Hermès tidak pernah hadir dengan kejutan besar untuk menjadi pembicaraan di sosial media atau “IRL”. Dan untuk koleksi pria spring/ summer 2027, yang mengisi kekosongan, maka hadirlah koleksi transisi dalam bentuk presentasi yang lebih intim. Sebuah keputusan yang terasa sejalan dengan karakter Hermès: tenang, percaya diri, dan tidak pernah merasa perlu berteriak untuk didengar.
Koleksi ini menjadi karya terakhir Véronique Nichanian sebelum estafet kreatif lini pria Hermès memasuki babak baru. Namun, tidak ada nuansa perpisahan yang dramatis. Sebaliknya, Nichanian menyampaikan rangkuman dari filosofi desain yang telah ia bangun selama puluhan tahun melalui bahasa yang paling ia kuasai: ketepatan potongan, kualitas material, dan luxury yang lahir dari kesederhanaan.


Spring/Summer 2027 memperlihatkan bagaimana Hermès terus menyempurnakan gagasan tentang pakaian pria modern. Tailoring dibuat semakin ringan dengan konstruksi yang lembut dan mudah bergerak. Siluet tetap rapi, tetapi jauh dari kesan formal yang kaku. Jaket dikenakan senatural cardigan, sementara celana memiliki volume yang cukup untuk menghadirkan kenyamanan tanpa kehilangan presisi. Semua terasa elegan tanpa terlihat berusaha menjadi elegan.
Pilihan material kembali menjadi kekuatan utama koleksi ini. Linen, katun, sutra, dan kulit diolah dengan standar craftsmanship yang menjadi identitas Hermès. Tidak ada detail yang berlebihan, tidak ada logo yang mendominasi, dan tidak ada elemen dekoratif yang dibuat hanya untuk menarik perhatian. Fokus sepenuhnya diarahkan pada kualitas yang dapat dirasakan melalui tekstur, konstruksi, dan cara setiap pakaian mengikuti gerak tubuh pemakainya.



Palet warna pun memperkuat narasi tersebut. Nuansa pasir, krem, putih, cokelat muda, hingga hijau lembut menciptakan suasana yang tenang dan hangat. Warna-warna ini tidak dimaksudkan untuk menjadi pusat perhatian, melainkan membangun harmoni yang membuat setiap material berbicara dengan sendirinya.
Yang paling menarik dari koleksi ini bukanlah satu look tertentu, melainkan konsistensi cara Hermès memandang luxury. Saat banyak rumah mode menawarkan identitas baru setiap musim, Hermès justru memperlihatkan bahwa evolusi tidak selalu harus hadir dalam bentuk perubahan yang drastis. Kemewahan dapat tumbuh melalui penyempurnaan yang dilakukan secara terus-menerus, hingga setiap detail mencapai kualitas terbaiknya.

Koleksi ini tidak mengejar sensasi sesaat, jauh dari kata trendy, tetapi membangun lemari pakaian yang mampu bertahan melintasi musim dan waktu. Filosofi tersebut terasa semakin bermakna karena menjadi penutup perjalanan panjang Véronique Nichanian di Hermès—sebuah akhir yang tidak dipenuhi nostalgia, melainkan keyakinan bahwa nilai-nilai yang ia bangun akan terus hidup.
Apakah pengganti Nichanian, Grace Wales Bonner, mampu meneruskan prinsip-prinsip yang dianut rumah mode yang sudah berdiri hampir 200 tahun ini?






