pada 18 Juni kemarin, panggungnya menjadi ruang bagi sebuah momen penting dalam konteks fashion kontemporer. Simone Rocha mempersembahkan presentasi menswear Spring/Summer 2027 pertamanya yang berdiri sendiri, sebuah langkah yang menandai babak baru bagi rumah mode yang selama ini dikenal melalui dunia feminin yang puitis dan emosional.

Keputusan tersebut bukan sekadar perubahan format presentasi. Selama bertahun-tahun, koleksi pria Simone Rocha tumbuh berdampingan dengan womenswear, berbagi narasi, karakter, dan bahasa visual yang sama. Pitti Uomo 110 menjadi titik ketika menswear itu akhirnya memperoleh ruangnya sendiri, berbicara dengan suara yang lebih jelas dan lebih dewasa.
Pilihan Florence sebagai lokasi debut terasa simbolis. Kota yang selama berabad-abad menjadi pusat perdagangan tekstil, seni, dan kemewahan Italia ini juga merupakan rumah bagi Pitti Uomo, salah satu panggung paling berpengaruh dalam menswear global. Setiap musim, para pelaku industri datang untuk membaca arah baru pakaian pria. Kehadiran Simone Rocha sebagai Guest Designer memperlihatkan bagaimana definisi menswear kini bergerak ke wilayah yang semakin luas dan kompleks.

Rocha tidak pernah tertarik pada maskulinitas yang dibangun dari ketegasan semata. Karyanya selalu memperlihatkan ketertarikan pada emosi, memori, dan hubungan manusia. Unsur-unsur yang selama ini identik dengan estetika Simone Rocha—bordir yang rumit, permainan volume, tekstur romantis, serta sentuhan dekoratif yang nyaris teatrikal—muncul kembali dalam koleksi ini, namun diterjemahkan melalui perspektif yang lebih fokus pada tubuh dan pengalaman laki-laki.
Yang menarik, presentasi tersebut tidak terasa sebagai upaya menjadikan pria lebih feminin. Sebaliknya, Rocha mengajukan pertanyaan yang lebih mendalam: apakah maskulinitas harus selalu didefinisikan melalui kekuatan, ketegasan, dan pengendalian emosi?

Melalui koleksi Spring/Summer 2027, jawabannya tampak jelas. Ia menawarkan ruang bagi kerentanan, kelembutan, dan romantisme sebagai bagian yang sah dari identitas pria modern. Siluet-siluet yang hadir di atas runway terasa ringan namun terstruktur, lembut namun tidak kehilangan karakter. Setiap detail seolah dirancang untuk menunjukkan bahwa kemewahan tidak selalu berbicara tentang dominasi, melainkan juga tentang sensitivitas.
Pandangan tersebut selaras dengan perjalanan kreatif Rocha selama lebih dari satu dekade. Sejak mendirikan labelnya di London, ia membangun dunia yang terinspirasi oleh berbagai lapisan budaya personal: warisan Irlandia, akar keluarga Hong Kong, kenangan masa kecil, sastra gotik, hingga ketertarikannya pada sejarah pakaian. Semua elemen itu bertemu dalam bahasa desain yang sulit dibandingkan dengan siapa pun.

Pitti Uomo melihat keunikan tersebut sebagai sesuatu yang relevan untuk masa kini. Ketika banyak rumah mode kembali mengeksplorasi tailoring klasik dan kode berpakaian tradisional, Simone Rocha justru menawarkan pendekatan yang lebih emosional. Ia tidak menolak tradisi, tetapi memperluas maknanya. Pendekatan itulah yang membuat presentasi ini terasa lebih penting daripada sekadar debut runway. Ada pergeseran budaya yang sedang berlangsung. Pakaian pria tidak lagi hanya berbicara tentang fungsi, status sosial, atau simbol kekuasaan. Ia mulai menjadi medium untuk menyampaikan identitas yang lebih personal dan lebih manusiawi.
Florence telah menyaksikan banyak momen bersejarah dalam perjalanan menswear. Namun pertunjukan Simone Rocha meninggalkan kesan yang berbeda. Alih-alih memperlihatkan revolusi yang keras dan penuh deklarasi, ia menawarkan perubahan yang bergerak perlahan, hampir seperti bisikan. Sebuah bisikan yang menyampaikan bahwa masa depan menswear mungkin tidak terletak pada definisi baru tentang kekuatan, melainkan pada keberanian untuk menunjukkan kelembutan.




