Setiap rumah mode memiliki cara berbeda untuk menjelaskan identitasnya. Ada yang memilih pertunjukan spektakuler, ada yang menonjolkan siluet baru, sementara Berluti mengambil jalur yang jauh lebih sunyi. Presentasi Spring/Summer 2027 bertajuk Impressions et Sensations bukan sekadar memperkenalkan koleksi terbaru, melainkan mengajak pengunjung memahami bagaimana sebuah karya lahir dari rangkaian inspirasi, keahlian, dan pengalaman yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Presentasi yang kembali digelar di Fondation Simone et Cino Del Duca, Paris, memperlihatkan proses kreatif Berluti sebagai perjalanan dari sebuah kesan menuju sebuah objek. Inspirasi diterjemahkan menjadi bentuk, emosi berubah menjadi material, sementara craftsmanship menjadi bahasa yang menghubungkan keduanya. Pendekatan ini membuat setiap sepatu, tas, maupun pakaian terasa memiliki cerita sebelum akhirnya dikenakan.


Tema taman menjadi benang merah koleksi musim ini. Namun Berluti tidak memandang taman sebagai sumber motif dekoratif semata. Cahaya yang menembus dedaunan, tekstur bunga, perubahan warna sepanjang hari, hingga pertumbuhan alami tanaman diterjemahkan menjadi eksplorasi material, bordir, permainan patina, dan detail konstruksi yang sangat presisi. Bunga seolah tumbuh dari kantong jaket, sulaman muncul sebagai bagian alami dari pakaian, sementara sepatu Galet Bloom mengambil inspirasi dari lekuk organik bunga arum yang diterjemahkan menjadi bentuk yang nyaris seperti karya pahatan.

Eksplorasi tersebut kembali menegaskan satu kekuatan utama Berluti yang telah menjadi identitasnya selama puluhan tahun: seni patina. Teknik pewarnaan khas rumah mode ini tidak hanya memberi warna pada kulit Venezia, tetapi juga membangun kedalaman visual melalui lapisan demi lapisan warna yang menyerupai sapuan kuas para pelukis Impresionis. Hasil akhirnya bukan sekadar permukaan kulit yang indah, melainkan karakter yang terus berubah mengikuti cahaya dan waktu.
Percakapan kreatif dengan The Little Prince karya Antoine de Saint-Exupéry memperluas narasi tersebut. Alih-alih menjadikan kisah legendaris itu sebagai elemen dekoratif, Berluti menemukan kesamaan nilai yang terasa sangat alami. Keduanya berbicara tentang perhatian terhadap hal-hal kecil, penghargaan terhadap alam, serta keyakinan bahwa sesuatu yang paling berharga sering kali tidak terlihat secara kasat mata. Karakter dan ilustrasi dari buku tersebut kemudian hadir secara subtil pada tas, sepatu, hingga aksesori, tanpa menghilangkan identitas khas Berluti.


Pesan itu terasa semakin kuat ketika presentasi mencapai bagian akhirnya. Berluti memilih menampilkan produk-produk lama yang telah direstorasi oleh para pengrajin mereka. Pilihan ini menjadi pengingat bahwa kemewahan tidak berhenti pada momen pembelian. Sebuah benda memperoleh nilai yang lebih besar ketika terus digunakan, dirawat, dan menyimpan jejak perjalanan pemiliknya. Komitmen bahwa hampir seluruh produk Berluti dapat diperbaiki menjadi bukti bahwa keberlangsungan dan hubungan emosional memiliki posisi yang sama pentingnya dengan desain itu sendiri.

Spring/Summer 2027 bukanlah koleksi yang berusaha mengejutkan lewat bentuk-bentuk baru atau eksperimen yang berlebihan. Berluti justru memperlihatkan kepercayaan diri sebuah maison yang memahami akar identitasnya. Fokusnya bukan menciptakan trend sesaat, melainkan memperkuat gagasan bahwa luxury sejati lahir dari kesabaran, keterampilan tangan, dan benda-benda yang mampu menemani seseorang selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, Impressions et Sensations mengingatkan bahwa produk terbaik bukan hanya sesuatu yang indah untuk dilihat, tetapi juga memiliki kemampuan membangun hubungan emosional yang semakin kaya seiring berjalannya waktu.







